Selasa, 27 Maret 2012

Meneropong Seni Ukir Suku Asmat

Santa Cruz (Jayapura) - Seni ukir Asmat  adalah salah satu kekayaan  budaya nasional yang telah dikenal luas baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Kekhasan ukiran asmat yang diwarnai oleh pola yang unik dan naturalis membuat ukiran Asmat menjadi buruan seniman dan pecinta seni baik sekadar untuk menikmati maupun untuk mengoleksinya.


Makna naturalis, mistis dari setiap ukiran yang ada serta kerumitan dalam proses pembuatannya membuat karya ukir mereka bernilai tinggi dan banyak diminati orang.

Bagi orang Asmat, mengukir merupakan bagian dari ritual religiositas mereka. Mengukir adalah sebuah tradisi kehidupan dan ritual yang terkait erat dengan spiritualitas hidup dan penghormatan terhadap nenek moyang.

Ketika Suku Asmat mengukir, mereka tidak sekedar membuat pola dalam kayu tetapi mengalirkan sebuah spiritualitas hidup.

Ukiran Asmat dipercaya sebagai mediator yang menghubungkan antara kehidupan masyarakat dengan leluhur mereka.  Melalui ukiran inilah orang Asmat berkomunikasi dengan arwah keluarganya yang sudah meninggal. Setiap ukiran yang mereka buat mewakili seseorang yang telah meninggal dunia.

Sedangkan nilai naturalis yang terkandung dalam seni  ukir Asmat karena yang menjadi model ukiran adalah mahluk hidup seperti burung, ikan, katak, pohon, biawak atau manusia yang diwujudkan dalam ukiran patung kayu mereka.

Dari segi model, ukiran suku Asmat sangat beragam, mulai dari patung manusia, perahu, panel, perisai, tifa, telur kaswari sampai ukiran tiang. Suku Asmat biasanya mengadopsi pengalaman dan lingkungan hidup sehari-hari sebagai pola ukiran mereka, seperti pohon, perahu, binatang dan orang berperahu, orang berburu dan lain-lain.

Yang paling istimewa dan unik adalah bahwa setiap karya ukir tidak memiliki kesamaan atau duplikatnya karena mereka tidak memproduksi ukiran berpola sama dalam skala besar. Jadi, kalau kita memiliki satu ukiran dari Asmat dengan pola tertentu, itu adalah satu-satunya yang ada karena orang Asmat tidak membuat pola sama dalam ukirannya. Bentuk boleh sama, misalnya perisai atau panel, tetapi soal pola pasti akan berbeda. Itulah keunikan ukiran suku Asmat.

Ukiran tradisional Asmat yang paling spektakuler adalah tiang atau tugu leluhur yang disebut Bisj. Ukiran ini umumnya tersusun dari lebih dari dua figur. Setiap figur diukir di atas figur yang lain. Masing-masing figur menggambarkan keluarga yang telah meninggal. Dahulu, Bisj dibuat dalam upacara tradisional yang dimeriahkan dengan pesta pemenggalan kepala dan kanibalisme (head hunting) agar arwah leluhur tenang.

Setelah wilayah Papua menjadi bagian RI tahun 1963, pemerintah melarang pembuatan Bisj untuk mencegah upacara head-hunting dan kanibalisme. Lambat laun tradisi Bisj mulai memudar. Karena mengukir memiliki peran penting dalam keseharian hidup masyarakat Asmat, di setiap kampung dapat dijumpai warga Asmat yang melakukan kegiatan ini secara berkelompok. Biasanya mereka melakukan kegiatan ini di Jeu, rumah tradisional Asmat.

Masyarakat Asmat terdiri dari 12 sub etnis, dan masing-masing memiliki ciri khas pada karya seninya. Begitu juga dengan kayu yang digunakan, ada juga perbedaannya. Ada sub etnis yang menonjol ukiran patungnya, ada yang menonjol ukiran salawaku atau perisai, ada pula yang memiliki ukiran untuk hiasan dinding dan peralatan perang. (El)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar