Santa Cruz (Jakarta) - Anak-anak punk atau pengamen yang biasanya berpenampilan nyentrik berharap mendapat pekerjaan meskipun mereka pesimistis di tengah tuntutan ekonomi yang semakin mendesak di kota Jakarta, sehingga mereka berharap kepada pemerintah mau memberikan mereka pekerjaan agar mereka tidak terus-menerus hidup di jalanan.
Salah seorang anak punk yang berada di kawasan Senen Jakarta Pusat, Senin (4/06), Iwan menyatakan bahwa ia berharap memiliki kehidupan yang layak meskipun mereka berasal dari keluarga miskin sehingga pada akhirnya membuat mereka putus sekolah sehingga mereka hidup di jalanan.
"Saya sih mau, punya pekerjaan biar ngga ngamen terus, saya juga berharap punya kehidupan yang layak tapi mau bagaimana lagi, hidup di Jakarta susah, sedangkan saya lulus sekolah aja ngga karena ngga punya uang, gimana mau dapet kerja," ujar Iwan.
Punk sendiri merupakan subbudaya yang lahir di London, Inggris. golongan punk terbentuk oleh gerakan anak muda yang diawali oleh anak-anak kelas pekerja dengan masalah ekonomi dan keuangan yang dipicu oleh kemerosotan moral oleh para tokoh politik sehingga tingkat pengangguran dan kriminalitas tinggi. Punk hadir berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, kebanyakan lewat lagu-lagu.
Saat ini keberadaan anak punk sudah meluas di wilayah DKI Jakarta dan keberadaannya sudah semakin bertambah seperti di kawasan Pulogadung, Jatinegara, dan Senen.
Saat ini keberadaan anak punk sudah meluas di wilayah DKI Jakarta dan keberadaannya sudah semakin bertambah seperti di kawasan Pulogadung, Jatinegara, dan Senen.
Anak punk biasanya mengamen di bu-bus kota, angkot, stasiun dan rumah makan dengan dandanan serba hitam, bertato dan gaya rambut mowhak yang diwarnai. Rambut mowhak adalah potongan rambut yang sebagian dipotong pendek sedangkan sebagian lagi panjang serta lurus ke atas.
Pengakuan Iwan menyebutkan setiap harinya selalu ada anak-anak punk yang bergabung, dan kebanyakan dari mereka punya alasan yang sama yaitu kesulitan ekonomi yang menghimpit, dan rasa kecewa terhadap pemerintah yang tidak memperhatikan mereka. Rasa kecewa mereka semakin bertambah ketika mereka terus dirazia Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), karena dianggap mengganggu para pengguna jalan.
Setiap hari mereka harus berlari melewati gang-gang kecil agar bisa lolos dari kejaran Satpol PP.
Setiap hari mereka harus berlari melewati gang-gang kecil agar bisa lolos dari kejaran Satpol PP.
Bahkan mereka sempat diusir salah satu ketua RT karena mencoba beristirahat di wilayah mereka. Itulah sebabnya kenapa mereka memilih di jalan dan menempati kolong-kolong jembatan untuk tidur.
"Saya sama mereka sama, kita sama-sama miskin, ngga berpendidikan, dan ngga diperhatiin pemerintah makanya kita kaya gini, apalagi setiap hari kita ditangkap terus sama Satpol PP, karena dianggap mengganggu,"kata Iwan.
Sama seperti Iwan, anak punk yang berada di kawasan Jatinegara, Firman juga berharap bisa mendapat pekerjaan, sehingga dia juga ingin para pemimpin mereka bisa membantu dan memperhatikan mereka saat ini, bukan hanya membangun infrastrukturnya saja.
"Saya sih maunya pemerintah tu jangan hanya membangun infrastrukturnya, tapi juga perhatikan masyarakat yang ada di dalamnya, sudah makmur belum," ujar Firman. (el)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar