Selasa, 20 November 2012

Menikmati Panorama di Pulau Simeulue

Santa Cruz (Jakarta) - Simeulue, di Provinsi Aceh tergolong salah satu pulau yang cukup mungil. Bahkan, pulau ini pula dianggap berbahaya karena kerap diguncang gempa. Namun, keindahan alamnya begitu menggoda para pelancong sehingga wisatawan mancanegara pun datang ke pulau tersebut untuk menikmati panoramanya.

Surga peselancar

Bagi para peselancar, Pulau Simeulue adalah surga. Ombak dengan ketinggian 5 meter, laut bersih, dan langit cerah menjadi idaman banyak peselancar. Apalagi, Simeulue belum banyak dikunjungi orang sehingga membuat peselancar leluasa menyalurkan hobinya.

Itulah yang diakui John May, pelacong asal Selandia Baru. ”Alam masih natural dan bersih. Saya lebih suka di sini dari pada Bali meskipun di Bali lebih mudah mencari penginapan,” ujarnya.

Dia menilai, jika Pemerintah Kabupaten Simeulue mampu mempromosikan keindahan alamnya secara bagus, akan banyak pelancong yang tergiur datang. Keindahan alamnya tidak kalah menarik dibandingkan dengan Bali atau Lombok.

Setidaknya ada delapan lokasi yang strategis untuk berselancar, yakni pantai Nancala, Matanurung Busung, Alus-alus, Salur, La’ayon, Pulau Batu Berlayar, Pulau Mincau, dan Pulau Teupah.

Pelancong yang belum ahli berselancar bisa juga menikmati keindahan laut dengan snorkeling. Lokasinya hampir di semua pantai di Simeulue. Lokasi yang menjadi andalan antara lain Pulau Si Umat, Teupah Barat, dan Simeulue Timur.
(Keindahan Pantai Simeulue "Diburu" Wisatawan Asing)
Laut Simeulue juga menggoda pelancong untuk menyelam atau memancing. Tak sedikit pelancong yang khusus datang ke Simeulue untuk mendapatkan sensasi memancing ikan-ikan ukuran besar.

”Sering ada stasiun televisi yang mengambil gambar di Simeulue dalam acara memancing,” kata Akil Rozha, warga yang kerap menjadi pemandu pelancong.

Sepanjang tahun selalu ada pelancong yang berkunjung ke Simeulue. Leni, pengelola agen perjalanan di Simeulue, mengatakan, tahun 2012 dia mendapat order pelancong luar negeri. Mereka terdiri dari delapan rombongan. Satu rombongan biasanya berkisar lima sampai 12 orang.

Mereka datang dari Australia, Afrika, Belanda, Jerman, Kanada, Malaysia, dan Singapura serta tinggal di Simeulue selama sepekan sampai dua pekan. ”Selain keliling Simeulue, mereka juga jalan-jalan ke Sibolga, Sumatera Utara,” jelas Leni.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Simeulue Ir Sukoco Erwan mengatakan, untuk Januari-April, wisatawan mancanegara yang datang ke Simeulue mencapai 30 orang per bulan. Jumlah itu meningkat sampai 70 orang per bulan pada bulan Mei sampai Desember.

Menurut Sukoco, keindahan alam Simeulue memang menjanjikan. Untuk itu, dia ingin sekaligus mempromosikan budaya masyarakat Simeulue agar semakin dikenal dunia. Usaha itu masih minim respons dari pemerintah pusat.

Sukoco telah mengusulkan dibangun museum tsunami, perpustakaan, dan tugu smong, namun tak mendapat tanggapan yang bagus dari pemerintah pusat. Smong merupakan cerita turun-temurun dari leluhur masyarakat Simeulue tentang peringatan dini tsunami. Cerita smong yang menyelamatkan ribuan warga Simeulue ketika tsunami hebat melanda Aceh dan sekitarnya pada akhir 2004.

Akomodasi
Meskipun termasuk pulau kecil dan terpencil, akomodasi di Pulau Simeulue cukup menjanjikan. Di hampir semua lokasi selancar terdapat penginapan atau bahkan resor. Di Matanurung Busung berdiri Baneng Island Resort dan Losmen Raimond.

Jika pelancong berselancar di Teupah Barat, mereka dapat menginap di Aura Surf Resort. Tempat ini juga cocok bagi pelancong yang berselancar di Peulau Teupah, Pulau Mincau, dan Nancala.

Penginapan ini bertarif Rp. 200 per malam per kamar. Ada juga bungalow dengan tarif Rp. 500.000 per malam. Pengelola penginapan juga menyediakan jasa penyewaan alat-alat selancar dan selam.

Pilihan lainnya, pelancong dapat menginap di ibu kota Simeulue, Sinabang. Tarif sangat terjangkau, berkisar Rp. 100.000 sampai Rp. 250.000 per malam.

Untuk makanan pun tidak sulit. Di samping petani, sebagian besar warga Simeulue merupakan nelayan. Ikan hasil tangkapan mereka dapat Anda nikmati di warung-warung pinggir jalan dengan harga Rp. 7.000 sampai Rp. 20.000 per piring. (El)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar