Santa Cruz (Jakarta)- HUT kemerdekaan RI menjadi momen arus balik dalam mengkaji tiga janji para perintis kemerdekaan yakni mencerdaskan bangsa, menyejahterahkan rakyat dan melindungi negara.
Janji-janji perintis kemerdekaan pada saat ini sudah banyak dicapai tetapi apakah masih menjadi alur pikiran utama anak bangsa atau ia sudah menjadi “tulang-tulang berserakan yang tidak bisa meneriakan kemerdekaan lagi” sehingga menjadi ironi tersendiri di bumi pertiwi ini.
Menurut pengamat dan praktisi hukum kombes pol. (purn), Alfons Loemau, M.Si, M.Bus, tiga janji perintis kemerdekaan sekarang ini sudah banyak mengalami kemajuan tetapi masih terdapat persoalan-persoalan negara yang masih perlu menjadi perhatian untuk dioptimalkan kalau tidak dikatakan sebagai diabaikan.
Baginya perjuangan untuk mencapai cita-cita ini harus menjadi tugas dari semua elemen masyarakat tetapi yang paling bertanggungjawab adalah para pemimpin.
“Dalam pelaksanaan ini ada empat parameter yang harus dimiliki oleh para pemimpin bangsa setidaknya mencakup integritas moral, kompetisi karena pengetahuan dan pengalaman, memiliki wawasan kebangsaan dan mampu bertindak adil karena kepemimpinan yang baik,” tandasnya.
Menurutnya keempat parameter ini harus dimiliki oleh para pemimpin agar segala persoalan-persoalan dalam meraih cita-cita para perintis kemerdekaan bukan sekedar wacana bahkan mungkin hanya bualan tanpa makna.
“Berbagai persolan seputar lemahnya perlindungan terhadap anak bangsa yang menjadi pahlawan devisa dan kelompok minoritas yang berbeda paham dengan kaum mayoritas merupakan fakta nyata dari lemahnya perlindungan negara serta pemahaman wawasan kebangsaan yang rendah,” tegasnya.
Selain itu maraknya budaya korupsi, kolusi dan nepotisme yang tidak pernah berhenti adalah gambaran dari lemahnya integritas moral dan nilai-nilai pengetahuan dalam diri setiap pemimpin sehingga usaha menciptakan keadilan menjadi jauh dalam sistem peradilan dan hukum di negeri ini, tambahnya.
Persoalan ini bagi Dosen Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian itu, harus menjadi acuan para pemimpin dalam melihat HUT RI yang dirayakan sebagai momen introspeksi diri untuk keluar dari berbagai praktek kotor antara lain kecendrungan korupsi yang merusak negara dan menyengsarakan rakyat.
“HUT RI yang dirayakan harus menjadi saat untuk memerdekaan diri dari berbagai usaha untuk memperkaya diri dan golongan. Dengan demikian berbagai konspirasi kejahatan dalam diri para penguasa bisa direduksi,” tandasnya. (El)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar