Santa Cruz (Jakarta) - Pengadilan Filipina telah menetapkan untuk menahan mantan Presiden Gloria Macapagal Arroyo karena terkait berbagai kasus mulai dari dugaan adanya pembantaian, kasus korupsi serta kecurangan pada pemilu 2007 lalu.
Penangkapan ini menambah sejarah dunia tentang peristiwa para pemimpin yang setelah jatuh baik akibat tuntutan dan gerakan massa ataupun turun dari jabatan, juga disebabkan karena adanya dorongan tokoh-tokoh tertentu yang mempunyai kepentingan tersendiri.
Kisah kejatuhan kepemimpinan dunia yang hingga kini harus berakhir dengan hukuman pengadilan bahkan kematian terekam dalam kejatuhan Husni Mubarak di Mesir, kematian Khadafi di Lybia, pengunduran diri Perdana Menteri Italia, Silvio Berlusconi dan berbagai kasus lain adalah gambaran bahwa tatanan kekuasaan bisa dilengserkan oleh kekuatan rakyat maupun "brutus-brutus" sekitar sang penguasa. Akankah kepemimpinan Presiden SBY bisa dilengserkan dengan kekuatan ini?
Sejarah Indonesia telah mencatat bahwa kepemimpinan Presiden RI diwarnai juga dengan peristiwa lengser dari pusat kemapanan kekuasaan mulai dari Mantan Presiden Soekarno yang jatuh karena disinyalir berada di balik masalah komunis dan prahara seputar wanita, Soeharto dengan masalah KKN yang masih menimbulkan berbagai polemik, Habibie yang dianggap sebagai gila teknologi, Gus Dur yang berakhir dengan perguncingan seputar dekrit yang disinyalir melawan konstitusi, Megawati dengan isu seputar BUMN dan berbagai asset negara yang dijual, semua itu berakhir dengan tidaknya mendapat dukungan politik pada periode berikutnya. Bagaimana dengan pemerintah sekarang ini yang dalam pemilihan presiden memperoleh kemenangan yang begitu memukau?
Menanggapi keadaan ini dan mengacu pada pernyataan Anggota DPR komisi III Bambang Soesatyo bahwa penangkapan Aroyo harus menjadi pelajaran bagi pemerintah RI, Pengamat dan praktisi hukum, Alfons Loemau, M.Si, M.Bus menegaskan bahwa berbagai persoalan yang sedang dihadapi di negeri ini tidak terlepas dari tokoh-tokoh yang berkuasa dengan berbagai permasalahan yang dihadapi dan berbagai kepentingan sehingga penyelesaian permasalahan yang ada pada akhirnya menjadi tidak ada kejelasan.
Alfons menegaskan bahwa permasalahan seperti yang mendera Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, kasus Century yang tidak kunjung terselesaikan dan berbagai kasus besar lainnya, hingga muncul pernyataan tegas bahwa Presiden telah melakukan kebohongan publik tidak akan terselesaikan karena di balik masalah itu terlibat tokoh-tokoh yang punya andil dalam pengambil kebijakan di negeri ini.
"Gonjang-ganjing penyelesaian permasalahan di negeri ini menjadi tidak tuntas karena kemungkinan banyak tokoh-tokoh tertentu berada di balik setiap peristiwa yang menyengsarakan rakyat," tandas Alfons kepada Komhukum.Com, di Jakarta, Rabu (23/11).
Menurut kandidat Doktor Ilmu Lingkungan UI tersebut, apabila permasalahan ini tidak diselesaikan masa kini dengan sebuah pendekatan yang baik oleh Presiden, maka kemungkinan kisah tragis Aroyo dan tragedi di Timur Tengah mulai dari Mesir, Libya dan berbagai penguasa lain bisa terjadi di Indonesia karena kemungkinan bisa saja terjadi Presiden dikhianati oleh orang-orang di sekelilingnya.
"Brutus-brutus baru pada masa Julius Cesar bisa saja terlahir saat ini. Akankah Brutus-brutus dalam versi masa kini akan menusuk Presiden ?," tanya Alfons. (EL)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar