Jumat, 04 Mei 2012

Soegija, Imam Pribumi Pertama Yang Jadi Uskup

Santa Cruz (Jakarta) - Sutradara Garin Nugroho melibatkan 2.775 pemain untuk berlakon dalam film barunya, "Soegija", yang berkisah tentang pahlawan nasional Mgr. Soegijapranata. 


Menurut Garin, film yang menghabiskan biaya hingga Rp. 12 miliar itu berkisah tentang tokoh Katholik namun film itu bisa dinikmati semua kalangan masyarakat karena lebih menonjolkan sisi kemanusiaan. Lantas siapakah yang menjadi inspirasi dari lahirnya film tersebut? 

Soegija adalah nama kecil dari Mgr. Soegijapranata, SJ dan merupakan salah satu murid Romo van Lith yang berhasil dijaring oleh misionaris Belanda tersebut saat kunjungannya ke sekolah-sekolah rakyat kaum pribumi. Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ atau akrab disapa Romo Kanjeng lahir di Surakarta pada 25 November 1896 sebagai anak kelima dari sembilan bersaudara.

 Ayahnya asli Yogya sedang ibunya dari Surakarta penganut kebathinan, sementara kakeknya dari garis ayah adalah seorang kyai yang terkenal dari Yogya bernama Kyai Soepa. Soegija tumbuh seperti remaja sebayanya yang tak lepas dari kenakalan-kenakalan remaja. Ia bahkan sering terlibat perkelahian terutama karena tidak menerima pelecehan dari anak-anak Indo atau Belanda yang memandang rendah anak pribumi. 

Selepas Sekolah Rakyat (SR) Soegija melanjutkan pendidikan di sekolah Katolik Kolose Xaverius Muntilan setelah berhasil meyakinkan orang tuanya dengan memberikan alasan kuat bahwa mutu pendidikan di Muntilan terjamin karena dititikberatkan untuk belajar, sebab para romo mengajar siswa untuk pandai bukan pemaksaan agama (dalam hal ini Katolik). Sejak masa awal saat memasuki pendidikan yang dikelola van Lith, Soegija menyatakan tidak ingin menjadi Katolik. Ia menyatakannya tidak hanya kepada ayahnya tetapi juga kepada Romo Mertens, Romo pamongnya di Muntilan. Bahkan ia mengejek Romo Belanda datang ke Jawa, Indonesia hanya untuk mengeruk kekayaan setelah itu akan pulang ke negeri Belanda.

 Baru setelah setahun tinggal di Muntilan, Soegija kemudian mengikuti pelajaran magang untuk agama Katolik, mulanya lebih didorong oleh keinginan tahunya. Di asrama Soegija sering berdiskusi dengan beberapa romo yang membuatnya merenung saat mengetahui para romo cukup senang mendapat kesempatan mengabdikan diri bagi sesama dengan mengajar dan mempersiapkan tunas-tunas masa depan meski tidak digaji. 

Satu tugas mulia sekaligus cerminan pengabdian kepada Tuhan yang mengusik pikirannya. Kekeluargaan dan keakraban yang terjalin antara guru dan murid serta pelatihan siswa menjadi manusia yang bertanggung jawab di kehidupan asrama pun ikut berpengaruh dalam pembentukan karakter dan cara pandangnya. Lambat laun Soegija yang mulai merasakan adanya perubahan dalam dirinya terutama cara hidup dan doanya, meminta izin kepada romo untuk mengikuti pelajaran Katolik di sekolah meski sempat tidak diijinkan oleh romo. Pada 24 Desember 1910 Soegija memantapkan hati mendapat sakramen baptisan dengan nama baptis Albertus.


 Soegija sangat bersyukur karena kedua orang tuanya bisa menerima pilihannya asalkan dia bisa hidup selaras dengan keyakinan baru yang dipilihnya meski bertentangan dengan keinginan mereka. Soegija yang menguasai bahasa Belanda, Inggris, Yunani dan Latin menerima sakramen Imamat dan ditahbiskan sebagai Imam pada 15 Agustus 1931 di Maastricht, Belanda dan menambahkan sebuah kata pada namanya menjadi Albertus Soegijapranata SJ. Pada 6 November 1940, Soegija yang kala itu Pastor di Paroki Bintaran menerima pentahbisan menjadi Vikaris Apostolik dengan gelar Uskup Danaba di Gereja Randusari, Semarang berdasarkan mandat dari Kardinal Montini dari Vatikan. Dan menjadi imam pribumi pertama yang menjadi Uskup. Tidak mudah baginya untuk menerima salib mengemban tugas sebagai pribumi pertama yang menjadi Uskup Agung di masa perang awal kemerdekaan; sebagai seorang pemimpin umat sekaligus pejuang kemanusiaan. (el)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar