Selasa, 17 Juli 2012

Meniti Budaya “Nyorog” Kala Senja Bersama Warga Betawi


Santa Cruz (Jakarta) – Matahari mulai bersembunyi dari bumi ketika saya memasuki kampung Melayu yang didominasi oleh masyarakat Betawi.


Saat itu, gema pembukaan ramadhan mulai terasa. Terbersit dalam hati untuk menulis beberapa tradisi yang masih cukup banyak dihidupi oleh suku yang masih exist di ibu kota negara ini.

Salah satu tradisi yang dihidupi menjelang ramadhan adalah tradisi “Nyorog” ala warga Batavia (Betawi). 

Di lingkungan masyarakat Betawi, tradisi “Nyorog” atau membagi-bagikan bingkisan makanan kepada anggota keluarga yang lebih tua, seperti Bapak/Ibu, Mertua, Paman, Kakek/Nenek, Kakak menjadi sebuah kebiasaan yang sudah sejak lama dilakukan sebelum datangnya bulan suci Ramadhan. 

Walaupun istilah “Nyorog”nya terkesan mulai pudar, namun kebiasan mengirim bingkisan sampai sekarang masih ada di dalam masyarakat Betawi. Bingkisan tersebut biasanya berisi bahan makanan mentah, ada juga yang berisi daging kerbau, ikan bandeng, kopi, susu, gula, sirup, dan lainnya. Memberikan bahan Sembako (sembilan bahan pokok) juga sah-sah saja kok.

Tradisi “Nyorog” di masyarakat Betawi memiliki makna sebagai tanda saling mengingatkan, bahwa bulan suci Ramadhan akan segera datang. Selain itu tradisi “Nyorog” juga melambangkan sebagai pengikat tali silahturahmi sesama sanak keluarga. Alangkah indahnya bila kita dapat berbagi menjelang datangnya bulan suci Ramadhan. (El)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar