Santa Cruz (Larantuka) - Kisah perburuan ikan paus telah lama terdengar di daratan Pulau Flores. Satu- satu tempat yang menjadikan tradisi ini terkenal adalah daerah Lamalera Kabupaten Lembata Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Namun kisah aksi para Lamafa (Penikam Ikan Paus) ternyata bukan hanya ada di tempat ini. Kisah nelayan pemburu ini juga ada di daerah yang juga berada di ujung timur pulau Flores ini. Penasaran kan?
Kala itu matahari hampir hilang di peraduannya. Saya sedang santai ria menatap anak-anak yang berloncat ria menikmati segarnya lautan sebelum malam membawa mereka dalam mimpi tanpa tepi. Sekelompok nelayan mulai beraksi membunyikan kapal-kapal yang dibalut jala putih dan kemudian hilang di kejauhan.
Entah berawal dari kisah apa, akhirnya kebersamaan aku di Kota Reinha Larantuka yang terkenal dengan tradisi semana santa ini menabur satu cerita tentang perburuan ikan paus ini. Awalnya bertolak dari tradisi masyarakat Lamalera itu. Ternyata selain Lamalera, nelayan-nelayan Lamakera juga mempunyai kebiasaan berburu Paus.
Desa Lamakera sendiri terletak di Pulau Solor, yang masih masuk ke dalam Kabupaten Flores Timur. Sebagian besar warga Lamakera sendiri beragama muslim.
Cara tradisional menangkap Paus biasa disebut Kotoklema. Kotoklema itu adalah bahasa Lamakoholot yang terdiri dari dua kata yang digabung menjadi satu. Kotok artinya kepala, kelema artinya melekuk ke dalam. Jadi Kotoklema adalah kepala yang melekuk ke dalam.
Perahu layar yang digunakan untuk memburu ikan paus tersebut dilengkapi dengan alat tikam tangan yang disebut tempuling, tali panjang yang diikatkan pada mata tombak, dan ditambah bambu sepanjang 4 meter sebagai alat bantu tikam.
Dalam satu peledang biasanya berisi oleh minimal 3 crew dan orang yang khusus memegang peranan dalam menikam paus adalah juru tikam yang disebut balafaing.
Memang Desa Lamakera tidak begitu terkenal dibandingkan dengan Desa Lamalera dalam hal berburu paus, tapi sudah ada catatan bahwa desa ini pun juga mempunyai tradisi berburu paus, tetapi di Desa Lamakera tidak ada keharusan untuk berburu paus.
Tidak seperti di Lamalera yang hidupnya sangat bergantung sekali dengan ikan paus sebagai sumber makanan utama. Biasanya nelayan Lamakera yang berhasil menangkap paus, sebagian dagingnya dijual di Pasar Weiwerang Pulau Adonara. Selain itu masyarakat Lamakera tidak hanya berburu paus saja, tapi mereka juga berburu hiu dan lumba-lumba.
Letak desa Lamakera memang sedikit strategis yaitu daerah pertemuan arus, dan untuk menuju laut Sawu tidak begitu jauh. Masyarakat Lamakera punya kebiasaan yang unik, dalam menentukan kapan waktu yang baik untuk berburu paus, yaitu jika melihat awan yang menyerupai perut ikan paus yang putih, maka inilah saat yang tepat untuk berburu ikan paus.
Tapi saat ini jumlah pemburu paus menurun, salah satu penyebabnya adalah para generasi muda lebih memilih pekerjaan yang lain, daripada berburu paus. Selain itu generasi muda pun sudah mulai enggan belajar menikam ikan. Kondisi ini juga merupakan peluang yang baik bagi ikan paus untuk meneruskan kelangsungan hidupnya. (el)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar