Selasa, 27 Maret 2012

Teropong (3) : Mencerdaskan Bangsa Dalam Diam

Santa Cruz (Depok) - Ketika semua orang tertuju dan bercengkeraman dalam cerita ria tentang mudik dan lebaran, Arul (28) justru sibuk mengatur dan memajangkan buku-buku untuk dijual di Stasiun Lenteng Agung.

Pria dua anak kelahiran Banjar Negara, Jawa tengah ini, memilih untuk tetap menjalani rutinitas harian yang telah digelutinya sejak tahun 2007 sebagai penjual buku dan majalah second tanpa memikirkan sedikitnya untuk mudik di tanah kelahirannya.

“Ya biar di sini aja bang. Ngapain harus balik ke kampung halamannya. Biar aku tetap cari rezeki di sini,” katanya kepada Komhukum.com (29/8).

Arul sendiri yakin bahwa gema mudik mempengaruhi penjualan buku-bukunya, di mana omzet penjualan mengalami penurunan.

“Ya biasanya sih pembelian pada saat lebaran semakin berkurang. Kalau hari-hari biasa, buku bisa terjual hingga Rp. 200.000–Rp. 300.000 tetapi sejak mudik pendapatan sehari dari penjualan buku ini cuma dapat Rp. 100.000,” jelasnya.

Walaupun demikian lelaki tamatan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama ini mengaku bersyukur dengan usaha yang digelutinya karena bisa menambah wawasan bagi bangsa Indonesia.

“Meskipun pendapatannya tidak seberapa tetapi kita bersyukur bisa menolong orang untuk menambah wawasannya. Biar tidak sempat membeli tetapi melihat orang membaca saja kita sudah senang,” tegasnya.

Berdasarkan pantauan Komhukum.com, tempat penjualan Arul menawarkan berbagai jenis buku dan majalah dengan tema berbeda yang dipajang di tiga ruangan yang masing-masing ruangan berukuran 2x2 m. Menurut Arul ruangan itu dikontrakan olehnya dan setiap bulan ia harus membayar kewajiban kepada pihak pengelolah.

“Tiap bulan aku membayar sewa bangunan ini masing-masing Rp. 500.000  per ruangan. Jadi totalnya Rp 1.500.000 tiap bulan,” tambahnya. Arul adalah segelintir orang yang mau bertahan untuk sebuah usaha yang amat berguna bagi bangsa.

Sadar atau tidak sadar, Arul telah mulai dengan usaha yang menjadi ideal dari cita-cita RI. Arul tidak membutuhkan retorika indah untuk memulai tetapi melaksanakan dengan aksi mencerdaskan dalam diam.

Tetapi apakah Para Pemimpin Bangsa ini sempat menilik pria kelahiran Banjarnegara yang setiap hari menjajakan pengetahuan di stasiun Lenteng Agung kepada para pekerja dan mahasiswa yang kebetulan mampir di stasiun tersebut?  (EL)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar