Santa Cruz (Jakarta) - Siapa Romo Soegijapranata yang mendapat gelar Pahlawan Nasional hingga kisah kepemimpinan dan perjuangannya layak diangkat ke layar lebar dan menjadi tokoh utama dalam film epik Soegija garapan sineas sekaliber Garin Nugroho?
Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ adalah Vikaris Apostolik Semarang, yang kemudian menjadi Uskup Agung Semarang. Ia juga merupakan Uskup pribumi Indonesia pertama sekaligus seorang Pahlawan Nasional RI, berdasarkan SK Presiden RI no 152 tahun 1963 tertanggal 26 Juli 1963.
Mgr. Soegijapranata adalah uskup yang mempunyai motivasi dalam memilih jalan hidupnya untuk menjadi imam bukanlah melulu alasan religius saja tetapi sekaligus juga didorong oleh nasionalismenya.
"Keputusanku untuk menjadi imam itu karena didorong untuk mengabdi bangsa. Saya telah mencari beberapa kemungkinan profesi, tetapi tidak ada yang lebih memungkinkan untuk memuliakan Tuhan dan sekaligus untuk mengabdi bangsa selain menjadi imam," tulis Sang Uskup.
Semangat pengabdian kepada Gereja, negara dan bangsa ini secara terus menerus ditunjukkan dalam seluruh perjalanan hidup selanjutnya. Ketika pemerintah Indonesia menghadapi serbuan Agresi Belanda dan memindahkan ibukota negara ke Yogyakarta, Mgr. Soegijapranata menunjukkan solidaritasnya dengan memindahkan pusat pemerintahan keuskupannya dari Semarang ke Bintaran Yogyakarta.
Beliau juga mengurus kepentingan keluarga Presiden Soekarno yang ada dalam pengungsian saat itu. Selain itu semangat tersebut ditularkan pula melalui surat-suratnya serta berbagai pidatonya dalam berbagai kesempatan baik dalam konferensi maupun melalui radio.
Bahkan sejak awal masa kepemimpinannya sebagai uskup Mgr. Soegijapranata berharap bahwa umat katolik tidak menjadi orang yang hanya berhenti sebagai orang yang hanya devotif pada hal-hal seputar liturgi, melainkan bergulat dengan kekatolikannya dalam kehidupan sehari-hari.
"Memang, tidak sedikit jumlahnya orang yang kemudian menjadi luntur, menjadi sama seperti kanan-kirinya, hilang kekhasannya sebagai Katolik. Sebagian malah menjadi enggan kalau ketahuan bahwa dirinya Katolik; bangga bahwa dapat menyatu dengan cara menyamar, berkulit bunglon. Betapa kasihan," katanya dalam sambutan di dalam majalah Swaratama yang pernah dipimpin.
Cara hidup katolik yang dimaksud oleh Mgr. Soegija bukanlah yang terpisah dari kegiatan hidup sehari-hari. Berulang kali dalam surat gembalanya sebagai uskup, menekankan mottonya yakni “100% Katolik dan 100% Indonesia.”
“Jika kita benar-benar Katolik sejati sekaligus kita juga patriot sejati. Karenanya kita adalah 100% patriot, karena kita adalah 100% Katolik” ungkapnya dalam pidato pembukaan KUKSI (Konggres Umat Katolik Seluruh Indonesia) II di Semarang tanggal 27 Desember 1954.
Untuk menanamkan kesadaran tentang “100% Katolik, 100% Indonesia” tersebut Mgr. Soegijapranata berkali-kali membeberkan pengertian tentang Gereja dan tentang negara serta peran keduanya secara timbal balik sebagai kerangka pemahamannya.
Dengan kedua pemilahan tugas dan tanggung jawab tersebut diungkapkan bahwa “negara menyiapkan suasana yang sangat penting demi mekarnya hidup keagamaan dan kesusilaan. Di sisi lain gereja memberikan dasar yang kokoh untuk hidup kemasyarakatan dan pemerintahan”.
Jabatan dalam bidang keagamaan bukanlah penghalang bagi Soegija untuk ikut terlibat dalam perjuangan melawan penjajah. Tahun 1942 Jepang mulai masuk ke Indonesia, mereka menyita semua yang berbau Belanda. Para imam, suster dan pekerja di kalangan gereja pun tak luput ditangkap, dijadikan sandera bahkan dibunuh.
Ketika Gereja Randusari hendak disita oleh Jepang untuk dijadikan markas, Soegija dengan tegas menolak,”ini adalah tempat yang suci. Saya tidak akan memberi ijin. Penggal dulu kepala saya maka tuan baru boleh memakainya.”
Saat meletus perang lima hari melawan Jepang untuk mempertahankan kemerdekaan di Semarang (15-20 Oktober 1945), Soegija bertahan tidak meninggalkan kota meski cap pengkhianat dialamatkan kepada mereka yang tidak mau mengungsi.
Soegija menjadi salah satu mediator pada pertemuan antara pemuda pejuang Indonesia dengan tentara Sekutu dan Jepang di serambi pastori Gedangan dan yang mendesak dilakukannya gencatan senjata.
Lewat Soegija, kita bisa melihat bahwa seorang pejuang tidak semata memanggul senapan. Diplomasi politik lewat pidato untuk mendesak gencatan senjata maupun tulisan-tulisannya di media luar negeri tentang kondisi sebenarnya yang terjadi di Indonesia berupa kecurangan dan kebengisan Belanda terhadap rakyat Indonesia masa itu membuat mata dunia terbuka.
Soegija meninggal 22 Juli 1963 di Nederland, Belanda dan dimakamkan di TMP Giritunggal, Semarang, Jawa Tengah namun semangat kepahlawanan, nasionalisme, keteladanannya tetap hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi setelahnya.
Atas jasanya, Soegija mendapatkan gelar kehormatan dari pemerintah pada 18 Januari 1950 seperti yang terpatri di atas nisannya sebagai Vikaris Angkatan Perang Indonesia.
Soegija adalah sosok pimpinan yang didambakan rakyat, ikut ambil bagian berjuang untuk negaranya, hidup selaras dalam keberagaman budaya, menjunjung kemanusiaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah memudarnya tokoh panutan Indonesia. (el)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar