Secara kebetulan saya mendapat kiriman lagu “Kisah Yang Hilang” karya terbaru group GANAS : Gabungan Anak Soa ketika saya sedang membaca buku MIDAH : Simanis Bergigi Emas karya Pramoedya Ananta Toer. Penulis yang tidak pernah bertobat untuk menulis. Bahkan penjara sekalipun tak membuatnya berhenti sejengkal pun menulis. Hingga dari tangannya yang dingin telah lahir lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Karena kiprahnya di gelanggang sastra dan kebudayaan, Pramoedya Ananta toer dianugerahi pelbagai penghargaan International. Bahkan sampai akhir hidupnya, ia adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam daftar kandidat pemenang Nobel sastra. Kembali pada kisah MIDAH dan lagu terbaru tentang Kisah Yang Hilang?
MIDAH dalam karya Pram tergolong novel ringan yang ditulis pada warsa 50-an dengan settingan Djakarta. Namun isinya tidak ringan. Novel yang bisa diselesaikan dalam sekejap sembari menikmati kopi dan mengisap rokok ini memiliki pesan yang sangat kompleks. Kisah ini berawal dari kehidupan MIDAH yang dilahirkan dari keluarga mapan. Mapan dalam kehidupan agama, ekonomi, social, budaya dan sisi kehidupan lainnya. Kesempurnaan itu tercakup ideal ketika MIDAH terlahir dengan kulitnya kuning, wajah bulat, senyum manis, cantik parasnya, lentik suaranya dan kuat hatinya. Buah putrid dari Hadji Abdul dan Umi Kalsum ini hanya memiliki nama pendek: MIDAH.
Namun kemapanan itu tidak bertahan (baca abadi). Setelah MIDAH menemukan adanya yang hilang dari kehidupan yakni kasih sayang dan kebebasan. “Ketika kebebasan hilang pasti akan lahir pemberontakan,”. MIDAH terperangkap dalam jiwa pemberontakan itu. Meskipun akhirnya menikah dengan orang yang memiliki kemapanan seperti keluarganya hal itu tidak menjamin dirinya bahagia. Riak pemberontakan itu mulai terasa ketika ia meninggalkan Sang suami yang adalah pilihan sang ayah!. Dan akhirnya menemukan pilihan hidupnya menjadi “pelacur” setelah dititiplah dua bayi di bawah jantungnya oleh lelaki yang hanya menginginkan kemolekan dan kemasyuran namanya sebagai simanis bergigi emas.
Ada
yang menarik ketika bergumul dengan buku Pram dan lagu terbaru GANAS : Gabungan
Anak Soa. Keduanya berbicara tentang hal yang sama yakni kisah yang hilang. “Yang tersisa sekarang hanya cerita tentang
kisah yang hilang,”. MIDAH kehilangan banyak banyak hal : kasih sayang yang
pernah sempurna dalam kehidupannya tiba-tiab terenggut dengan kehadiran
adik-adiknya. Ia terperangkap dalam ego yang berlebihan awalnya dan berusaha
mencari pelampiasan dengan mencari kehidupan di luar kemapanan yang telah
diperoleh. Namun itu pun tidak sempurna untuk kembali menghapus kenangan masa
lalu. Ketika sudah berontak jauh, ia ingin kembali untuk menghidupkan kenangan
yang lalu tetapi pada akhirnya semua tinggal kisah yang semuanya menghilang.
Atau dalam bahasa GANAS : “ Ku ingin kau
kembali. Kau pergi tingglkan kisah. Semua menghilang. Tinggalkan kisah. Hanya
cerita. Kisah yang hilang,”.
GANAS yang merupakan kumpulan anak-anak Soa yang memilki skill di music, lukis, sastra dan potensi-potensi lainnya. Kelompok ini telah lama ada di tanah Soa. Dalam hal music mereka pernah menelorkan satu album yang berisikan lagu-lagu daerah Soa. Sebelas tahun yang lalu. Cukup lama mereka menghilang. Sebagai bagian dari kisah mereka saya maklumi kenapa kisah mereka ini hilang. Pertama, bahwa mereka terikat karena hobby. Itulah yang menyatukan mereka yang hadir dari berbagai latar belakang. Tuntutan ekonomi yang membuat mereka harus memilih meninggalkan kebersamaan ini dan focus untuk membangun ketahanan ekonomi mereka. Namun naluri music itu tidak pupus ternyata mereka punya kerinduan untuk kembali “lagu kisah yang hilang” bagian dari pemenuhan kerinduan itu. Dan di pantai indahnya Flores mereka mengelurakan semua kerinduan itu dalam alunan harmonica, petikan gitar, lukisan berwarna dan merdunya suara alam.
Kedua,GANAS sempat menghilang kurang
lebih sebelas tahun karena anggotanya memiliki genre music yang berbeda.Hingga
akhirnya beberapa personilnya harus bergabung dengan beberapa group music yang
memiliki aliran music yang sama. Kenyataan itu sempat teras a ketika awal-awal album perdananya
keluar. Kenyataan itu akhirnya bisa disatukan hanya karena lagu. Beberapa kali
berada di group ini, saya termotivasi untuk mencoba mengintegrasikan kemampuan
anggota ini dalam seni suara dan rupa (lukis). Tidak mengira bahwa diskusi yang
tidak resmi itu akhirnya bukan menjadi sebuah kisah yang hilang namun kisah
yang menyatu. Memang terdapat target lebih besar lagi namun “hadirnya lagu ini telah menghadirkan kisah
hangatnya kasih. Mengingat semua yang pernah terjadi,”.
Saya Pikir GANAS ke depan akan sama seperti MIDAH. Fokus pada lagu dengan menampilkan Flores. Meskiun alunan musiknya akan berubah-ubah tetapi kecintaan pada tanah Flores membuat mereka kembali. Mungkin inilah yang menjadi bocoran lagu berikutnya dengan judul “Flores I Am Your Son”. Entah kenapa ada pertalian antara MIDAH dan GANAS. Mencintai music yang lahir dari tanah sendiri.
Salah satu hal yang menjadi settingan Pram dalam kisah ini juga mengenai music. Puncak kebencian dan kaburnya “MIDAH” dari kehidupan keluarganya adalah ketika ayahnya menampar Midah karena jatuh cinta dengan keroncong yang kala itu dihargai sebagai lagu pemusik jalanan dan dianggap haram. Ayahnya lebih menginginkan si buah hati tertarik pada music-musik berbau Arab. Ternyata harapan itu pupus. Sebab sajian itu tak membuat MIDAH bahagia. Ia bahakan lebih tertarik pada lagu-lagu keroncong yang terkenal dengan pantun-pantun yang kadang Nampak jorok namun mewakili isi hati. MIDAH jatuh cinta pada music ini. Ia rela berjubel di jalanan dan membagikan tempat “tidurnya” dengan anak-anak jalanan yang jadi group kelompok keroncongan. Miris bagi masyarakat tetapi MIDAH punya kebenaran sendiri. Baginya lagu terindah adalah lahir dari situasi batin yang tenang.
GANAS pun demikian. Bukan mudah melahirkan music di kala dunia yang begitu sempurna dengan berbagai kemajuan. Tetapi mereka punya satu target yang dikespresikan yakni KEBEBASAN bukan pundi-pundi rupiah yang dikejar.dari hadirnya lagu ini. Mereka hanya punya keinginan untuk kembali pulang agar kebebasan berekspresi tidak jadi cerita yang hilang.
Jika di novel MIDAH, Pram ingin menegaskkan kekuatan seorang perempuan berjiwa dan berpribadi kuat melawan ganasnya kehidupan . Seorang perempuan yang tidak mudah ditaklukan oleh apa pun. Tapi di sisi lain ingin memperlihatkan kebusukan kaum moralis yang hanya rajin zikir tapi miskin cita rasa kemanusiaan dan juga serakah. GANAS pun punya cita rasa sendiri untuk dinyanyikan. Mari kembali pulang untuk hidupkan banyak kisah yang hilang.
GANAS dan MIDAH Sang Pelacur punya satu kisah yang hilang yang pasti kembali pulang untuk dihidupkan. “Ah itu music! Itu lagu! Itu keindahan. Itu kebebasan, keriangan, kebahagiaan,”. Akhirnya menarik mendengar lagu “Kisah Yang Hilang” sambil baca buku Pramoedya Ananta Toer : MIDAH simanis bergigi emas.
Ini lagunya:

Salam dan sukses selalu buat sodara Son Reho n Ganas Crew... Sukses selalu buat kalian... Terus lah berkarya.... Semangat
BalasHapusErtho de Flores
BalasHapusSangat luar biasa....
BalasHapuswah...luar biasa...
BalasHapuswah...luar biasa...
BalasHapuswah...luar biasa...
BalasHapus