"Pokoknya aku mau kamu harus tinggalkan PNS-mu. Aku tidak mau dinilai
sebagai pecundang dan penjilat pemerintah," tukas suamiku setelah
makan malam tadi. Saya tidak berkugam dan hanya diam sembari membereskan piring
dan gelas makan kami berdua dan bergegas naik ke tempat tidur.
Malam kian larut dan aku pun
tidak lekang terbui dalam mimpi tidur malam. Suamiku masih sibuk telpon dengan
teman-temannya. Ya sejak menjadi ketua tim sukses dalam pilkada serentak ini,
suamiku benar-benar sangat idealis dan berusaha agar menggulingkan calon
petahana yang dalam pemikirannya telah menjadi momok dalam kehidupan masyarakat
dan secara pribadi telah "membuang" aku untuk bertugas di tempat
terpencil ini.
"SK
ini penuh intrik politik. Ia tidak ingin aku menjadi oposisi dalam
kepemimpinannya. Lihat saja pembalasannya.Orang benar pasti menang,"
tegasnya kala itu ketika aku menerima SK pemindahan dari Ibu kota Kabupaten menuju kampung terpencil.
Dan kini hingga akhir pilkada
yang memenangkan calon petahana, suamiku tetap menilai kalau dia menjadi tumbal
dari politik dan tetap menolak hasil kemenangan. Tiap malam, ia bersama tim dan
orang-orang partainya terus melakukan penyusupan untuk melaksanakan gugatan. "Pokoknya saya tetap menolak
menandatangani hasil rekapitulasi itu karena money politic telah terjadi di
demokrasi kita ini. Proses hukum akan terus berlanjut," terdengar
suara suamiku di luar sana sebelum ia masuk dan memeluk aku dalam tidurnya.
****
Malam makin jauh berjalan.Dan
mataku menolak untuk terlelap. Bunyi suara binatang malam di awal musim hujan
terus menjadi harmoni nyanyian gelap seakan mendesak agar mentari segera
bangun. Lampu dinding semain redup seiring dengan meningginya harga minyak
tanah dan menyusup minyak di tabungannya yang ku buat dari bekas kaleng susu
indomilk dan sumbu dari kapas yang dipadatkan pada tangkai payung. kadang saya
berpikir apa yang diperjuangkan suamiku benar.
"Kamu ingat, pada kampanye pertama dulu mereka menjanjikan akan memasang
listrik hinggga ke pelosok daerah tetapi hasilnya kini hanya pepesan kosong.
Bahkan untuk mencumbu dirimu, aku harus merebut dengan gelap,"
tegasnya.
Aku terus termenung dengan waktu
malam yang makin menepi. Sebagai pegawai negeri sipil, saya juga menggugat
dengan kebijakan yang kadang tidak pro rakyat. Semua itu justru terlahir ketika
aku merasakan hidup di daerah pelosok ini. Sebagai Kepala Puskesmas di Desa Mae
Rebho ini ada banyak hal yang aneh. Puskesmas tanpa penerangan yang cukup, air
yang memadai dan petugas yang layak. Belum lagi persediaan obat-obat yang
sangat minim.
Apalagi bicara soal transportasi.
Kami masih mnggunakan tandu ala masa
Sudirman sebagai angkot untuk orang-orang sakit yang hidup di desa
pinggiran pegunungan ini. Syukur bahwa
telkomsel bisa masuk hingga di sini sehingga tiap hari
masih bisa berkomunikasi dengan orang-orang luar. Saking sangat aktif di FB,
orang menilai aku sebagai perawat yang paling suka narsis. Padahal itu hanya
salah satu cara saya membunuh kesepian. Namun meski demikian Kecamatan Mae
Rebho ini sangat terkenal di Kabupatenku dalam beberapa hal.
"Pokoknya kamu harus kuat Ina. Mae Rebho itu terkenal dengan black
magic. Dan lebih penting lagi, tempat ini dikenal sebagai lokus pembuangan
orang-orang yang melawan pemerintah. Jangan bicara benar atau salah dalam konteks
ini. Intinya kalau mau segera keluar dari sana harus patuh pada pemerintah
termasuk menjilat pantat mereka," bisik Ema sahabat sekantorku dulu
yang terkenal sangat kritis dalam menanggapi setiap kebijakan.
Meskipun demikian, Aku berusaha
untuk menerima SK pemindahan yang terkesan tiba-tiba dan tanpa alasan mendasar.
Kata-kata kepala yang diutarakan di awal penempatan seakan jadi oasis di tengah
gurun kehidupanku. "Ina, rasanya
berat kami harus kehilangan kamu. Tetapi ada misi besar di tempat baru ini.
Masyarakat di sana membutuhkan orang seperti kamu. Keputusan ini bukan sekedar
nipi kobhe tetapi melalui pertimbangan yang matang. Kamu sangat layak bertugas
di sana," tukasnya.
****
Kini sudah enam tahun saya
melewati waktu di tebing-tebing ngarai yang berjejer di Mae Rebho dengan
pegunungan yang diselimuti pohon-pohon keramat. Narasi klasik tentang
kegersangan sabana di dataran ratanya bersama orang-orang yang masih sangat
kuat menghidupi warisan primitif kini
berubah menjadi rasa cinta.
Mae Rebho telah menghempaskan
pandangan saya tentang mereka. Mereka bukanlah orang-orang primitif.
Masyarakatnya adalah pewaris leluhur yang handal. Mereka bersahabat dengan
alam. Memahami arti pekikan dari binatang-binatang liar dan mampu membahasakannya.
Mereka mampu berjalan malam bukan dengan
melihat tetapi mendengar. Bukan karena buta tetapi karena alam.Hari-hari
hidupku dihabiskan dengan masuk dalam kehidupan mereka. Kadang saya bukan lagi sebagai
perawat di tempat ini.
Tetapi sebagai antropolog walau
memang tidak sekaliber Pater Paul Arendt.
Atau segemilang kisah Wint Sargent yang nekat nikah kepala suku Dani, Obahorok hanya untuk mengetahui berapa besar
daya dorong yang memiliki banyak istri itu. "Saya sudah menikah dan suamiku seorang politikus ulung. Itu saja,"
titik.
Mae rebho kini telah merampas
setengah hatiku. Meskipun aku tahu suamiku tetap menolak untuk terus bertahan
di tempat ini. "Ini bukan surga
tetapi ini tempat buangan,"berkali-kali ia berusaha menyadarkan aku ketika
ku kisahkan kebahagiaanku sepulang mengunjungi masyarakat. Entah kenapa ia
terus mengingatkanku. Mungkin ia mendapatkan cahaya kegembiraan dalam wajah ku.
ah aku tak mau memaksanya. Entah kenapa!
Aku terus berusaha memaksa suamiku
agar bisa masuk dan menghabiskan waktu dengan masyarakat di Mae Rebho ini.
Tetapi ia lebih memilih menghabiskan waktunya di kota kabupaten dengan
idealisme dan cita-citanya yang tinggi. Sekali seminggu ia mengunjungi aku dan
menghabiskan kebersamaan itu hanya untuk
mencicipi tubuhku dengan erangan-erangan erotis dari pagi, malam hingga pagi
lagi. Ketika ku ajak untuk turun kampung selalu ada alasan.
"Aku capai. aku butuh refresing dan lebih penting lagi aku tidak
mau melewatkan kebersamaan kita hanya dengan orang-orang kampung,"
katanya sambil mengajak ku untuk bertarung di dipan-dipan yang mulai keropos
ini. Ya suamiku politikus. Ia hanya memikirkan strategi untuk jadi pemenang.
Andai saja ia mau ada bersama masyarakat mungkin ia akan jadi pemenang sejati
bukan terus-terus jadi petarung.
Ya, Mae rebho mungkin terisolasi
dan menjadi daerah buangan. Tetapi ia dibaluti dengan tanah yang mengandung
emas. Namun masyarakat di sini tidak serakah. Mereka berjalan dan tinggal di
atas emas. Mereka tidak mau menjualnya. Baginya tanah adalah rumahnya.
Kini, Mae Rebho menjadi buruan
banyak daeng-daeng bugis. Ya bukan dagangan yang dijajakan di sana. Tetapi
karena di sana bertaburan batu-batu akik yang katanya harganya telah memecahkan
rekor muri.
Daeng-daeng itu telah lari bersamaan dengan datangnya orang-orang
berdasi dari Jakarta dengan segembok kertas yang dicatut tandatangan kepala
daerah. "Kami ini utusan bupati
untuk mengeksplorasi tanah ini karena akan dibangun tambang agar bapak dan ibu-bu
terutama generasi penerusnya tidak lagi primitif," tutur mereka saat
bertemu dengan tokoh-tokoh masyarakat.
"Tidak. Ini tanah kami dan kami tidak mau merusaknya,"
tiba-tiba aku berteriak di antara kerumunan itu. Seluruh mata tertuju padaku.
Ada mata kebencian dan lebih banyak tatapan harapan dari masyarakat Mae Rebho
seakan berkisah agar aku terus maju hingga kemudian rombongan itu menghilang
satu per satu dan tinggal aku bersama masyarakat.
Kini tiba-tiba namaku mencuat di
media massa karena menolak pemerintah melakukan eksploitasi alam yang masih
perawan di Mae Rebho. Aku dikabarkan sebagai wanita besi yang berani menolak
kebijakan pemerintah. Berbagai ucapan dukungan mengalir ke hp seirama dngan
ribuan caci maki dan intimidasi yang tak juga henti. Aku merasa semua peristiwa
ini dipolitisasi oleh orang-orang yang berkepentingan termasuk pemerintah yang
berkuasa. Tetapi lebih dari itu kini saya seakan terjaga dari tidur yang panjang
kalau saya adalah istri politikus. Entah kenapa!
Kemudian terdengar bunyi ayam
hutan menyambut matahari pagi dan aku terbangun serta merapikan pakaian tidurku
yang sebagiannya terkulai lepas dari dipan-dipan tua.....***
Penulis:
Ghostwritter
Tinggal di
Soa-Ngada
Keterangan:
PNS; Pegawai Negeri Sipil
Mae Rebho: Jangan lupa (Bahasa Ngada)
Ame: Panggilan akrab untuk saudara di Ngada
Ina: Panggilan akrab untuk puteri
Daeng: Sapaan untuk penjual asal Bugis

Tidak ada komentar:
Posting Komentar