Santa Cruz (Jakarta) – Matahari mulai bersembunyi dari
bumi ketika saya memasuki kampung Melayu yang didominasi oleh masyarakat
Betawi.
Saat itu, gema pembukaan ramadhan mulai terasa.
Terbersit dalam hati untuk menulis beberapa tradisi yang masih cukup banyak dihidupi
oleh suku yang masih exist di ibu kota negara ini.
Salah satu tradisi yang dihidupi menjelang ramadhan adalah tradisi
“Nyorog” ala warga Batavia (Betawi).
Di lingkungan masyarakat Betawi, tradisi “Nyorog” atau
membagi-bagikan bingkisan makanan kepada anggota keluarga yang lebih tua,
seperti Bapak/Ibu, Mertua, Paman, Kakek/Nenek, Kakak menjadi sebuah kebiasaan
yang sudah sejak lama dilakukan sebelum datangnya bulan suci Ramadhan.
Walaupun istilah “Nyorog”nya terkesan mulai pudar,
namun kebiasan mengirim bingkisan sampai sekarang masih ada di dalam masyarakat
Betawi. Bingkisan tersebut biasanya berisi bahan makanan mentah, ada juga yang
berisi daging kerbau, ikan bandeng, kopi, susu, gula, sirup, dan lainnya.
Memberikan bahan Sembako (sembilan bahan pokok) juga sah-sah saja kok.
Tradisi “Nyorog” di masyarakat Betawi memiliki makna
sebagai tanda saling mengingatkan, bahwa bulan suci Ramadhan akan segera
datang. Selain itu tradisi “Nyorog” juga melambangkan sebagai pengikat tali
silahturahmi sesama sanak keluarga. Alangkah indahnya bila kita dapat berbagi
menjelang datangnya bulan suci Ramadhan. (El)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar