Santa Cruz (Jakarta) - Hari-hari terakhir ini, media massa ramai memberitakan seputar konflik antar warga di Provinsi Lampung yang telah merenggut belasan nyawa dan ratusan rumah ludes dilalap api.
Kini lampung bagaikan kota hantu yang menakutkan sehingga ribuan warganya pun berlari dan mengungsi dari tanah yang memberi mereka hidup.
Bentrok berdarah antar desa di Lampung Selatan, Lampung sejak Minggu hingga Senin, 27-28 Oktober telah menelan belasan korban.
Banyaknya korban ini menimbulkan duka dan keprihatinan sendiri dan Polda Lampung terus menghimbau warga untuk menahan diri.
"Bentrok ini jangan sampai terulang lagi. Pimpinan sudah menginstruksikan untuk memediasi kedua kelompok yang bentrok," kata Kepala Bidang Humas Polda Lampung Ajun Komisaris Besar Sulistyaningsih kepada media, Rabu (31/10).
Polri hingga kini berusaha membangun kerja sama dengan pemerintah daerah akan mempertemukan pihak-pihak yang bertikai. Sampai ada kesepahaman, dia minta semua warga menahan diri dalam menanggapi isu yang menyebar.
"Sejauh ini penyebab bentrok itu masalah sepele. Tapi, karena warga tak bisa menahan diri, jadi masalah besar," kata Sulistyaningsih.
Bentrok yang telah merenggut sebelas nyawa ini berawal ketika dua orang gadis asal Desa Agom yang tengah mengendarai sepeda motor digoda oleh pemuda asal Desa Balinuraga hingga terjatuh dan luka-luka. Entah dari masa asalnya, lantas menyebar isu bahwa kedua gadis itu dilecehkan secara seksual.
Namun masalah ini kemudian diselesaikan oleh Kepala Desa Agom dan Balinuraga. Bahkan kedua belah pihak sebetulnya telah mengadakan perjanjian damai atas kejadian tersebut. Namun, keluarga kedua gadis tidak terima. Mereka lantas mendatangi Desa Balinuraga untuk menemui pemuda yang mengganggu itu.
Namun, saat tiba di Desa Balinuraga, keluarga dan beberapa warga Desa Agom langsung diserang dengan senjata api. Akibatnya, satu orang tewas tertembus timah panas.
Bentrokan kembali terjadi, Minggu (28/10) pukul 10.00 WIB. Pada bentrok kali ini, jumlah korban lebih banyak. Enam orang tewas mengenaskan akibat dihajar senjata tajam. Tak hanya menelan korban jiwa yang lebih banyak, bentrok kali ini menghanguskan 6 rumah.
Saat itu, Polisi langsung berupaya mendamaikan kedua kubu. Tokoh masyarakat dari kedua warga dipertemukan.
"Pihak kami telah melakukan upaya perdamaian sejak kemarin dengan menghadirkan para tokoh adat. Pembicaraan upaya perdamaian terus dilakukan hingga hari ini," ungkap Kapolres Lampung Selatan, AKBP Tatar Nugroho di Lampung.
Upaya perdamaian ini dipimpin langsung oleh Kapolda Lampung. Selain itu, polisi juga langsung mendatangi kelompok-kelompok warga untuk memberikan imbauan damai. "Kami datangi kedua kampung agar warga tidak saling serang kembali," tutur Tatar.
Rupanya, pertemuan antar pemimpin kedua desa tidak berpengaruh. Aksi serang antar warga kembali terjadi, Senin, (29/10), pukul 14.00 WIB.
Sekitar 1.000 aparat kepolisian dan TNI sudah dikerahkan ke lokasi. Namun, warga yang jumlahnya ribuan itu, tak dapat ditangani hingga akhirnya warga berhasil masuk ke Desa Balinuraga melalui jalan perkebunan dan persawahan.
Dalam aksi penyerangan ini 7 orang tewas. Kebanyakan korban tewas tergeletak di areal perkebunan dan persawahan dengan kondisi tubuh rusak akibat dicabik-cabik. Setelah beberapa jam kemudian, warga penyerang meninggalkan Desa Balinuraga yang hancur lebur.
Akibat dari tragedi memilukan ini belasan orang meninggal dunia, ratusan rumah warga dibakar massa dan beberapa warga terluka.
Selain itu, konflik antar warga di Lampung Selatan menyebabkan penderitaan bagi warga lainnya. Ketakutan akan serangan balasan, menyebabkan ribuan orang takut keluar rumah.
Sejak Senin kemarin, ribuan warga Desa Agom terpaksa mengungsi untuk menghindari serangan balasan dari warga Desa Balinuraga.
Kabid Humas Polda Lampung, AKBP Sulityaningsih, mengatakan, sebanyak 192 orang diungsikan ke Sekolah Polisi Negara (SPN) Kemiling. Ribuan lainnya mengungsi ke Mapolres Lampung Selatan.
Para pengungsi tersebut kebanyakan perempuan, orangtua dan anak-anak. Mereka berduyun-duyun membawa bungkusan pakaian. Wajah-wajah mereka menunjukan rasa cemas, takut akan keselamatannya.
Mereka kemudian menggelar tikar di sekitar Mapolres. "Kami dengar ada serangan balasan, dan akan menyerang warga Kalianda juga, padahal jaraknya jauh dari lokasi bentrokan. Saya takut dan langsung mengungsi ke Mapolres ini," ujar seorang warga, Asih, sambil menggendong bayinya.
Selasa dinihari, 30 Oktober 2012, ratusan warga pria berjaga-jaga di jalanan Kota Kalianda. Dengan memegang berbagai senjata tajam seperti, tombak, parang, dan bambu runcing. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi isu adanya serangan balik dari Desa Balinuraga.
Isu serangan balasan itu berhembus sejak Senin malam, dan membuat seluruh warga Kota Kalianda yang juga ibukota Lampung Selatan, panik. Suara pengumuman agar seluruh warga waspada berkumandang dari pengeras suara di masjid-masjid.
Kondisi di lapangan tampak lengang. Sebagian warga tidak berani keluar untuk beraktivitas seperti biasa. Mereka memilih untuk tetap di dalam rumah. Sebagian lagi masih bertahan di lokasi pengungsian. (el)
Catatan: Tulisan ini sudah dimuat di komhukum.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar