Jumat, 15 Juni 2012

Sekelumit Kisah Dari Novel "Membadai Pukuafu"

Santa Cruz (Kupang) - Setelah novel “Cinta terakhir” yang dikeluarnya, kini Vincentius Jeskial Boekan kembali memacu animo baca pecinta sastra dengan novel terbarunya berjudul “Membadai Pukuafu”. Novel yang mempresentasikan teori kebenaran koheransi untuk mengatakan sesuatu adalah benar atau salah harus dilihat kaitan antara fakta satu dengan yang lain, yang termasuk dalam suatu sistem.

Vincentius Jeskial Boekan adalah seorang penulis opini, cerpen, cerber, novel dan juga PNS Senior di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini, mempersonifikasikan keganasan laut Pukuafu sebagai keganasan tragedi kehidupan yang sering dialami dan dilalui oleh manusia. Konflik-konflik kehidupan sering mengeliminasikan manusia dari apa yang ingin diraihnya dan membawa manusia dalam situasi batas dan dilematis.

“Kehidupanku laksana melintasi badai di atas “Pukuafu” (bermandi abu :laut terganas di Dunia karena badainya berputar-putar laksana gasing, berada di pulau Rote- Provinsi Nusa Tenggara Timur),” tulisnya.

Baginya Keganasan Pukuafu ini telah mengilhaminya untuk menulis dan menampilkan kisah-kisah yang menegangkan akibat perbedaan kebudayaan dan cara pandang para tokoh dengan berbagai fakta yang penuh paradoks dan ironi yang diungkapkan  sang novelis  secara cerdas, lugas, dahsyat dan tergolong berani kendati tak bisa dipungkiri bahwa ada fiksi didalamnya lebih-lebih kisah  percintaan.

Novel yang seakan-akan mengingatkan kita akan apa saja yang bisa terjadi dalam diri kita, di sekeliling kita atau yang tekuak di media cetak atau elektronik.

Kedekatan Boekan dengan realitas yang diangkatnya dan kisah-kisah seputar indoktrinasi gender yang selalu menjadi pertentangan dalam kehidupan masyarakat membuat “membadai pukuafu” tidak semata dilihat sebagai novel fiktif semata tetapi ada banyak fakta budaya dan alam yang ditampilkan. Kepiwaiannya dalam mengangkat realitas dan budaya mendasari penerbit Nurani mengklasifikasikannya sebagai novel budaya.

“Membadai Pukuafu karya Vincentcius Jeskial Boekan adalah sebuah novel Budaya,” papar Penerbit Nurani.

Kini Boekan telah menggugah semua pecinta sastra bahwa realitas selalu mengilhami sisi lain yang bisa dikisahkan dengan pesan-pesan yang membangun. Realitas tidak hanya menciptakan ketakutan untuk dijalani melainkan juga membangun berbagai pesan yang bisa digugah dalam tulisan sebagai sebuah sastra yang mengasyikkan. Tetapi apakah kita mampu untuk mengartikannya ?

“Apa mungkin Dikau berkenan mengungsikan badai di atas Pukuafu? Apa mungkin kulakukan itu dalam tenggang waktu sedetik kemudian?” tulis Vincentcius Jeskial Boekan yang juga adalah Staf Ahli Bidang Hukum dan HAM pada Kantor Gubernur Provinsi  Nusa Tenggara Timur  ini dalam Membadai Pukuafu. (el)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar