Sabtu, 15 Februari 2020

Tentang Buku “Jalan Lain”


PS (Bajawa) - Di dalam kehidupan ini, kita seperti main catur; mereka yang dapat melihat jauh ke depan itulah yang menang. Kata-kata dari Buxton Charles; Penulis dari Britania Raya tak sengaja terlintas dalam benak saya ketika pertama kali mendengar kisah hidup perjalanan karier dari Veronika Ulle Bhoga.

Ungkapan ini sengaja saya pilih mengawali penulisan buku biografi “Jalan Lain” - Perjalanan Karier Veronika Ulle Bhoga karena 70  tahun usia Veronika bukanlah waktu yang singkat bagi seorang pribadi yang tekun untuk menjadi “the best” terbaik bagi dirinya sendiri serta kemudian menelorkan nilai-nilai terindah untuk sesama.

Narasi perjalanannya adalah serpihan-serpihan terbuang yang kemudian dikumpulkan sehingga menjadi sebuah mozaik kisah hidup menarik sejak masa kanak-kanak yang terkesan konyol, masa remaja yang diwarnai dengan petualangan sebagai perantau dan masa dewasa yang penuh dengan perjuangan meraih kesuksesan.

Bila ditarik dari awal kisahnya, akan sampai pada satu titik keyakinan jika segala hal yang dilakukannya sejak usia dini hanya untuk menjadi terdepan. Kemauan ini memaksa dirinya menekuni berbagai profesi untuk mencapai target tersebut. Siapa sangka di usia masih kecil  ia telah memaksa dirinya menjadi penjual kelapa dengan menempuh perjalanan yang begitu panjang dan melelahkan hanya sekedar untuk merasakan kedukaan para sahabatnya yang datang dari kehidupan keluarga yang terbilang susah.

Sebagai putri dari seorang guru, Veronika cukup mendapat kehidupan yang mumpuni. Namun hal itu tidak membuat dirinya puas hati. Alasan ini membuat dirinya siap ketika diminta untuk melanjutkan pendidikan ke tempat jauh yakni tanah Jawa pasca menyelesaikan pendidikan sekolah menengah pertama. Di balik kemauan itu sebenarnya terbersit dari sebuah mimpi yang lahir dari potret buram di sebuah buku atlas yakni menginjak kaki di pelabuhan Tanjung  Priuk dan Tanjung Perak. Jadilah dirinya seorang yang bertipikal keriting Flores namun kehidupan budaya, bahasa yang melampaui teman-temannya yang berasal dari Jawa.
(Penulis Bersama Mama Vero dan keluarganya. Foto Piko Soa)

Beruntung Vero kecil dan keluarganya dikenal Pater Hubertus Hermens, SVD mampu menemukan talenta dan mimpi tersembunyi dari sosok wanita yang multitalenta ini. Ia bisa tampil begitu feminim namun tidak dipungkiri pada titik-titik tertentu dalam durasi perjalanan simponi hidup masa kecilnya, ia bergelut dengan profesi para lelaki seperti pemain sepak bola yang handal serta menghabiskan banyak waktunya menjadi orator-orator layaknya aktivis jejaka jalanan.

(Penulis Bersama Yoseph Aryanto Ludoni, B.Sc : Dosen Undana)
Tetapi sebaliknya ia pandai melantunkan nyanyian-nyanyian syair kehidupan dan jari jemalinya pandai memainkan tuts-tuts piano yang membuai. Di balik kesibukan itu ia terus mengasah kemampuan akademinya dengan berbagai ilmu. Sejak mengenyam pendidikan dasar, Vero kecil sudah menggilai gagasan-gagasan Soekarno dengan interpretasi buta, berlanjut dengan melahap karya-karya pujangga baru dan sastrawan-satrawan besar yang pada akhirnya mendorongnya pun untuk menulis.  Karya-karya fiktifnya seperti “Telegram”, “Jasa Tua Renta”, “Belenggu” dan “Dengarlah aku, jangan Paksa aku” adalah titisan hati yang pernah mewarnai kolom-kolom media di NTT.

Kecintaan yang total pada karya sastra ini memaksa dirinya untuk bertemu dengan beberapa penulis kawakan Indonesia hanya sekedar untuk berbagi cerita. Ia bisa menikmati sepoinya inspirasi Sanusi Pane pada puisi “Candi Mendut” ketika pertama kali berada di tempat yang sama.  Vero juga berusaha merasakan deraian air mata Mochtar Lubis ketika jadi tahanan dengan mengunjungi penjara penulis kisah “Bukan Karena Aku Perempuan” itu ditahan. Bahkan dengan keyakinan penuh mengunjingi N.H. Dini untuk mencari tahu kisah metafisik di balik karya “Di Atas Perahu”.


( Baju Puti Prof. Dr. Felisianos Sanga, M.Pd : Guru Besar Undana )
Perjuangan menjadi penulis ini ditilik Vero sebagai sebuah mimpi. Ia yakin jika hidup adalah mimpi; “lavida es Sueno”.  Namun ia tidak hanya tidur untuk bermimpi. Vero selalu terjaga untuk memenuhi mimpinya. Ia adalah tipe pribadi yang menurut Richard Wheeler sebagai orang yang selalu menginginkan impiannya menjadi kenyataan dan selalu menjaga dirinya agar tidak tertidur.

Mimpi itu terbayar secara bertahap bahkan mengejutkan serta tidak terduga. Ia bukan hanya mengagumi Soekarno namun pernah tampil secara memukau dan mendengar secara langsung suara sang proklamator itu. Bahkan pernah menjalani tugas yang intens dengan salah satu putri Presiden RI itu yakni Megawati Soekarnoputri: yang juga mantan Presiden Indonesia. Jika ditanya saat ini apakah ia telah menjadi yang terbaik?

Jawaban adalah ya. Veronika Ulle Bhoga telah menjadi terbaik dan terdepan bagi dirinya sendiri.  Bahkan ia juga telah menjadi guru yang baik di mata murid, dosen yang kaliber di mata mahasiswa, instruktur Guru yang handal di karier para pahlawan tanpa tanda jasa dan Anggota DPRD Kabupaten Ngada yang vokal menyuarakan aspirasi rakyat karena Ia mempunyai JALAN LAIN.

“Jalan Lain” adalah cetusan pilihan alternatif ketika dirinya hampir gagal. Jalan lain adalah rel yang menggambarkan potret perjuangannya yang tidak kenal lelah. Ketika gagal jadi perawat, ia memilih jadi guru dan berhasil. Ketika gagal diterima di Undana, Ia memilih UT dan berhasil. Ketika tak punya kos ia memilih menjadi sopir hanya untuk bisa mendapat tumpangan. Saat tidak ada jurusan bahasa Inggris, ia memilih menjadi pengajar bahasa Bangsa.

(Bersama Mahasiswa Citra Bhakti Ngada di acara launching Buku " Jalan Lain")
“Jalan Lain”  adalah kisah nyata kehidupan karier Veronika Ulle meniti mimpi.” Jalan lain” adalah sisi lain dari kehidupan yang lebih berpusat pada karier dan profesi. “Jalan Lain” adalah seni yang dimainkan oleh Vero untuk mengubah sebuah kemungkinan menjadi peluang. Tantangan menjadi keberuntungan. Bahkan bisikan dari kerumunan banyak orang diamininya sebagai peluang. Hal ini yang pada akhirnya menghantar dirinya sebagai DPRD Kabupaten Ngada hingga saat buku ini ditulis. Semuanya karena Veronika Ulle Bhoga punya “Jalan Lain” untuk menjadi yang terdahulu.

Info untuk yang berminat terhadap buku ini
Kontak di Ibu Vero:
No Hp:  081 339 316 493
WA :  081 339 316 493



Tidak ada komentar:

Posting Komentar