Sabtu, 14 Juli 2012

Gemuruh Atraksi Perang Pisang di Bali

Santa Cruz (Bali) - Membaca judul di atas, dengan sekejap kita akan membayangkan acara lempar-lemparan pisang antar pesertanya. Setidaknya tradisi perang pisang ini masih dilakukan oleh penghuni Desa Tenganan Daud Tukad. 


Sekedar informasi saja, Desa Tenganan adalah salah satu desa tua di Bali yang juga biasa disebut dengan Bali Aga. Desa Tenganan Daud Tukad terletak di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, berjarak sekitar 60 km dari kota Denpasar.

Acara ini digelar dengan tujuan untuk melakukan pemilihan ketua pemuda dan wakilnya, karena kelak merekalah yang akan memimpin desa. Tes dan uji mental ini melibatkan setidaknya 16 pemuda yang dipilih oleh Kelian adat sebagai lawan dalam perang melawan calon ketua dan wakil ketua oleh kelompok pemuda desa tersebut. 

Seluruh pemuda yang berjumlah 16 orang ini akan berkumpul di sudut desa untuk berganti pakaian. Baju mereka diganti dengan pakaian adat, kain kamben, dan penutup kepala yang disebut dengan udeng. Tidak memakai baju dengan bertelanjang dada menunggu perintah aba-aba untuk menyerang. Di ujung jalan yang berlawanan, berdiri dua pemuda yang akan menjadi lawan, mereka adalah calon ketua dan wakil ketua kelompok pemuda desa.

 Pelaksanaan upacara Perang Pisang dilaksanakan bersama dengan Aci Katiga (upacara pada bulan ketiga penanggalan Tenganan,dalam penanggalan nasional jatuh di akhir Maret dan awal April). Sebelum prosesi Perang Pisang dimulai semua pemuda desa diwajibkan memetik pisang yang ada di desa.

Para warga desa akan berdiri berjajar di sepanjang jalan yang akan dilalui oleh kedua pemuda calon pemimpin tadi. Suasana semakin ramai karena acara ini diiringi oleh tabuhan Gamelan Bali yang dimainkan oleh para tetua desa.

Upacara puncak dilaksanakan ketika kulkul (kentongan khas Bali) dibunyikan beberapa kali. Setelah Kelian adat memberi aba-aba, para pemuda tadi segera bergegas berjalan dengan langkah setengah berlari menuju Pura Bale Agung.

 Tepat setengah perjalanan Perang Pisang pun terjadi, dua pemuda calon ketua dan wakil ketua kelompok pemuda desa ini menjadi sasaran utama lemparan, dengan wajah memar-memar, kulit memerah di sejumlah bagian tubuh, mereka harus tetap melangkah menuju pura.

Upacara Perang Pisang ini baru dihentikan setelah kedua calon berhasil sampai di pintu gerbang Pura Bale Agung. Begitu kedua calon berhasil lolos masuk pintu gerbang pura, mereka dinyatakan lulus dan berhak dikukuhkan menjadi Ketua dan Wakil ketua pemuda desa tersebut.

Pelaksanaan upacara Perang Pisang diakhiri dengan Megibung (makan bersama dalam satu wadah) di Pura Bale Agung yang diikuti semua warga desa. Mereka semua duduk melingkari makanan khas yang telah disiapkan sebelumnya. Tujuan makan bersama ini tidak lain adalah untuk mengucap syukur kepada Sang Pencipta atas prosesi adat ini dan menghapuskan rasa dendam atau permusuhan yang mungkin timbul saat acara ini berlangsung. Seru juga kalau kita dapat menyaksikan langsung, apalagi kalau bisa ikutan melempari pisang kepada calon pemimpin pemuda desa ini. (El)

Catatan : Tulisan ini telah dimuat di komhukum.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar