Santa Cruz (Jakarta) - Kemajuan teknologi yang makin pesat di zaman sekarang tidak mempengaruhi segelintir orang untuk menghidupi budaya maupun tradisi lokal yang telah ada di beberapa tempat di negeri ini.
Bahkan sekarang kebudayaan dulu maupun pola-pola kearifan lokal yang masih dihidupi itu mendapat tempat tersendiri bagi pecinta kebudayaan maupun alam.
Dan salah satu budaya yang masih dihidupi itu adalah keunikan budaya yang ada di Kampung Takpala. Pola kehidupan masyarakat dan lingkungan sosial maupun kontruksi bangunan masyarakat yang ada tergolong masih sangat tradisional.
Kampung Takpala, merupakan kampung yang terletak di kaki gunung Takalelang tepatnya di desa Lembur Barat, Kecamatan Alor Tengah Utara, Kabupaten Alor.
Takpala, Setia Menjaga Tradisi
Di kampung ini berdiam Suku Abui yaitu suku terbesar di Pulau Alor, jumlah penduduknya kurang dari 1.000 orang. Tahun 1983 Kampung Takpala ditetapkan sebagai salah satu tujuan pariwisata di Pulau Alor oleh Departemen Pariwisata.
(Suku Abui)
Namun 10 tahun sebelumnya, di tahun 1973 seorang berkebangsaan Belanda telah mempromosikan Kampung Takpala sebagai desa primitif melalui foto-foto di negaranya, sejak itu turis Belanda dan Eropa berdatangan ke kampung ini.
Kampung Takpala sungguh sarat dengan tradisi dan upacara adat. Perayaan hidup menjelma dalam gerak dan musik, dan menyatu dalam keseharian masyarakat serta bentuk rumah adat. Misalnya tari lego-lego yaitu salah satu tarian adat, tarian ini dilakukan secara bersama-sama, diiiringi moko yang ditabuh, dan gerakannya mengelilingi moko sambil bergandengan tangan.
Perayaan dengan tari seperti ini adalah kegiatan rutin yang dilakukan bersama, baik saat panen jagung, membangun rumah, pernikahan, kelahiran, dll.
(Tari Lego-lego)
Sirih dan pinang adalah sahabat sejati. Selalu menemani hari-hari mereka di berbagai suasana. Sirih pinang juga merupakan tanda persahabatan, yang disajikan bagi setiap tamu.
Setiap orang di Kampung Takpala memiliki tas fulak, yang terbuat dari anyaman bambu. Tempat membawa sirih pinang ketika menari lego-lego, atau tempat menyimpan uang.
Rumah Lopo: Rumah Adat Bertingkat 4 Satu-satunya di Dunia
Rumah adat suku Abui dinamakan lopo. Berbentuk limas, bangunan kayu beratap ilalang berdinding bambu. Lopo terdiri atas 4 tingkat, biasanya dihuni oleh 13 kepala keluarga.
Rumah tradisional sudah dibuat sejak sebelum zaman penjajahan Jepang. Kayu-kayu yang menjadi tiang penopang rumah terbuat dari kayu pilihan yang sudah berusia puluhan tahun.
Sedangkan tali yang digunakan untuk mengikat antar kayu bernama tali makili dan tali lawai yang biasa didapatkan di hutan-hutan.
Ada dua jenis rumah lopo, yakni Kolwat dan Kanuruat. Rumah Kolwat terbuka untuk umum, siapapun boleh masuk termasuk anak-anak dan perempuan.
Sedangkan Rumah Kanuruat hanya boleh dimasuki kalangan tertentu. Anak-anak dan perempuan dilarang keras memasuki rumah Kanuruat, jika dilanggar akan menimbulkan penyakit di mana proses penyembuhannya harus dilakukan dengan upacara adat.
Gotong royong saat membangun sebuah rumah adat adalah bagian dari tradisi masyarakat di kampung ini.
(Proses Pembangunan Lopo)
Inilah rumah adat tradisional bertingkat 4 satu-satunya di dunia. Setiap lantainya memiliki fungsi yang berbeda.
Lantai 1 adalah tempat berkumpul dan menerima tamu, lantai 2 ruang tidur dan masak, lantai 3 tempat menyimpan makanan, dan lantai 4 untuk menyimpan barang-barang pusaka- seperti moko- yang akan dipakai jika ada kegiatan adat.
Moko merupakan warisan nenek moyang suku Alor yang berusia ratusan tahun. Bentuknya mirip gendang terbuat dari perunggu. Dahulu moko adalah alat barter antar pedagang dari negara lain yang datang ke pulau ini, juga berfungsi sebagai genderang yang ditabuh saat perang antarsuku. Kemudian moko beralih fungsi menjadi mahar pernikahan, kini sebagai barang pusaka, harganya menjadi sangat mahal.
Tangga merupakan sarana utama untuk keluar masuk rumah, dan penghubung antarlantai. Di lantai tiga yang merupakan gudang untuk menyimpan hasil kebun seperti jagung, tiang kayu tampak berwarna hitam, akibat setiap hari diterpa asap dari dapur yang berada tepat di bawahnya. Uniknya api dari dapur tidak membakar kayu dan ilalang, bahkan justru memperkuat.
Begitu pun dengan pola kehidupan harian masyarakat Takpala. Masyarakat Takpala dalam kehidupan hariannya masih mengikuti tradisi nenek moyang mereka. Mereka masih menggunakan alat-alat tradisional seperti minum dari tempurung dan menggunakan ember yang terbuat dari bambu yang besar.
Begitu pun dengan pola kehidupan harian masyarakat Takpala. Masyarakat Takpala dalam kehidupan hariannya masih mengikuti tradisi nenek moyang mereka. Mereka masih menggunakan alat-alat tradisional seperti minum dari tempurung dan menggunakan ember yang terbuat dari bambu yang besar.
Jumlah penduduk yang terdapat di kampung Takpala ini hanya 15 kepala keluarga, kebanyakan penduduk yang lain sudah mulai membaur dengan masyarakat pesisir.
Sebagian besar mata pencaharian penduduk Takpala adalah berkebun di ladang dan system ladang ini yaitu berpindah-pindah. Mereka biasa bercocok tanam jagung, ubi kayu atau padi. Penghasilan lainya mereka juga membuat kerajinan tangan.
Sebagian besar mata pencaharian penduduk Takpala adalah berkebun di ladang dan system ladang ini yaitu berpindah-pindah. Mereka biasa bercocok tanam jagung, ubi kayu atau padi. Penghasilan lainya mereka juga membuat kerajinan tangan.
(Pantai Takpala)
Selain keunikan di atas dari kampung Takpala ini kita bisa memandang keindahan laut Alor yang eksotis. Daratan yang damai, pantai yang indah, laut biru, bahkan sesekali lumba-lumba meloncat di depan mata adalah sensasi alam yang dapat ditemukan di daerah Alor.(el)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar