Santa Cruz (Jakarta) - Fenomena memakan uang rakyat kini bagaikan jamur yang terus berkembang di negeri ini yang mengantar rakyat pada situasi fatalis, pasrah pada nasib karena lembaga-lembaga yang diharapkan bisa memberantas praktek korupsi ini justru ikut meramai riakan usaha mengendus uang rakyat.
Problem korupsi kini bagaikan spiral yang melekat hampir semua jajaran pemerintah maupun lembaga negara sehingga rantai untuk mengungkapkan praktek merampok uang rakyat sulit diendus atau pun kalau terungkap hanya sekedar "Nyanyian ala Nazaruddin" yang kemudian ia hilang dalam waktu, meski tokoh-tokohnya telah dibeberkan secara nyata.
Pada tataran memprihatinkan ini, rintihan puisi "Sang Binatang Jalang" Khairil Anwar tentang Karawang Bekasi akan terjadi. Rakyat kehilangan harapan dan merasa diri belum merdeka bahkan segala tekat perjuangan untuk menjadikan Indonesia lebih maju seakan pupus dari aksi rampokan 'para Pejabat Kerah Putih'. Rakyat seakan bungkam dan kehilangan harapan.
"Kami yang kini terbaring antara Karawang Bekasi
Tidak bisa berteriak 'merdeka' dan angkat senjata lagi"
Sepenggal ungkapan dari ayat pertama puisi pemuda asal Medan ini adalah potret dari ketidakberdayaan masyarakat karena hidup ditindas. Konteks saat itu penindasan terwujud dalam bentuk kolonialisme yang sekarang dihadirkan dalam drama korupsi dari para elitis. Kesamaannya bahwa rakyat yang menjadi korban dari keganasan ini sehingga pada akhirnya merasa kehilangan apa yang dinamakan kemerdekaan.
Kenyataan ini dibenarkan karena semua lembaga yang diharapkan bisa menghancurkan tindakan korupsi ini tak ada lagi di negeri ini. Kepolisian yang diharapkan bisa mematikan praktek ini harus terjerumus dalam praktek "Rekening Gendut Polri". Begitu pun Anggota Dewan yang memikul suara rakyat terlibat dalam permainan uang haram mulai dari kasus century, SEA Games dan terakhir dalam kasus Hambalang yang juga menyeret kelompok pemerintahan SBY karena beberapa menteri disinyalir bermain dalam praktek kotor ini.
Lebih sadis lagi lembaga hukum yang biasanya bertugas untuk mempalu penegakkan hukum meramaikan penegakkan ketentuan Undang-undang dengan adegan suap menyuap yang telah menyeretkan beberapa tokoh. Semuanya terbungkam setelah parpol yang biasa getol sebagai pihak oposan untuk mengkritik pemerintah harus tunduk ketika tawaran uang menjadi solusi untuk menghalalkan segala cara.
Pola-pola negatif yang telah dimainkan oleh Para Pemegang tampuk kekuasaan ini menghilangkan idealisme para pejuang kemerdekaan yang dalam puisi Anwar dikatakan sebagai mereka "yang tinggal tulang-tulang diliputi debu dan beribu terbaring antara Karawang Bekasi".
Mereka adalah pejuang yang berani mati hanya demi segelintir orang yang ingin mencapai Indonesia merdeka tanpa ada bentuk penindasan. Para pejuang ini tidak mengharapkan retorika yang menjanjikan uang yang banyak pada setiap rakyat seperti yang didengungkan saat kampanye.
Para pejuang yang mati dengan senjata bambu runcing tidak pernah berteriak untuk mendatangkan peralatan tempur yang mahal dan terakhir terkubur dalam usaha untuk menjegal uang rakyat. Mereka tidak membutuhkan rumah yang mewah untuk berjuang bagi negeri. Mereka hanya bermimpi mengartikan perjuangan mereka dengan nilai yang lebih konstruktif dalam goresan Anwar.
"Kami yang kini terbaring antara Karawang Bekasi
Tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda.
Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami................."
Sebuah nilai patriotisme pengorbanan tanpa menagih jasa apalagi mencuri atas nama pengorbanan demi rakyat. Tetapi idealisme para pejuang yang kini tinggal tulang yang menyatu debu kini dicaplok di negeri ini sehingga rakyat tidak tahu harus berharap pada siapa.
Anwar menulis goresannya dalam tinta darah kala itu karena bumi pertiwi bersimbah darah merah oleh mereka yang disebut pejuang. Namun kini ketimpangan dan penindasan yang ditolak oleh para pejuang masih meraja di negeri ini dalam praktek memakan uang rakyat.
Idealisme untuk pembebasan dan kemerdekaan sejati seakan tetap menjadi gugatan semua yang ingin negara Republik Indonesia bebas dari segala perbudakan yang menghantar rakyat pada situasi penuh kelaliman.
"Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa......"
Gugatan fatalis ini yang kini terus dipertanyakan dan bakalan tetap menjadi tanda tanya apabila ideal yang harus diisi di negeri ini sirna oleh kebobrokan dari sejumlah orang dan matinya sistem hukum yang harus dihidupkan. Kita tidak lagi berjuang dengan penjajah tetapi kita berjuang dengan anak bangsa yang tidak sadar akan besarnya darah dari nadi-nadi yang berani mati hingga lahirnya Republik Indonesia ini.
Para pejuang yang bekerja tanpa gaji dan juga tidak pernah berpikir untuk merampas hak dari setiap pribadi apalagi rakyat. Inilah intisari dan harapan dari pemilik puisi "Aku" ini.
"Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang-kenanglah kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir
Kami sekarang mayat
Berilah kami arti". (el)
Catatan: Tulisan opini ini sudah pernah dimuat di media komhukum.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar