Selasa, 27 Maret 2012

Kisah Kepahlawanan Dari Tragedi Banjir Bandang

Santa Cruz (Kulawi)- Seorang lelaki terlihat mengumpulkan beberapa peralatan dapur yang masih tertinggal di antara puing-puing bangunan rumahnya ketika dua warga lain menghampirinya.

"Sabar, sabar pak ya. Ini sudah kehendak dari Tuhan Yang Maha Kuasa," kata Hasan, Kepala Desa Bolapapu, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Selasa (6/12).

Kepala desa dan beberapa warga lainnya mencoba menghibur Hearling, lelaki yang tampak sedih karena banjir bandang yang menyapu seluruh rumah dan isinya pada Sabtu (3/12) sore, kecuali nyawa dia dan anak-isterinya itu.

"Yang penting jiwa bapak dan keluarga selamat," ujar Hasan lagi kepada warga Dusun III Desa Bolapapu, sekitar 80 kilometer selatan Kota Palu itu.

Hearling memeluk pak Hasan sambil menangis, dan berucap dengan nadah sedih; "kami mau tinggal di mana lagi." Rumah dan seluruh harta benda, termasuk surat-surat penting sertifikat tanah, akte, ijazah, semuanya habis diterjang banjir bandang, kata Hearling.

Ia menceritakan, sebelum bencana alam yang sangat mengerikan itu terjadi, dua hari sebelumnya wilayah Kecamatan Kulawi di guncang gempa bumi.

Guncangan gempa cukup kuat membuat kebanyakan warga berlari keluar rumah untuk menghindari rumah runtuh atau roboh.

"Tapi syukur guncangan gempa tidak membuat satupun rumah di Desa Bolapapu yang rusak," katanya.

Pada Sabtu (3/12), wilayah Kulawi sejak pagi hari diguyur hujan lebat, dan sesekali terdengar suara guntur dan petir di langit.

"Saya sempat berpikir jangan-jangan ada sesuatu yang akan terjadi, sebab tidak seperti biasa," kata ayah dua anak itu.

Kira-kira pukul 14.00 WITA, debit air sungai yang membelah dua Dusun III Pangana I, dan Pangana II Desa Bolapapu mulai bertambah besar. Warga yang tinggal di dekat sungai tenang-tenang saja.

Mereka pikir bahwa seperti biasa jika hujan deras, air sungai dipastikan besar, dan paling-paling hanya banjir biasa.

Iapun keluar rumah, lalu pergi melihat, dan memberi makan ternak peliharaannya di dekat sungai di atas permukiman penduduk Dusun Pangana.

Sementara ia memberi makanan kepada ternak babi, tiba-tiba terdengar suara gemuruh air yang besar. Ia mencoba melihat ke sungai, dan ternyata banjir mulai membesar.

Hearling kemudian berlari ke permukiman dan berteriak-teriak, 'banjir, banjir, awas ada banjir." Masyarakat langsung merespons. Mereka keluar rumah dan mencoba mengungsi ke tempat yang merasa anggap lebih aman.

"Saya dan istri serta anak-anak bersama warga lainya langsung meninggalkan rumah mencari tempat yang aman," ujarnya.

Saat berlari menyelamatkan diri itu, Hearling teringat kepada salah seorang warga yang sudah lanjut usia yang tinggal sendirian di rumahnya.

"Saya berlari kencang sambil berteriak banjir untuk menolong orang tua itu, tapi belum sampai di halaman rumah, saya diseret air," ujar Hearling lagi.

Saat diseret banjir bandang, Hearling berusaha menyelamatkan diri dengan memeluk sebatang pohon yang hanyut sembari berteriak-teriak; 'Tuhan, Tuhan.. tolong saya.' Ia kemudian tidak sadarkan diri, hingga beberapa jam kemudian dia ditemukan sudah ada di tepi sawah, kira-kira 300 meter dari lokasi tempatnya hanyut.

"Puji Tuhan, saya selamat karena mujizat Tuhan saja," ujar Hearling yang mengalami luka di kaki kanannya karena terseret banjir bercampur lumpur itu.

Merasa bersalah Hearling mengaku merasa sangat bersalah karena tidak bisa menyelamatkan seorang warga lanjut usia yang ditemukan meninggal dunia terkubur di lokasi bencana banjir bandang di Dusun Pangana.

"Saya sudah berusaha untuk menyelamatkan Ny Martha (60), tapi banjir bandang keburu menyeret saya," katanya.

Menurut dia, seandainya sedikit lebih cepat kemungkinan korban masih bisa diselamatkan.

Ny Martha atau biasa dipanggil Labo, kemudia ditemukan tim pencarian dan penyelamatan (SAR) bersama masyarakat, di Dusun Pangana, Desa Bolapapu pada Selasa (5/12).

Mayat Martha ditemukan sekitar pukul 09.30 WITA di antara puing-puing rumah yang rusak diterjang banjir. Proses evakuasi yang berjalan cukup sulit karena tempat penemuan mayat korban itu tertimbun lumpur dan bebatuan.

Tim SAR membutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk mengangkat jenazah korban karena medan yang sulit.

Mayat korban selanjutnya dibawa ke posko, dan diidentifikasi oleh tim medis posko bencana. Jenazah hari itu juga diserahkan kepada pihak keluarga yang kebetulan rumah duka tidak jauh dari posko bencana di Dusun Bomba, masih dalam wilayah Desa Bolapapu.

Jika tidak ada aral melintang, hari ini juga jenazah korban akan dikebumikan di tempat pemakaman umum (TPU) di sekitar Dusun Bomba.

Saat ditemukan, kondisi jasad korban sulit dikenali fisik. Pihak keluarga dapat mengenali korban dengan melihat baju yang dikenakan.

Dengan begitu, tinggal satu warga yang masih dinyatakan hilang yakni Ny Theresia. Theresia diduga tertimbun lumpur dan material banjir di rumahnya di Dusun Pangana.

Hingga memasuki hari keempat musibah banjir bandang di Desa Bolapapu, tim relawan sedang memfokuskan pencarian Theresia di sekitar rumah yang kini telah porak poranda akibat diterjang banjir.

Hingga kini, tim SAR telah menemukan lima mayat warga yang tewas akibat banjir yang terjadi pada Sabtu (3/12) sekitar pukul 15.30 WITA. Pada Minggu (4/12) pukul 08.00 WITA tim SAR menemukan tiga mayat yakni Suci, Murni, dn Melati.

Hari yang sama Minggu (4/12), tim SAR kembali menemukan mayat Kaharudin sekitar pukul 11.00 WITA. Proses evakuasi korban membutuhkan waktu sekitar satu jam karena tertimbun material yang terbawa banjir termasuk batang-batang pohon.

Keluarga korban segera memakamkan mayat itu sore harinya. Kini tinggal satu lagi warga yang hilang akibat banjir bandang belum diketemukan.

Banjir terbesar Kepala Desa Bolapapu Hasan mengatakan, bencana alam banjir bandang yang memporak-porandakan perkampungan penduduk di tiga dusun Desa Bolapapu pada Sabtu (3/12) merupakan terbesar selama ini.

Ia mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir ini sudah tiga kali terjadi banjir di Desa Bolapapu, tapi airnya hanya meluap ke rumah-rumah penduduk yang ada di sekitar daerah aliran sungai (DAS).

Namun, katanya, banjir kali ini benar-benar dahsyat hingga meluluh-lantahkan permukiman penduduk yang dihuni sekitar lebih 600 kepala keluarga (KK) itu.

Selain mengakibatkan 147 warga kehilangan tempat tinggal, dan harta kekayaan mereka habis, juga merenggut enam korban jiwa, dan satu di antaranya sampai sekarang ini belum juga diketemukan oleh tim SAR.

Banjir bandang kali ini juga menghancurkan satu gedung SMP di Desa Bolapapu, serta jaringan listrik dan jalan yang menghubungkan Dusun Pangana-Tamurai putus total. Jalur jalan yang menghubungkan dua dusun di Desa Bolapapu hingga kini masih terisolir.

Begitupula aliran listrik di wilayah itu terputus, karena banyak tiang dan jaringan listrik roboh diterjang banjir bandang.

Kades Hasan mengatakan, banjir bandang yang melanda wilayahnya oleh masyarakat menyebutnya "tzunami darat".

Karena memang banjir bandang datang seperti gelombang tzunami yang beberapa tahun lalu menghajar Nanggroe Aceh Darusalam, kata Hasan.

Ia juga mengatakan, pada tahun 1927 bencana banjir yang hampir sama pernah juga melanda Desa Bolapapu. Hanya saja, katanya, tidak separah seperti yang terjadi menjelang akhir Tahun 2011 ini.

Kades Hasan hanya berharap warganya tetap sabar menghadapi bencana ini merupakan cobaan erberat dari Tuhan ang Maha Kuasa.(El)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar