Jumat, 19 Oktober 2012

Menjajaki Pesona Kearifan Tua di Kampung Naga

Santa Cruz (Bogor) - Laju kemajuan zaman kini telah menampilkan sejuta temuan baru yang menghebohkan dan berlahan-lahan memudar bahkan menutup pola-pola lama.

Kemajuan dunia juga mengubah pola hidup masyarakat di dalamnya bahkan tradisi-tradisi budaya lama mulai mengiris berlahan eksistensinya di dunia.

Derasnya arus budaya global ternyata menggerus budaya lokal. Hal-hal dulu yang dianggap sebagai budaya dan kearifan lokal mulai ditinggalkan dan dianggap kolot. Ironisnya, orang-orang yang masih mempertahankan pola-pola hidup lama dianggap aneh di zaman modern ini.

Namun hal ini tidak berlaku bagi penduduk di Kampung Naga. Dilihat dari namanya terasa menyeramkan. Tetapi ternyata penduduk dari kampung yang berada di tepi jalan raya Garut-Tasikmalaya ini masih hidup dengan pola tradisi yang tak lekang oleh waktu.

Mereka hidup dengan kaki menapaki kulit bumi, tubuh disirami pesona air kali yang alami dan menyatu dalam rimba alam yang tak tepi.
(Masyarakat Kampung Naga Hidup Dalam Kearifan)
Masyarakat kampung Naga adalah sekelompok masyarakat yang tetap teguh mempertahankan adat istiadat serta tidak terpengaruh dengan hiruk-pikuk laju globalisasi.

Kelompok masyarakat tersebut tetap bersetia dan bertahan dalam kesederhanaan dan kesahajaan, serta menjalankan semua tradisi yang diwariskan oleh leluhur mereka.

Wajarlah, akhirnya kampung Naga disebut sebagai sebuah kampung atau desa tradisional. Disebut tradisional karena mereka masih konsisten dalam mempertahankan adat istiadat serta budaya leluhur. Hal ini sangat berbeda jauh dibandingkan dengan masyarakat lain di luar Kampung Naga.

Penduduk Kampung Naga juga hidup pada suatu tatanan yang penuh nuansa kesederhanaan. Bagi masyarakat Kampung Naga, kepatuhan dalam menjalankan adat merupakan bentuk penghormatan kepada para leluhur (karuhan). Sesuatu yang datangnya bukan dari ajaran karuhan dianggap tabu, yang bila dilanggar akan menimbulkan petaka.

Daerah perkampungan yang dihuni sekitar 311 jiwa ini terletak di lembah subur di tepi Sungai Ciwulan. Perkampungan ini terbagi dalam beberapa wilayah seperti wilayah hutan, sungai, persawahan, dan perumahan. Setiap area memiliki batas-batas tersendiri dan tidak boleh dilanggar. Karena, dalam kepercayaan mereka, di tiap batas wilayah terdapat makhluk halus sebagai penunggunya.

Jika batas dilanggar, makhluk halus tersebut akan marah sehingga terjadilah petaka. Oleh karena itu, penduduk tidak boleh mendirikan rumah di area persawahan, begitu pula sebaliknya, karena hal ini berarti melanggar ajaran karuhan.
(Kampung Naga Yang Dikelilingi Persawahan Hijau)
Di Kampung Naga terdapat 111 bangunan yang terdiri dari 108 rumah hunian, 1 balai pertemuan (bale patemon), 1 masjid, dan 1 lumbung. Masjid, balai pertemuan, dan lumbung diletakkan sejajar menghadap ke arah timur-barat. Di depan bangunan-bangunan tersebut terdapat halaman luas yang digunakan untuk upacara adat. Sedangkan bangunan rumah penduduk berdiri berjajar menghadap utara-selatan.

Rumah-rumah di Kampung Naga berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu dan anyaman bilah bambu. Sedangkan atapnya terbuat dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang. Desain arsitektur dan interiornya sederhana namun tertata apik, sehingga udara dan cahaya tersirkulasi dengan baik.

Daya tarik utama yang dimiliki oleh Kampung Naga adalah suasananya yang sangat tenang dan damai, di mana masyarakatnya masih berpegang teguh pada tradisi serta menjaga nilai-nilai kearifan lokal – satu hal yang sudah sulit ditemui di perkampungan modern dewasa ini. 

Sebelum Anda menjejakkan kaki di wilayah perkampungan, Anda harus berjalan menuruni beratus-ratus sengked (anak tangga) yang cukup curam, sehingga saat hujan turun Anda harus berhati-hati jika tidak mau terpeleset dan terjatuh.

Namun, perjuangan Anda tidaklah sia-sia, karena di sepanjang jalan Anda akan disuguhi dengan panorama yang sangat mempesona. Sawah menghijau, Sungai Ciwulan yang mengalir berkelak-kelok, kicau burung, gemericik air mengalir, hembusan angin, semuanya menghasilkan komposisi nyanyian alam yang indah.

Di Kampung Naga terdapat beberapa peraturan yang harus dipatuhi oleh pengunjung, antara lain tidak boleh berkata sembarangan, tidak boleh mengganggu hewan yang ada, dan tidak boleh mematahkan ranting-ranting pohon. Peraturan itu tidak hanya untuk wisatawan saja, melainkan juga berlaku bagi penduduk lokal.

Bahkan, bagi penduduk asli Kampung Naga terdapat lebih banyak peraturan atau yang mereka sebut sebagai pamali. Sebagai contoh, mereka tidak boleh mengecat rumah mereka kecuali menggunakan kapur, tidak boleh membangun rumah menggunakan batu bata dan semen, tidak boleh mengadakan pertunjukan seni selain kesenian asli Kampung Naga, dan masih banyak peraturan lainnya. Bagi orang luar aturan tersebut mungkin terlihat tidak masuk akal, namun justru beranjak dari pamali dan kearifan lokal itulah kelestarian Kampung Naga tetap terjaga.

Selain itu, warga Kampung Naga tidak memperkenankan barang maupun peralatan modern masuk ke kampung mereka. Bahkan, jaringan listrik pun tidak diperkenankan masuk ke kampung ini. Oleh karena itu, saat malam tiba suasana menjadi begitu gelap. Hanya ada sinar teplok atau lentera sebagai penerang utama di rumah-rumah.
(Masjid Sentral Kehidupan Rohani Masyarakat Kampung Naga)
Sedangkan untuk penerangan di jalan-jalan, mereka terbiasa menggunakan suluh. Namun, justru itulah yang menjadi keunikan ketika Anda menginap di kampung ini – suasana perdesaan yang benar-benar menyatu dengan alam.

Jika Anda memiliki waktu yang cukup banyak, tak jauh dari Kampung Naga terdapat dua air terjun kecil yang berfungsi sebagai pembatas wilayah dan sumber pengairan pada musim kemarau. Anda bisa bermain-main di air terjun ini.

Namun, menjelang maghrib Anda harus bergegas, karena ada kepercayaan yang diyakini oleh masyarakat bahwa barang siapa yang mandi di air terjun tersebut menjelang maghrib pasti akan kesurupan.

Sebagai warga sebuah kampung adat, penduduk Kampung Naga juga kerap melaksanakan upacara adat. Upacara tersebut biasa dilaksanakan pada bulan Maulud dan Syawal (kalender Hijriah). Wisatawan yang ingin menyaksikan upacara tersebut harus mematuhi semua peraturan yang berlaku selama upacara adat berlangsung.
(Salah Satu Ceremonial Adat Mayarakat Kampung Naga)
Terletak di jalan raya Garut-Tasikmalaya membuat Kampung Naga mudah untuk dijangkau menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Kampung ini terletak di lembah Sungai Ciwulan, berjarak sekitar 500 meter di bawah jalan raya. Jarak tempuh dari Kota Tasikmalaya sekitar 30 kilometer dan 26 kilometer dari Kota Garut. Sedangkan dari Bandung, Kampung Naga berjarak 90 km.

Wisatawan yang ingin berkunjung ke Kampung Naga tidak perlu membayar tiket masuk. Disarankan, wisatawan yang ingin berkunjung ke Kampung Naga agar tidak datang pada hari Selasa, Rabu, atau Sabtu. Sebab, pada hari-hari tersebut masyarakat Kampung Naga sedang melakukan ritual menyepi, yakni usaha menghindari perbincangan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan adat istiadat dan asal-usul kampungnya.

Walaupun Kampung Naga merupakan obyek wisata yang cukup populer di Jawa Barat, hingga saat ini tidak ada aliran listrik di Kampung Naga. Wisatawan yang ingin menginap di kampung ini harus minta izin kepada kuncen (sesepuh kampung) jauh-jauh hari dan bersiap dengan fasilitas yang seadanya, namun justru sangat dekat dengan alam.

Sebagian besar penduduk Kampung Naga berbicara dalam bahasa Sunda, oleh karena itu bagi wisatawan yang tidak bisa berbahasa Sunda disarankan menyewa jasa pemandu. Di tempat ini terdapat banyak pemandu yang bisa menemani perjalanan Anda. Jumlah tarif fleksibel dan bisa dibicarakan.

Meskipun Kampung Naga terletak jauh di bawah jalan raya, jika Anda membawa kendaraan pribadi Anda tidak perlu khawatir. Di pintu gerbang Kampung Naga terdapat pelataran luas yang dijadikan tempat parkir kendaraan pengunjung. Di seputaran tempat parkir terdapat kios penjual suvenir anyaman khas Tasikmalaya buatan penduduk Kampung Naga serta warung makan. (El)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar