Rabu, 28 Maret 2012

Mampukah Jokowi-Ahok Mendobrak Permainan Politik Uang ?

Santa Cruz (Jakarta)- Riak pertarungan untuk menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta kini makin memanas dengan hadirnya calon-calon yang menyandang berbagai visi misi untuk membuat Jakarta menjadi terbaik. Gencarnya perebutan kursi nomor satu DKI ini membuat Center for Indonesia Reform (CIR) memprediksi Pemilu kepala daerah DKI Jakarta akan berlangsung dua putaran.

"Pada putaran kedua akan bertarung Jokowi-Ahok dan Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini. Mereka mewakili semangat populisme dan 'grass root' versus profesionalisme dan kelas menengah. Ini sangat positif bagi perkembangan Ibukota karena dapat mencegah anarkisme dan pragmatisme (money politics)," kata peneliti CIR Rian Stadi di Jakarta, Kamis (22/03).

Rian Stadi berargumentasi, karena calon gubernur incumbent Foke (Fauzi Bowo) mengambil cawagub dari Partai Demokrat, maka berdasar survei cepat dan data dari beberapa media popularitas Foke-Nara merosot drastis setelah ditantang Jokowi-Ahok yang diusung PDIP-Gerindra. Lantas, akankah prediksi ini menjadi nyata?

Kenyataan ini menjadi tantangan sendiri bagi calon-calon dari daerah yang berani berkecimpung dalam pilkada di DKI Jakarta seperti Jokowo-Ahok sekaligus gugatan atas kinerja calon gubernur incumbent Fauzi Bowo.

Menurut, Pengamat dan praktisi hukum, Alfons Loemau, M.Si, M.Bus kehadiran calon Gubernur dan Wakil Gubernur dari daerah untuk turut aktif dalam pilkada Jakarta merupakan satu fenomena baru yang memberi inspirasi bagi orang-orang yang punya rekor baik di daerah dan dibanggakan oleh rakyat untuk bisa berkecimpung di Jakarta dengan keadaan masyarakat yang pluralistik. Pertanyaannya bagaimana meriahnya peta pertarungan para kandidat disaat mendatang?

"Menilik dari berbagai survei, kehadiran Jokowi-Ahok telah mendongkrak popularitasnya di mata masyarakat Jakarta sekaligus menenggelamkan popopularitas tokoh-tokoh yang telah lama ada di Jakarta termasuk Foke. Tetapi apakah Jokowi-Ahok mampu mendobrak berbagai potensi, indikasi permainan politik uang yang makin menjamur," tandasnya.

Menurut dosen Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) ini , kepiwaian dan kesuksesan yang diraih oleh Jokowi selama berada di Solo, maupun figur Ahok di Belitung Timur, tidak menjadi jaminan untuk meraih kemenangan dalam pilkada Jakarta dengan masyarakat yang beragam.

"Perlu kerja keras dari partai pengusung Jokowi-Ahok untuk mendulang suara rakyat dalam pilkada Jakarta nanti agar popularitas yang sekarang diagung-agung tidak hanya wacana semata. Suasana Pertarungan ini apabila dapat dimenangkan oleh pasangan Jokowi dan Ahok, dan akan merupakan arena ujicoba pertarungan perebutan posisi RI I di tahun 2014" tegas Alfons. (El)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar