Selasa, 27 Maret 2012

Garuda di Dadaku dan Mitologi yang Tersisa Dari “Kotak Pandora”


Santa Cruz (Jakarta) - Petualangan untuk meraih emas sebagai standar terbaik dalam ajang  yang dipertandingan selama Sea Games-XXVI, melahirkan sejumlah kisah yang harus dibanggakan serta ditangisi. Semua cabang olahraga yang dipertandingkan dalam acara dua tahunan kegiatan olahraga Asean memacu animo sejumlah orang untuk terlibat di dalamnya.

Tetapi di antara sekian cabang olahraga yang dipertandingkan sepak bola masih menjadi gandrung dan diminati dari semua kalangan termasuk di ajang Sea Games-XXVI.

Di ajang Sea Games-XXVI Sepak bola Indonesia khusus U23 telah menjadi gebyaran atraksi olahraga  yang melahirkan gerakan massa dalam kepungan sorak-sorai di dadaku serta melahirkan ekstrimisme untuk mendapat restu tertinggi yang disebut KEMENANGAN. Gerakan massa dapat terpotret dari merahnya warna dominan di dalam gelora stadion Bung Karno saat pertandingan final  antara Tim Garuda Muda dan Harimau Malaya setelah sebelumnya diwarnai dengan amukan radikal suporter yang melempar molotov di loket penjualan karcis.

Perjuangan pasukan garuda U-23 yang diasuh oleh Rahmad Darmawan atau RD, Senin,21 November kembali menoreh kisah kelabu dalam sepak bola Indonesia setelah penantian dalam waktu yang panjang kurang lebih 20 tahun . Torehan kemenangan yang pernah dipertontonkan oleh tangan ajaib Eddy Harto di Manila pada 1991 ternyata tidak dapat terwujud oleh putra-putra garuda setelah dibekuk oleh tim Malaysia dalam pertandingan yang cukup dramatis. Malaysia kembali menjadi negara yang menguburkan mimpi-mimpi Indonesia  untuk meraih kemenangan dalam pertandingan yang amat bergengsi ini setelah sebelumnya juga menakluk Indonesia dalam kejuaraan final piala AFF 2010.

Dengan kekalahan ini Indonesia harus menelan pil pahit setelah  pada final 1997 di Senayan, tim 'Merah Putih' juga kalah 2-4 dari Thailand.  Kekalahan Garuda Muda U23 menambah torehan yakni hasil kekalahan ketiga dari lima penampilan timnas di partai pamungkas serta dua pertandingan membuahkan emas, yakni SEA Games 1987 di Jakarta dan SEA Games 1991 Manila. Kini yang tersisa layaknya  kisah mitologi pandora adalah HARAPAN. Harapan ini  menjadi hal yang harus mendapat penekanan agar pil pahit kekalahan tidak harus ditelan oleh pasukan garuda. Tetapi di mana korelasi antara mitologi Yunani dan tragedi kekalahan garuda Indonesia?

Mitologi Yunani tentang kotak Pandora sebenarnya terlahir dari keinginan besar dari Zeus untuk memiliki Aprhodite.  Untuk itu Zeus memerintahkan seorang dewa yang dikenal buruk rupa tapi memiliki keahlian seni yang mumpuni untuk membuat sebuah patung perempuan. Nama dewa itu haphaestus. Dia sendiri adalah anak Zeus dari hasil hubungan dengan Hera. Karena dia memendam asmara tak kesampaian dengan aprhodite, maka ia membuat patung perempuan yang kecantikannya menyerupai aphrodite.

Penciptaan patung tersebut juga dipenuhi berkah dari dewa-dewi lain. Aphrodite menganugerahinya kecantikan, keanggunan dan gairah. Hermes memberinya kecerdikan, keberanian dan kemampuan untuk membujuk. Demeter menunjukkannya cara memelihara taman. Athena mengajarinya ketangkasan dan memberi roh pada pandora. Apollo mengajarinya bernyanyi dengan merdu dan memainkan alat musik petik. Poseidon memberinya kalung mutiara dan kesaktian agar tak pernah tenggelam. Horae menambah daya tarik pandora dengan menghiasi rambutnya dengan rangkaian bunga dan tumbuhan lain untuk membangkitkan ketertarikan para pria padanya. Hera memberinya rasa ingin tahu. Zeus membuatnya nekat, nakal dan suka bermalas-malasan.

Zeus senang dengan kesempurnaan patung itu dan lantas memberi patung itu kehidupan. Patung itu sendiri bentuknya lebih kecil dari ukuran manusia. Patung yang sudah diberi kehidupan itu diberi nama pandora. Oleh zeus, pandora dititipi pula sebuah kotak rahasia yang tak boleh dibukanya. Zeus lantas menghadiahkan patung itu pada Ephimetus.  Ephimetus telanjur menyukai dan mencintainya karena pandora memang sangat cantik. Singkat kata, pandora dan ephimetus hidup berdampingan. Pandora sendiri hingga beberapa lama mampu menaati perintah untuk tidak membuka kotak itu. Tapi, lama kelamaan, pandora penasaran dengan apa isi kotak yang dititipkan padanya.

Maka dibukalah kotak tersebut. Dari dalam kotak, berhamburanlah segala macam keburukan, seperti penyakit, wabah kesedihan dan keputusasaan. Sejak itu, bumi mulai mengenal penyakit dan segala keburukan hidup lainnya. Hanya saja, ternyata, di dalam kotak itu juga masih ada satu benda lain. Benda itu kecil bentuknya. Namanya: “harapan”. Benda inilah yang kelak digunakan manusia di bumi untuk terus bertahan dari segala macam penyakit, wabah, kesedihan, dan kegagalan.

Mitologi yunani Yunani yang dikisahkan secara lisan ini sebenarnya mengandung pesan bagi semua pecinta sepak bola terutama tim garuda muda bahwa kita masih punya satu hal untuk membenahi dari semua hal yang telah meneteskan air mata kita bahkan merenggut nyawa yakni HARAPAN untuk jadi pemenang di kancah sepakbola antarnegara.  Mitologi yang secara etimologis  berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari 2 kata  "Muthos" yang dalam bahasa yunani berarti sebuah seni bahasa yang menjadi ritual dan "Logos"  yang berarti sebuah kata, sabda, firman, cerita atau argumen yang meyakinkan sebenarnya menekankan bahwa dalam segala tragedi yang dialami termasuk kekalahan dalam kancah kompetisi dunia ada satu hal yang membuat orang untuk bertahan dan menang adalah harapan. Tetapi bagaimana harapan ini dibangun agar ia menjadi riil tanpa terbuai dalam mimpi semu?

Kisah perjalanan sepak bola Indonesia selama dalam masa harapan untuk menjadi pemenang  menarik untuk dikaji. Pertama, pasca kemenangan dalam Sejarah SEA Games mencatat dua kali juara dicetak skuad Garuda Merah-Putih lewat kaki emas Ribut Waidi di Jakarta pada 1987 dan tangan ajaib Eddy Harto di Manila pada 1991  dengan Malaysia, tim sepak bola seakan tertidur. Perjalanan untuk bangkit justru berlangsung setelah rentang waktu lama bahkan hampir kisah patriot sebagai finalis dalam ajang sepak bola Asean terlupa untuk dikisahkan. Kedua, masa pembenahan setelah kekalahan-kekalahan selama ini tidak diikuti dengan kaderisasi pemain yang berkesinambungan. Sebagai contoh nama-nama pemain yang melejit karena aksi individulistis yang patut diacung jempol dari tiga putra cendrawasih justru hadir kala ajang bergensi dipertaruhkan. Sebelumnya mereka harus terbang bagai garuda yang tak bersarang.

Wajar kalau akhirnya mereka harus bisa berjuang dalam tuntutan dengan apa yang dikatakan penyair Libanon: terbang dengan sayap-sayap patah. memulai debut dalam perebutan emas Sea Games dalam waktu latihan yang terbatas dan singkat. Mungkin dasar inilah yang membuat Yongki Ari wibowo menjadi sulit untuk dipersandingkan dengan aksi atraktif dari Titus Bonai, Patrick Wanggai dan Oktovianus Manianni. Ketiga, usaha untuk membangun kepercayaan anak-anak  negeri untuk mengharumkan nama bangsa sempat tercoreng dengan kisruh dalam tubuh PSSI yang disinyalir marak dengan motif untuk meraih dan memenuhi ego segelintir orang hingga terjadi perebutan. Keempat, aksi perjuangan para pasukan garuda kadang diplintir dengan aksi-aksi yang tidak sportif dari penonton bahkan aksi ekstrim yang mencoreng nama bangsa. Kisah bom molotov di loket pembelian dan keprihatinan pelatih Iran Carlos Queiroz saat melihat menurunnya suporter Indonesia ketika tim senior terus menelan pil kekalahan adalah contoh riil dari kelemahan tersebut.

Hal ini terlihat saat menghadapi Iran di SUGBK (1-4), Bambang cs seolah berjuang sendirian. Padahal suporter adalah pemain ke-12. Perjuangan untuk memenangkan laga juga bukan hanya beban para pemain dan pelatih, namun juga fans. Seperti nyanyian suporter Liverpool, “You’ll Never Walk Alone.” Konon nyanyian ini yang membuat Steven Gerrard cs bangkit saat tertinggal 3-0 dari AC Milan di final Liga Champions 2005 lalu, dan akhirnya tampil sebagai pemenang. Dalam konteks ini persebakbolaan U23 Indonesia unjuk kan gigihnya. Sekarang apa yang harus kita petik dari kisah kekalahan ini?

Kekalahan yang dialami tim U23 setidaknya membuktikan bahwa pembenahan dan kaderisasi para pesepak bola tidak ditentukan waktu yang lama tetapi terutama pada rutinitas yang tetap dan sistem manajemen yang kredibel dan akuntabel. Sehingga tindakan nyata yang harus dibangun sekarang adalah kepengurusan PSSI yang pasti dan mampu mengakomodasi kemampuan dan potensi pemain yang ada di tanah air melalui kegiatan-kegiatan olah raga sepak bola yang kompetitif dan tidak bersifat sentralistik. Kegiatan-kegiatan ini harus dibuat dalam perencanaan yang tetap dan pasti sehingga pada akhirnya para pemain-pemaina bintang tidak terlahir hanya sebagai kebetulan ada di kala sebuah kompetisi antar negara dibuat.

Konsekwensi untuk meraih hal ini dan menjadi  tuntutan yang harus dibuat saat ini adalah pembenahan dan evaluasi menyeluruh atas segala ketimpangan berkaitan dengan perkembangan sepak bola tanah air. Dan inilah yang menjadi rahasia kemenangan Malaysia atas Indonesia seperti yang dikatakan pelatihnya Ong Kim Swee, bahwa sukses mempertahankan gelar juara SEA Games dari cabang sepakbola bukan hal mudah karena melalui sebuah proses jangka panjang yang dilakukan Federasi Sepakbola Malaysia. "Kemenangan ini sangat manis karena ini sudah yang kedua kali, ini membuktikan bahwa apa yang diraih Malaysia tidak hanya kebetulan tapi melalui sebuah proses panjang  yang dilakukan oleh akademi kami," kata Ong Kim Swee saat konferensi pers usai pertandingan di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Kini kemenangan yang hendak diraih oleh Garuda Muda tinggal harapan. Tetapi kita perlu pembenahan dalam segala aspek agar kenangan yang membanggakan Indonesia diharapkan kembali lagi. Pastikanlah bahwa sekali waktu para Garuda Muda menyepuh kepak-kepak sayap perkasanya dengan torehan medali emas juara di ajang kompetisi bergengsi dan tidak harus terbang dengan "Sayap-sayap Patah". (EL)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar