Santa cruz (Sumba) - Pulau Sumba yang terkenal dengan panorama alam dan padang sabana yang memukau banyak orang ternyata masih menyimpan kisah indah mengenai hal-hal menarik lainnya.
Di antara kisah patriotisme ceremonial Pasola yang telah mendunia dan keberadaan kuda Sandalwood (Sumba) yang membumi di daerah itu dan menjadi kekhasan di Pulau yang berada di provinsi Nusa Tenggara Timur ini, ternyata di sana masih menyimpan sejuta peninggalan eksotik kuno yang menarik di antara kehidupan perkampungan yang masih dihiasi simbol-simbol sakral berupa tanduk-tanduk kerbau dan hentakan gadis-gadis Sumba yang menenun kain-kain lokal.
(Aksi Atraktif Pasola)
Salah satunya adalah perhiasan tradisional yang terkenal di antara para wanita di daerah Sumba Timur, yang berupa kalung untaian manik-manik besar warna kuning yang cantik dan nampak etnik yang biasa disebut Anahidda atau Mutisalak.
Kalung ini memiliki makna yang amat penting dalam kehidupan orang Sumba. Penghargaan pada kalung ini diberikan karena kalung ini merupakan peninggalan nenek moyang dan sudah amat jarang ditemukan saat ini.
Kalung ini memiliki makna yang amat penting dalam kehidupan orang Sumba. Penghargaan pada kalung ini diberikan karena kalung ini merupakan peninggalan nenek moyang dan sudah amat jarang ditemukan saat ini.
(Derap Kuda sandalwood di Pulau Sumba)
Penghargaan pada kalung ini juga terungkap pada tingginya nilai kalung yang benar-benar dihargai begitu mahal. Bayangkan saja, untuk memperoleh sebuah kalung atau gelang Anahidda maka masyarakat Sumba harus menukarnya dengan kuda atau kerbau, atau membelinya dengan harga yang cukup mahal yaitu bisa mencapai Rp. 4 juta untuk setiap kalungnya. Tidak heran bila para pemakainya adalah golongan orang-orang yang cukup berada.
(Gadis Sumba Sedang Menenun)
Kalung Anahidda juga berperan penting dalam acara-acara adat Sumba, seperti misalnya dalam suatu pesta pernikahan. Maka pengantin wanita akan membawa kalung ini sebagai serah-serahannya, sementara dari pihak pria biasanya membawa emas dan hewan.
(Untain Anahidda atau Mutisalak)
Bila melihat perkembangan kalung peninggalan ini hingga saat ini, maka beberapa penduduk mengatakan bahwa pada zaman sekarang sangat sulit mendapatkan mutisalak karena para wisatawan mancanegara telah membeli dan membawanya keluar dari Sumba. (el)
Catatan: Saat berada di Sumba. Berita ini sudah dimuat di komhukum.com
Catatan: Saat berada di Sumba. Berita ini sudah dimuat di komhukum.com




Tidak ada komentar:
Posting Komentar