Selasa, 07 Agustus 2012

Dua: Malam Subuh Bersama Che Guevara

Santa Cruz (Soa) - Di akhir 90-an, nama ini sempat booming, khususnya di kalangan anak muda. Posternya banyak dijual di pinggir-pinggir jalan. Gambar orang ini khas sekali, sekhas topi baretnya.
Awalnya saya tak terlalu peduli dengan lelaki ini. Bayanganku pada poster-poster itu tertuju pada Bung Tomo yang foto terkenalnya ada di buku PSPB dan berteriak serbu kala itu.

Waktu pun berjalan dan saya tak terlalu peduli sama pria yang bernama Che Guevara dan tak secuil pun keinginan untuk mencari tahu.

Mungkin itu karena saya cenderung tidak tertarik pada “idola bersama” kayak the Little Monster yang mendewakan Lady Gaga. Saya lebih suka menyendiri bahkan menikmati Sang Revolusioner Indonesia Soe Hok Gie yang tulisan 'Sang Demonstran'-nya  telah menggugah banyak hidup saya.
Selain dari poster, saya juga hafal nama Che Guevara dari kaos-kaos oblong yang memajang gambarnya, seperti ketika booming baju X (dengan huruf super gede di bagian belakang), yang tak pernah sayah tahu apakah itu simbol dari Malcolm X ataukah sekadar demam film X-Files.

Satu lagi, saya jadi akrab dengan Che Guevara karena Juan Sebastian Veron, pemain bola Argentina yang pernah memperkuat klub Lazio, membuat tato orang itu di lengannya dan kalau tidak salah pemain bola sekaliber Maradona menggoresi lengannya dengan lukisan orang yang kini telah menjadi saya gila buatnya.

Intinya, saat itu saya tak tahu riwayat Che Guevara. Yang saya tahu singkat saja: dia seorang revolusioner Kuba yang mati muda karena ditembak. Itu juga kata temanku.

Tetapi untung walaupun terlalu lambat saya mengetahuinya atau terlampau basi untuk diketahui, saya tetap mencoba mencari tentang identitas sang gondrong ini.

Secuplik kisah tentang orang ini di awal perkenalanku telah merenggut saya untuk menjadi salah seorang yang mengagumi Che Guevara. Tetapi kekaguman saya bukan karena dia sebagai  “pemimpin sebuah bangsa”, melainkan sebagai lelaki pengembara yang berjiwa sosial luar biasa.

Ernesto Guevara de la Serna itu nama aslinya , lahir dan besar di Argentina dari lingkungan keluarga mapan. Sewaktu kuliah kedokteran, umurnya baru 23, dan saat itu ia dan sahabatnya Alberto Granado menghabiskan liburan dengan bersenang-senang dengan menjejalahi Amerika Selatan. Keliling Amerika Latin nan eksotik dengan sepeda motor. inilah hal yang membuat naluri petualangan ku mencuat!

Masuk Chile – nama ‘Che’ ia peroleh di sini, yang artinya sama dengan kata sapaan “Hei” – jiwa sosial Ernesto mulai mekar. Dari sekedar menolong semampunya orang sakit, pelan-pelan hatinya berontak melihat ketertindasan orang-orang kecil.

Di Peru, ia diperbantukan seorang dokter untuk bekerja di sebuah kampung penderita kusta yang diisolir. Semakin tergugahlah Ernesto, betapa manusia yang sudah menderita malah dijauhi orang-orang, termasuk oleh dokter-dokter yang merawat mereka, yang tak mau bersentuhan langsung dengan mereka.

Tapi Ernesto tidak begitu. Dia tidak mau mengambil jarak dan memilih membaur sebagaimana keadaan normal. Tidak heran orang seperti ini gampang mendapat tempat di hati banyak orang. Di sini makin kelihatan jelas akan menjadi apa seorang Ernesto Guevara kelak.

Kisah usang terekam dalam jejaknya di mana suatu malam Ernesto kabur dari pesta ulang tahun yang diadakan untuk dirinya di rumah si dokter. Saat itu, Ia teringat pada teman-temannya penderita kusta. Klimaks dari kisah ini adalah ketika ia terjun ke sungai besar yang memisahkan dunia dengan kampung penderita kusta itu, dan berenang ratusan meter hanya untuk merayakan ultahnya dengan orang-orang di sana.
He heheh kisah ini cuma secuil yang saya ingat dari film berbahasa Spanyol berjudul “Diarios de Motocicleta” alias “The Motorcycle Diaries”, yang dibikin berdasarkan jurnal Guevara.

Yang bikin saya lebih suka, film ini habis sampai di situ dan tidak berlanjut pada kiprah Guevara ke kancah politik yang kelak menjadikannya “pemimpin formal” yang dekat dengan militer dan politik  dua hal yang tak pernah saya suka.

Bukannya bermaksud sok klise, tapi salah satu pesan yang gue ambil dari film itu adalah saya percaya bahwa kita mesti berguna buat orang lain. Are we?

Satu lagi, ada sisi romantis Che yang saya suka dan saya mesti kutip kuot-nya. Waktu meninggalkan gadisnya untuk meneruskan avonturirnya, dan si cewek jadi kesel, dia bersyair: Dia tetap berawan oleh airmata. Kemarahannya tersembunyi oleh hujan. (El)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar