Rabu, 04 Juli 2012

Menilik Makna Filosofi Tiilangga, Topi Khas Rote

Santa Cruz (Rote)- Tiilangga adalah topi tradisional ini berasal dari Pulau Rote, pulau terkecil di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Berbentuk melingkar dengan sebuah tanduk kecil berdiri tegak di atasnya. Tanduk ini sering disebut pula dengan istilah antena.


Tiilangga terbuat dari daun lontar, termasuk antenanya yang mempunyai sembilan tingkat. Walaupun hanya sebuah topi tetapi ada filosofi dibalik rancangannya teramat dalam dan menarik. Kesembilan Iekukan pada antena yang menancap diartikan sebagai sembilan strata dalam pemerintahan yang berkuasa saat itu.


Di pulau yang terkenal akan budidaya lontar tersebut, strata dimulai dari golongan masyarakat biasa yang mereka lambangkan sebagai Iekukan terkecil di paling atas. Sementara raja atau kepala pemerintahan yang disimbolkan pada Iekukan yang lebih besar, yang posisinya di bagian dasar topi.

Lekukan melingkar menyimbolkan dukungan mereka terhadap segala kebijakan atau peraturan yang dikeluarkan raja atau pemerintah yang berkuasa. Ini pun ditegaskan dengan bentuk antena yang tegak, sebagai simbol kepemimpinan.



Seperti topi umumnya, makna dari topi tradisional ini adalah sama yaitu sebagai penutup kepala bagi lelaki dari Pulau Rote. Tiilangga juga diyakini mampu mengubah tampilan mereka menjadi lebih gagah. Sejak dulu sampai sekarang, Tiilangga tetap dikenakan oleh para lelaki dari semua kalangan. 


Saat mereka menghadiri acara adat, menghadiri acara di kantor pemerintahan, tampil menari di upacara, Tiilangga menempel di kepala termasuk saat mereka hendak pergi ke kebun atau sawah. (El)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar