Senin, 11 Juni 2012

Menilik Kesetiaan Inggit, Istri Bung Karno Dalam Monolog

Santa Cruz (Jakarta) - Teater Monolog Inggit merupakan pertunjukan dengan dukung Djarum Apresiasi Budaya yang mengisahkan sosok perempuan yang hampir terlupakan di balik perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. 

Happy Salma yang berperan sebagai Inggit Ganarsih saat mementaskan teater yang bertajuk Monolog Inggit di Gedung Teater Salihara, beberapa waktu lalu, ternyata jadi perbincangan menarik para sineas muda untuk terus berkarya. 

 Pasalnya, Happy Salma bisa memainkan secara apik memainkan dengan monolog Inggit, sebuah naskah yang merajut jalinan kisah asmara penuh kejutan. Pada akhirnya sesosok perempuan berani mengingkari rasa cinta demi harga diri, sebuah kisah keagungan perempuan. Inggit mengantar sekaligus menemani Bung Karno merebut kemerdekaan dari tangan penjajahan bangsa asing. Ia juga secara tidak langsung memberi semangat kepada Bung Karno ketika sang proklamator terpuruk dalam pembuangan. 

Dia menjadi sosok wanita yang sederhana. Namun, ia tegar sekaligus tegas dalam prinsip dan mampu berkata tidak demi sebuah harga diri serta kemuliaan. “Sebagai istri, tugasku sudah selesai. Dan sebagai perempuan, saya sudah mengambil hak saya untuk berkata ‘tidak’ pada kemauan seorang lelaki bernama Kusno,”kata Inggit dengan nada yang sukar dilukiskan. Ia lalu berjalan. Melepas bunga berwarna kuning yang tersemat di rambutnya. “Tapi satu hal yang ingin aku katakan padamu tentang Kusno, aku tetap menyayanginya,” ujar Inggit.

Diciumnya bunga itu, lalu meletakkan tepat di atas buku catatan yang ada di meja. Pelan-pelan lampu memudar. Gelap dan hening pun menerpa ruangan itu. Itulah klimaks pertunjukan Monolog Inggit, yang dimainkan secara apik oleh Happy Salma. Totalitas Happy Salma memerankan karakter tokoh Inggit Garnasih patut diacungi jempol. Happy menguatkan karakter Inggit dalam alur cerita yang sepenuhnya dinamis. 
 
 Inggit Garnasih adalah sosok perempuan yang selama ini menemani dan mengantar Soekarno sejak masih duduk sebagai siswa di THS hingga Soekarno berada di pengasingan. Soekarno (Inggit menyebutnya sebagai Kusno) bertemu Inggit di Bandung. Kala itu Inggit masih bersuami Sanusi, sebelum Kusno datang untuk menetap di rumahnya. 

Keduanya memang memiliki ketertarikan satu sama lain. Menurut Inggit, ketika pertama kali bertemu,Kusno adalah sosok yang sangat menyenangkan. “ Kusno itu anak muda yang menyenangkan. Dengan logat Jawanya, dia pandai benar bergaul dan tidak ingin dilayani berlebihan. Tambahan lagi, dia pemuda yang hangat dan periang. Beda benar dengan Kang Uci yang pendiam,” ungkap Inggit mengenang. Karena berada dalam satu rumah dan seringnya mereka bertemu pada akhirnya Kusno meminang Inggit.

 Entah apa yang dibicarakan Kusno dengan Kang Uci yang pada akhirnya justru Kang Uci menceraikan Inggit. Saat masa indah selesai, Kang Uci menjadi wali pernikahan mereka. Dalam monolog berdurasi hampir dua jam ini, perjalanan Inggit menemani Kusno diceritakan dengan kekuatan kalimat yang mengalir dan dinamis. Bagaimana ketika Inggit berkorban mengantarkan makanan hingga menyelundupkan buku tulis ke Lapas Sukamiskin membuat hati siapa saja tergetar.

 Inggit-lah yang selama 20 tahun di masa awal perjuangan Soekarno selalu setia menemani ke mana pun sosok proklamator itu berada. Dia pula yang menemani ketika berada dalam masa pembuangan. Hingga pada akhirnya Inggit memutuskan untuk berkata “tidak”pada suami yang ia cintai itu, ketika Kusno meminta izin Inggit menikahi Fatimah. 

 “Aku tahu diri.Tapi, bukan lantas karena takdirku itu aku harus menerima apa yang diinginkannya. Meski sekali lagi Kusno tadi bilang bahwa aku akan tetap menjadi perempuan dan istri utama. Tapi, itu tak berlaku bagiku.C eraikan aku atau tinggalkan Fatimah. Harga diriku lebih utama dari istana,” tutur Inggit. Happy Salma juga bermain cukup natural memerankan Inggit. Terkadang emosinya meledak-ledak kala cerita bergolak. Namun, ia memerankannya tidak berlebihan. Happy Salma cukup berhasil menciptakan suasana yang memancing emosi penonton. Hal demikian dengan sutradara Monolog Inggit, Wawan Sofyan. Set panggung dibuat sangat sederhana dengan hanya menampilkan meja kursi di sebuah ruangan dan satu lagi ranjang yang hanya dibatasi oleh kain gorden tipis berwarna putih. 
Wawan tempaknya hendak membedakan mana ruang privat dan ruang di mana Inggit menceritakan ke publik dengan batasan yang setipis kain putih tersebut. Meski begitu, terkadang pandangan penonton sedikit terhalang oleh kain, dan tidak bisa menikmati kemampuan akting Happy Salma secara utuh. Namun, semua itu tergantikan dengan kekuatan naskah, akting, set panggung sekaligus musikalisasi yang bergabung menyatu dalam pertunjukan yang sarat emosi. (el)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar