Selasa, 27 Maret 2012

Kematian "Pembawa Damai" Rabbani Dan Geliat Percekcokan Afganistan-Pakistan

Santa Cruz (Jakarta)- Ia pernah menjadi pemimpin satu faksi Mujahidin Afghanistan, bahkan menduduki tampuk pimpinan negeri tersebut, tapi ia menemui ajal di tangan gerilyawan lain, peristiwa yang memicu gesekan antara dua negara bertetangga menjelang akhir 2011.

Pada Rabu (14/12), Menteri Luar Negeri Pakistan, Hina Rabbani Khar menuduh pengungsi Afghanistan sebagai penyebab kematian utusan perdamaian pemerintah di Kabul, Burhanuddin Rabbani. Meskipun keduanya menyandang nama Rabbani, mereka tak memiliki hubungan keluarga.

Pembunuhan Rabbani pada 20 September 2011 oleh seorang pembom bunuh yang mengenakan "turban" dan mengincar utusan perdamaian tersebut dengan Taliban membuat tergelincir upaya bagi pembicaraan perdamaian dengan faksi santri tersebut.

Peristiwa itu juga membuat tergantung harapan bagi penyelesaian politik guna mengakhiri 10 tahun perang saudara di Afghanistan.

Selama bertahun-tahun Rabbani memerangi tentara pemerintah di Kabul, asuhan bekas Uni Sovyet di bawah pimpinan Najibullah. Ia berjuang untuk mewujudkan perdamaian di negerinya, tapi ia menemui ajal di tangan bangsanya sendiri.

Burhanuddin Rabbani --yang dilahirkan pada 1940-- gugur pada Selasa, 20 September 2011 ,oleh seorang pembom bunuh diri dengan peledak yang disembunyikan di dalam ikat kepalanya --yang dalam bahasa setempat disebut turban.

Para pejabat Afghanistan menuding Islamabad sehubungan dengan pembunuhan itu. Mereka menyatakan aksi tersebut "direncanakan di Pakistan dan dilancarkan oleh seorang pembom bunuh diri berkebangsaan Pakistan", demikian laporan media internasional.

Namun Menteri Luar Negeri Pakistan, Hina Rabbani Khar pada Selasa (13/12) --hampir dua bulan setelah kematian Rabbani-- mengatakan kepada Majelis Tinggi Parlemen Pakistan bahwa pengungsi Afghanistan yang tinggal di Pakistan lah yang bertanggung jawab.

"Kita tak bertanggung jawab kalau pengungsi Afghanistan menyeberangi perbatasan dan memasuki Kabul, berada di wisma tamu dan menyerang Profesor Rabbani," kata beberapa pejabat, yang mengutip pernyataan Khar kepada Senat, sebagaimana dilaporkan AFP.

Pakistan menghadapi tekanan kuat internasional agar menindak gerilyawan garis keras di Pakistan tapi melancarkan serangan di Afghanistan.

Seorang pejabat Pakistan mengatakan kepada AFP kehadiran pengungsi Afghanistan adalah masalah penting buat Pakistan dan masalah bagi Afghanistan.

Pakistan sendiri tak ingin mengusir para pengungsi tersebut secara paksa, dan berusaha menyelesaikan masalah itu melalui perundingan, sebab "90 persen serangan teror di Pakistan mengarah ke pengungsi Afghanistan".

Pada November, Presiden Afghanistan, Hamid Karzai dan timpalannya dari Pakistan Asif Ali Zardari sepakat untuk bekerja sama dalam penyelidikan kasus pembunuhan Rabbani dalam upaya mengatasi ketegangan dan saling-tuduh.

Jutaan orang Afghanistan yang menyelamatkan diri dari perang selama beberapa dasawarsa pulang ke negeri mereka setelah Rabbani memangku jabatan, tapi sebanyak 1,7 juta orang lagi masih tinggal di Pakistan.

Burhanuddin Rabbani (1940 - 20 September 2011) menjadi Presiden Afghanistan periode tahun 1992-1996 dan untuk masa jabatan kedua pada tahun 2001.

Perjalanan hidup Rabbani Rabbani dulu adalah pemimpin Jamiat-e Islami Afghanistan (Masyarakat Islam Afghanistan). Dia juga salah satu pendiri awal dan pemimpin gerakan Mujahidin selama serbuan bekas Uni Soviet ke Afghanistan pada akhir tahun 1970.

Dia juga pernah menjabat sebagai kepala politik Front Serikat Islam untuk Keselamatan Afghanistan (UIFSA), aliansi berbagai kelompok politik yang berjuang melawan pemerintah Taliban di Afghanistan.

Ia menjabat sebagai Presiden dari 1992-1996 sampai ia dipaksa untuk meninggalkan Kabul karena pengambilalihan kota oleh Taliban. Pemerintahnya diakui oleh banyak negara, serta PBB. Dia juga kepala Front Nasional Afghanistan (yang dikenal di media sebagai Front Persatuan Nasional), oposisi politik terbesar pada pemerintah Hamid Karzai.

Rabbani sendiri sedang mengemban tugas untuk mengadakan pembicaraan dengan gerilyawan saat pembunuhan terjadi.

Menurut media internasional, penyerang tersebut telah diundang ke kediaman Rabbani di Kabul, ibu kota Afghanistan, bersama seorang rekannya sebab mereka diduga sebagai utusan yang membawa "pesan khusus" dari Taliban.

Tapi bom yang disembunyikan penyerang itu diledakkan saat ia memeluk Rabbani --pemimpin Dewan Perdamaian Tinggi Afghanistan, yang didirikan tahun 2010 oleh Presiden Hamid Karzai-- yang menyambut "utusan Taliban tersebut".

Kedua penyerang itu tiba di kediaman Rabbani bersama Mohammad Massom Stanikzai, seorang wakil Rabbani, untuk mengadakan pertemuan sebelum pembom bersorban meledakkan bomnya, kata satu sumber yang dikutip AFP. Namun laporan masih simpang siur mengenai siapa yang membawa pembom tersebut ke kediaman Rabbani, yang dijaga ketat.

Kepala penyelidik kriminal di Kabul, Mohammad Zaher, dilaporkan mengatakan kedua pria itu --"yang berunding dengan Rabbani atas nama Taliban"-- tiba di rumah mantan presiden Afghanistan tersebut dengan bahan peledak disembunyikan di sorbannya.

"Ia mendekati Rabbani dan meledakkan bomnya. Rabbani gugur dan empat orang lagi, Massom Stanikzai (wakilnya) cedera," kata Zaher, sebagaimana dikutip kantor berita trans-nasional.

Seorang anggota Dewan Perdamaian Tinggi, Fazel Karim Aymaq, dilaporkan mengatakan salah seorang dari kedua pria itu meletakkan kepalanya di pundak Rabbani dan meledakkan bom yang disembunyikan di sorbannya, sehingga Rabbani gugur.

Pembom tersebut tentu saja tewas sementara rekannya yang cedera ditangkap, kata satu sumber yang dekat dengan Rabbani sebagaimana diberitakan.

Tiga orang lagi, termasuk Stanikzai, juga cedera dalam peristiwa itu.

Rabbani dilaporkan berada di Dubai, Uni Emirat Arab, ketika ia dihubungi dan diminta pulang untuk bertemu dengan dua pemimpin senior Taliban.

Ia baru saja datang dari bandar udara setelah terbang dari Dubai ketika diserang dan gugur.

Sebanyak 140.000 prajurit internasional berada di Afghanistan untuk memerangi Taliban, terutama dari komando AS dan NATO, tapi semua pasukan tempur dijadwalkan meninggalkan negara yang dicabik perang tersebut pada penghujung 2014.

Pejabat senior militer AS Laksamana Mike Mullen dilaporkan mengatakan pembunuhan Rabbani dan pembunuhan lain oleh gerilyawan secara "sangat penting" tapi takkan memaksa perubahan dalam strategi perang sekutu.

Rumah Rabbani, tempat pembom melancarkan serangannya, dilaporkan berada di dekat kedutaan besar AS, yang diserang Taliban pekan sebelumnya, sehingga 14 orang tewas dalam pengepungan selama 19 jam.

Serangan terhadap Rabbani menjadi serangan kedua dalam satu pekan di daerah yang dirancang sebagai zona diplomatik yang dijaga dengan ketat di Kabul.

Itu juga adalah yang paling akhir dari serangkaian pembunuhan tokoh penting, termasuk saudara tiri Karzai pada Juli.

Rabbani, mantan pemimpin kelompok Mujahidin pada masa pendudukan bekas Uni Soviet di Afghanistan pada 1980-an, dipilih oleh Karzai untuk memimpin Dewan Perdamaian Tinggi pada Oktober lalu. Ia ditugasi merundingkan diakhirinya perang di negara itu secara politik. Taliban telah berusaha menggulingkan Karzai sejak serbuan pimpinan AS tapi tak kunjung berhasil.

Rencana Rabbani meliputi tawaran pengampunan dan pekerjaan kepada tentara Taliban serta pemberian suaka di negara ketiga bagi para pemimpinnya.

Rabbani (71) menjadi presiden Afghanistan selama perang saudara berkecamuk di negeri itu dari 1992 sampai Taliban mengambil-alih tampuk kekuasaan pada 1996.

Rabbani, putra dari Muhammed Yousuf, dilahirkan di Badakshan, Afghanistan Utara. Ia berasal dari suku Tajik.

Setelah menyelesaikan pendidikan di provinsi kelahirannya, ia pergi ke Darul-uloom-e-Sharia (Abu Hanifa), sekolah agama di Kabul. Ketika lulus dari sekolah Abu Haniga, ia menimba ilmu di Kabul University untuk mendalami Teologi dan Hukum Islam.

Selama empat tahun di Kabul University, ia jadi terkenal karena karyanya mengenai Islam. Tak lama setelah lulus pada 1963, ia dipekerjakan sebagai pengajar di Kabul University.

Untuk mengembangkan dirinya, Rabbani pergi ke Mesir pada 1966, dan ia diterima di Al-Azhar University di Kairo, tempat ia mengembangkan hubungan erat dengan pimpinan Ichwanul Muslimin.

Selama dua tahun, Rabbani meraih gelas Master di bidang Filsafat Islam. Ia menjadi salah satu orang Afghanistan pertama yang menerjemahkan karya Sayyid Qutub ke dalam bahasa Farsi (Persia).

Sayyid Qutub adalah penulis, pendidik, ahli teori Islam, penyair dan anggota penting Ichwanul Muslimin pada 1950-an dan 1960-an di Mesir.

Sayyid Qutub menulis 24 buku, termasuk novel, kritik seni sastra, dan pendidikan. Ia terkenal di dunia Muslim karena karyanya mengenai apa yang ia percaya sebagai peran Islam dalam bidang sosial dan politik, terutama di dalam bukunya Social Justice dan Ma'lim fi-l-Tariq. Karya besarnya, Fi Zilal Al-Qur'an --Di Bawah Bayangan Al-Qur'an-- berisi komentar 30-volume mengenai Al-Qur'an.

Rabbani kembali ke Afghanistan pada 1968, dan Dewan Tinggi Jamiat-e-Islami memberi dia tugas mengurus mahasiswa. Karena reputasi, pengetahuan dan dukungan aktifnya bagi masalah Islam, pada 1972, dewan 15-anggota tersebut memilih dia sebagai pemimpin Jamiat-e-Islam Afghanistan. Peresmiannya sebagai pemimpin faksi itu juga dihadiri oleh pendiri Jamiat-e-Islami Afghanistan, Ghulam M. Niyazi. Kebanyakan anggota Jamiat-e-Islami adalah suku Tajik.

Polisi gagal tangkap Pada musim semi 1974, polisi datang ke Kabul University untuk menangkap Rabbani karena pendirian pro-Islamnya, tapi dengan bantuan mahasiswanya, ia mampu meloloskan diri dan polisi tak berhasil menangkap dia. Ia melarikan diri ke daerah pedesaan.

Ketika tentara Uni Sovyet mendukung kudeta 1979, Rabbani membantu memimpin Jamiat-e-Islami dalam melancarkan perlawanan terhadap pemerintah Partai Demokratik Rakyat Afghanistan (PDPA) di Kabul.

Pasukan Rabbani adalah unsur pertama Mujahidin yang memasuki Kabul pada 1992, ketika pemerintah PDPA di bawah Najibullah terguling.

Najibullah menggantian Babrak Karmal (6 Januari 1929 - 3 Desember 1996), dan menjadi presiden ketiga Afghanistan dari 1979 sampai 1986 --selama priode komunis PDPA. Babrak Karmal terkenal karena kepemimpinannya yang beraliran Marxis.

Ia mendapat kekuatan dengan bantuan Uni Soviet, tapi tidak mampu mengkonsolidasi kekuatannya, sehingga pada tahun 1986 ia digantikan oleh Dr. Mohammad Najibullah. Babrak Karmal meninggalkan Afghanistan menuju Moskow, namun ia kembali ke Kabul tahun 1989. Ia meninggal dunia di Moskow pada 3 Desember 1996.

Setelah tentara bekas Uni Sovyet ditarik, berbagai faksi Mujahidin sepakat untuk mencalonkan Rabbani sebagai presiden Afghanistan selama satu tahun --1992.

Namun, ia tetap bertahan pada kekuasaan dan pada 1994, Kabul tenggelam dalam perang saudara saat tiga faksi yang bersekutu untuk menentang Rabbani untuk memaksa dia melepaskan jabatan sebagai presiden bergilir.

Ia tetap menjadi pemimpin faksi Jamiat-e-Islami, tapi pada kenyataannya tak banyak berperan. Rabbani telah berjanji bahwa Aliansi Utara takkan mengangkangi kekuasaan.

Ia pernah mengatakan ia akan menyambut pemerintah dengan dasar luas di Afghanistan. Sewaktu memerintah, Rabbani mengizinkan perempuan bekerja dan anak perempuan mengenyam pendidikan yang lebih tinggi.

Kekacauan yang terjadi setelahnya mengakibatkan kemunculan Taliban, yang muncul dari kalangan Mujahidin Pashtun dan akhirnya mengusir Rabbani dan pendukungnya dari Kabul pada 1996.

Pada 1996 Rabbani pernah mengatakan AS mesti membantu menghimpun pemerintah persatuan di Afghanistan.

"Amerika adalah negara kuat dan mereka harus melaksanakan kewajiban mereka," kata Rabbani saat itu.

Ia belakangan muncul lagi sebagai tokoh tangguh Aliansi Utara --meskipun sebagian orang menyatakan ia cuma namanya saja menjadi pemimpin. Aliansi itu terutama terdiri atas suku minoritas Tajik dan Uzbek, dan menentang kekuasaan Taliban.

Sejak tahun lalu, Rabbani memimpin Dewan Perdamaian Tinggi, yang dibentuk oleh Karzai, tapi dewan itu gagal membuat kemajuan, sementara berbagai faksi yang berperang saling melancarkan serangan dalam konflik yang berlarut-larut di negeri tersebut. (El)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar