Santa Cruz (Soa) - Soa ternyata menyimpan satu potensi alam yang tidak kalah menariknya dengan keindahan di mana pun layaknya cerita para petualangan.
Kalau orang bertanya tentang kota Seni, maka Paris dengan menara Eiffel akan menjadi pujaan semua seniman. Kalau berbicara tentang keabadian kota tua, maka Venisia yang terkenal sebagai negeri seribu kanal akan menawarkan Gondola untuk menghantar orang mengelilingi daerahnya. Atau aneka bunga Tulip yang setiap hari mendapat hembusan kincir angin membuat Belanda dinobat sebagai negeri kincir angin. Demikian juga di negeri Indonesia ini. Bali akan menjadi terkenal karena pesona alam yang menggugah orang untuk mendatanginya. Yogyakarta dengan sebutan kota kraton dan kota pelajar. Dan berbagai sebutan lain yang bisa kita temukan lagi. Hal ini mau menunjukkan bahwa eksistensi sebuah daerah bisa diidentikan dengan semua pesona yang ada di daerahnya. Pesona itu yang punya nilai seni, ganjil, indah, unik tetapi mengundang orang untuk mengisahkannya.
Kalau orang bertanya tentang kota Seni, maka Paris dengan menara Eiffel akan menjadi pujaan semua seniman. Kalau berbicara tentang keabadian kota tua, maka Venisia yang terkenal sebagai negeri seribu kanal akan menawarkan Gondola untuk menghantar orang mengelilingi daerahnya. Atau aneka bunga Tulip yang setiap hari mendapat hembusan kincir angin membuat Belanda dinobat sebagai negeri kincir angin. Demikian juga di negeri Indonesia ini. Bali akan menjadi terkenal karena pesona alam yang menggugah orang untuk mendatanginya. Yogyakarta dengan sebutan kota kraton dan kota pelajar. Dan berbagai sebutan lain yang bisa kita temukan lagi. Hal ini mau menunjukkan bahwa eksistensi sebuah daerah bisa diidentikan dengan semua pesona yang ada di daerahnya. Pesona itu yang punya nilai seni, ganjil, indah, unik tetapi mengundang orang untuk mengisahkannya.
Tetapi kalau goresan yang ingin ditampilkan di sini bukan berarti saya ingin mengidentikkan daerah-daerah tertentu dengan sebutan yang mentereng kayak di atas. Hal yang ingin ditekankan di sini bahwa popularitas sebuah daerah akan menjadi abadi apabila kita mampu mengembangkan segala hal yang ada di daerah menjadi menarik secara kontiniuitas. Semua hal di atas adalah potensi-potensi yang diciptakan dan di kembangkan manusia walau ada juga yang berasal dari alam yang kemudian mendapat sedikit intervensi dari manusia sehingga ia punya nilai untuk “dijual”. Pertanyaan kecil bagaimana dengan kita di Flores khususnya Soa?
Flores dulu dikenal dengan sebutan pulau bunga. Tapi kita tak banyak tahu mengapa Flores diidentikan dengan bunga. Tetapi mungkin yang mau ditampilkan bahwa daerah ini menyimpan sejumlah keindahan yang bisa mekar sesewaktu. Pesona keindahan yang menggugah orang untuk tercengang menyaksikan drama penangkapan ikan paus di Lamalera. Barisan peziarah Tuan Ma di Larantuka setiap Jumad agung atau liukan tarian Hegong daerah Sikka, Pesona danau tiga warna kabupaten Ende yang dilebur dalam pesona perumahan tradisional Bena atau pukulan cemeti yang bisa mengeluarkan darah pada tarian caci Manggarai yang kemudian ditutup dengan adanya binatang purba di penghujung pulau flores : pulau Komodo. Tetapi di balik pesona-pesona yang nampak itu masih banyak lagi yang belum ditampakan dan semua itu menarik untuk dikunjungi dan dipertontonkan. Bila hal ini ditampilkan maka tidak mengherankan kalau pada akhirnya flores juga menjadi target kunjungan wisatawan layaknya yang berada di pulau Dewata.
Pada tulisan ini, saya hendak menampilkan satu pesona alam Air panas yang ada di kecamatan Soa, kabupaten Ngada, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Sebuah pesona yang menampilkan dua hal yakni originalitas sebuah pesona alam dan modifikasi baru manusia untuk menambah keindahan pesona alam ini walau pada sisi tertentu masih banyak hal untuk diperhatikan bahkan menimbulkan keprihatinan. Originalitas alamnya terletak pada keaslian sumber air panas itu sendiri yakni keadaan di mana orang bisa mandi secara langsung di kolam aslinya sekaligus adalah tempat mata air dari sumber air panas itu sendiri yang diyakini masyarakat sekitarnya mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Sedangkan pembangunan yang dibuat oleh manusia (pihak pengelolah) yakni satu kolam renang tersendiri yang dibangun di tempat agak jauh dari sumber air untuk menjaga membludaknya kunjungan ke daerah ini. Sehingga originalitas dari sumber air panas itu tetap terjaga dan bisa dinikmati.
Untuk mencapai daerah ini kita bisa menggunakan kendaraan roda dua, empat bahkan pesawat terbang karena Bandar udara kabupaten Ngada berada di dekat sumber air panas itu sendiri. Letak tempat pemandian air panas ini yang oleh masyarakat local disebut Wae bana berada di daerah Mengeruda yang kira-kira 28 Km dari kota Bajawa (ibu kota kabupaten Ngada). Dalam perjalanan menuju daerah ini dari pusat kabupaten ada banyak pesona alam yang bisa kita nikmati seperti deretan pegunungan Wawo muda yang selalu mengeluarkan bauan belerang, persawahan masyarakat Soa yang mengundang banyak decak kagum. Selain itu di dekat air panas itu sekarang lagi diadakan penggalian fosil-fosil purba oleh arkeolog Australia dan Indonesia. Anda belum terlambat untuk merenggut keindahannya ini. (el)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar