Selasa, 06 November 2012

Akankah Dahlan Iskan Dikhianati "Brutus-brutus" Senayan?

Santa cruz (Jakarta) - Berabad- abad yang lalu sejarah dunia mencatat bagaimana seorang pahlawan yang mengalahkan musuhnya di berbagai pertempuran. Dia adalah salah satu pahlawan Romawi yang terkenal yaitu figur Julius Caesar.

Di abad kedua sebelum Masehi, sesudah kemenangannya menundukkan Cartago dalam Perang Punik kedua, orang-orang Romawi sudah berhasil mendirikan kekaisaran yang luas. Penaklukan ini membikin mereka punya harta melimpah. Tetapi, peperangan membikin keadaan sosial ekonomi porak poranda dan banyak petani terusir dari sawah ladangnya.
Senat Romawi, yang asalnya semacam dewan kota kecil, terbukti tak mampu mengatur negeri yang sudah begitu melebar secara efisien. Korupsi politik merajalela dan seluruh daerah Laut Tengah menderita sangat akibat ketidakbecusan pemerintah Romawi.

Julius Caesar mungkin pemimpin politik penting pertama yang dengan gamblang melihat bahwa pemerintahan demokratis di Roma tak ada faedahnya dipertahankan, dan memang sesungguhnya sudah lama tak ada bawa faedah.

Caesar merancangkan pelbagai program perbaikan. Dia merencanakan penempatan veteran tentara serta kaum miskin penduduk Romawi di dalam suatu masyarakat baru di seluruh kekaisaran. Dia pun memperluas kewarganegaraan Romawi dengan memberi kesempatan kepada pelbagai golongan memasukinya.

Dia merencanakan meletakkan dasar administrasi seragam untuk seluruh pemerintahan kota-kota di seluruh negeri. Dan tak lupa rencana pembangunan, serta kodifikasi hukum Romawi. Yang tidak berhasil dilakukannya adalah menyusun sistem konstitusi yang memuaskan untuk pemerintah Romawi. Dan inilah mungkin yang menjadi sebab utama kejatuhannya.

Walaupun berbagai pertempuran yang dipimpin oleh Julius Caesar telah mengalahkan musuh-musuh Romawi sehingga membawa nama kebesaran Romawi, pada akhirnya dia harus tersungkur di kaki para senator yang dipimpin oleh Brutus.

Di saat terakhir Julius Caesar menarik nafas kehidupannya, ia masih sempat berkata simpatik kepada sahabatnya, Brutus sang pengkhianat: “ Tu quoque, Brute, fili mi ” (Engkau juga, Brutus, anakku?) atau “ Et tu, Brute ” (Dan engkau juga, Brutus?). Caesar sadar di saat-saat terakhirnya, bahwa sahabat karibnya telah mengkhianatinya secara sadis!

Demikiam Bangsa Indonesia juga belum melupakan bagaimana proses demokrasi di Indonesia tercetus pada saat rakyat mulai belajar memilih pasca era Suharto yang menempatkan Abdul Rahman Wahid alias Gus Dur menduduki kursi Kepresidenan.

Perang Baratayuda antara pemimpin Republik Indonesia dan Majelis Perwakilan Rakyat berhadapan dengan segelintir elite politik yang berada di Senayan.  Suasana semakin memanas pada saat dalam 1 sidang dengan Dewan Perwakilan Rakyat, Presiden Abdul Rahman Wahid sempat melontarkan pernyataan "Kalau DPR seperti anak Taman Kanak-kanak?” .

Beribu alasan dicari, persekutuan dan persengkokolan para elite politik mulai bersinergi dengan berbagai dalih dan akhirnya dari dalih tersebut dibuatlah suatu keputusan Mahkamah Agung untuk memverifikasi  daftar dosa yang menetapkan dan menggiring Gus Dur terdepak keluar dari istana dengan bercelana pendek sambil melambaikan tangan.

Pada saat itu, berbagai media cetak dan elektronik mempertontonkan bagaimana dengan tenangnya Gus Dur dengan dituntun melangkah keluar dari Istana Negara. Beragam spekulasi muncul apakah dengan tindakan pelengseran Gus Dur tersebut yang notabene dipilih rakyat akan menimbulkan reaksi keras akibat kekecewaan rakyat karena pilihan mereka dilengserkan. Ternyata, keadaan landai-landai saja.

Kini Beberapa saat yang lalu kembali muncul figur baru yang menyuarakan bahwa anggota DPR memalak BUMN yang artinya BUMN dijadikan sapi perah oleh para anggota DPR yang terhormat itu. Praktek pemalakkan dan menempatkan BUMN sebagai “sapi perah” bagaikan aroma kentut dalam kendaraan Busway.

Dahlan Iskan, menteri BUMN adalah orang yang berani berteriak di atas busway ada bau kentut dan diduga ada penumpang yang melepaskan gas busuk tersebut. Masyarakat berharap, Dahlan Iskan bagaikan sebuah “bom” yang diledakkan di tengah malam hening, apabila ledakan yang dibunyikan oleh Dahlan Iskan ini hanyalah petasan banting dan bukan bom, maka pertanyaan yang akan timbul adalah apakah Dahlan Iskan sang maestro akan bernasib seperti seorang Julius Caesar ataukah seorang Gus Dur? Masyarakat Indonesia akan menantikan serangan balik dari para macan. (el)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar