Rabu, 10 Oktober 2012

Mereka Menulis Saat Kematian Ada Depan Mata

Santa Cruz (Jakarta) - Waktu itu pagi sedang menganjak siang kala BBC melangsirkan sosok gadis asal Pakistan yang menghentakan dunia lewat tulisan-tulisannya di blog.

Malala Yousafzai, gadis berumur 11 tahun berhasil mengisahkan semua kehidupannya secara pribadi dan wanita Pakistan dalam diary lusuhnya.

Melalui blognya, dia menceritakan kehidupannya yang dipenuhi intimidasi dan teror dari Taliban yang melarang wanita untuk mengenyam pendidikan. Padahal, Malala sangat ingin belajar dan menjadi seorang dokter.

Keberanian dari gadis murni dan polos ini pun mendapat sambutan dari berbagai pihak. Malala terkenal di berbagai media Pakistan dan Barat karena keberaniannya menyuarakan penentangan terhadap Taliban.

Bagi ku saat itu, Malala bagaikan Annelies Marie "Anne" Frank yang berusaha menulis semua kisah pilu kehidupannya dalam goresan pena yang akhirnya abadi untuk dibicarakan khayalak ramai.

Annelies Marie "Anne" Frank yang lahir 12 Juni 1929 – Februari/Maret 1945 adalah seorang perempuan keturunan Yahudi yang sangat dikenal karena tulisannya dalam sebuah buku harian ketika ia bersembunyi bersama keluarga dan empat orang lainnya di Achterhuis, Amsterdam semasa pendudukan Nazi di Belanda pada Perang Dunia II.

Setelah bersembunyi selama dua tahun, mereka dikhianati dan dibawa ke kamp konsentrasi yang mengakibatkan seluruh penghuni Achterhuis tewas kecuali Otto Frank, ayah Anne.

Saat, Otto kembali ke Amsterdam, asistennya yang bernama Miep Gies menyerahkan buku harian Anne yang ditemukannya. Otto berusaha mempublikasikan buku tersebut karena ia mengetahui harapan putrinya untuk menjadi seorang penulis.

Buku harian tersebut diberikan kepada Anne pada ulang tahunnya yang ketiga belas dan mencatat rentetan peristiwa-peristiwa kehidupan Anne dari 12 Juni 1942 hingga catatan terakhir pada 1 Agustus 1944.

Akhirnya buku harian itu diterjemahkan dari bahasa Belanda ke berbagai bahasa dan menjadi salah satu buku yang paling banyak dibaca di dunia. Beberapa produksi teater dan film juga mengangkat tema diary ini.

Buku harian yang digambarkan sebagai karya yang dewasa dan berwawasan ini menyodorkan potret kehidupan sehari-hari yang mendalam di bawah pendudukan Nazi. Melalui tulisannya, Anne Frank menjadi salah satu korban Holocaust yang paling banyak dibicarakan.

Anne dan Malala memiliki banyak persamaan. Pertama, keduanya hidup di dunia yang penuh dengan intimidasi di mana segelintir kelompok melihat orang lain sebagai serigala yang harus dihilangkan. Meminjam kata-kata Thomas Hobbes: Homo Homini Lupus, Manusia menjadi serigala bagi sesama. 

Kedua, keduanya ingin intimidasi yang dialami mereka harus dilawan. Pena satu-satunya menjadi senjata bagi mereka dalam melawan. Buku diary menjadi teman yang menyaksikan air matanya jatuh ketika mereka mulai mengisah.

Entah mereka berpikir untuk mengabadikannya sehingga menjadi kisah yang tak akan lusuh? karena tulisan tak akan hilang dan ia akan abadi. Atau mereka sekadar melepas duka setelah dunia begitu bengis diciptakan dalam tapak hidupnya? "Scripta Manen Verba Volant" yang tertulis abadi, ucapan akan berlalu bersama angin.

Namun pengalaman kisah dunia mencerita lain bagi keduanya. Tulisan-tulisan mereka telah menjadi proklamasi kemerdekaan bagi sejumlah orang yang telah ditindas. Tulisannya diabadi dan diakui banyak kalangan.

Tulisan Anne telah menjadi buku Best Seller berbagai zaman dan kemudian ditayangkan. Demikian goresan Malala dari Lembah Swat yang sejak tahun  2009,  berada dalam kuasa Taliban, sampai militer menyerbu dan membebaskan wilayah tersebut dari teroris juga dapat banyak apresiasi.

Walaupun saat Taliban berkuasa, Malala terpaksa menyembunyikan bukunya agar tidak ditemukan namun semangat menulis tak pernah pudar. Bayang-bayang ketakutan selalu ada di kelopak matanya namun tangannya tak berhenti untuk mengisah dalam goresan di diary yang lusuh.

 Dengan menulis diary (dalam bentuk blog) di situs BBC Urdu, yang isinya kebanyakan soal kehidupan di bawah Taliban, yang saat itu menduduki lembah itu.

"Saya takut dipenggal oleh Taliban karena keinginan saya untuk belajar. Selama mereka berkuasa, Taliban sering memeriksa rumah kami untuk melihat apakah kami sedang belajar atau nonton TV," kata Malala kepada CNN tahun lalu.
(Malala Gadis Kecil jadi Duta Perdamaian)
Banyak orang Pakistan menganggap Malala, yang juga mempromosikan keberaksaraan dan perdamaian, sebagai simbol harapan dalam sebuah negeri yang begitu lama dirundung kekerasan dan pertikaian.

Pada 2011 pemerintah Pakistan menganugerahi Malala hadiah perdamaian nasional yang berhadiah 1 juta rupees (Rp. 100 juta).

Berkat tulisannya, Malala menjadi pemenang pertama Penghargaan Perdamaian Nasional Pakistan pada November tahun lalu.

Namun keberanian Malala ini menuai petaka. Taliban marah sebab gadis 14 tahun ini terang-terangan menentang kekuasaan mereka melalui tulisan dalam sebuah blog.

Taliban menguasai wilayah itu sejak 2007, setelah terusir dari pemerintah Afganistan oleh tentara pendudukan Amerika Serikat.

Namun pada 2009, Taliban juga kehilangan kekuasaannya di Swat, ketika pasukan militer Pakistan merangsek besar-besaran ke sana pada 2009.

Ketika berkuasa, Taliban menutup sekolah dari para perempuan, memberlakukan hukum Islam yang rigid, dan melarang hiburan (misal, tidak boleh menyalakan musik di mobil).

Puncaknya hari ini, kenangan saya akan gadis yang disanjung dua tahun yang lalu berubah menjadi duka.

Malala Yousufzai ditembak di kepala dan lehernya oleh teroris Taliban yang menyergap bus sekolahnya di Lembah Swat, sebelah barat laut Islamabad. Beruntung, tembakan tersebut tidak sampai menewaskannya. Malala kini dalam kondisi stabil, namun peluru masih bersarang di lehernya.

Tembakan teroris itu juga melukai dua orang kawannya yang lain. Menurut laporan saksi mata yang dikutip CNN, para pelaku menghadang bus Malala dan masuk ke dalamnya. Mereka menanyakan yang mana yang bernama Malala. Setelah Malala ditemukan, mereka lantas menembakinya tanpa ampun.

"Dia pro-Barat. Dia menentang Taliban dan menyebut Presiden Obama sebagai pemimpin panutannya. Dia masih muda tapi mempromosikan budaya Barat di wilayah Pashtun," kata juru bicara Taliban, Ehsanullah Ehsan.

Presiden Asif Ali Zardari dan Perdana Menteri Raja Pervez Ashraf mengutuk keras serangan terhadap Malala. Serangan tersebut juga menuai kecaman dari berbagai lapisan masyarakat di Pakistan.

Namun beruntung relawan yang mengkampanyekan hak-hak perempuan (remaja), dinyatakan dalam kondisi stabil pascaoperasi.

Serangan itu menuai kutukan dari politisi, aktivis, dan masyarakat, hingga Presiden Amerika Serikat. Ribuan orang dari seluruh dunia mengucapkan dukungan pada Malala melaui media sosial.

Taliban menyatakan menargetkan Malala karena dia disebut "mempromosikan sekularisme."

Juru bicara kelompok militas Islam itu, Ehsanullah Ehsan, mengatakan bahwa Malala masih tetap dalam target pembunuhan Taliban. Akankah Sang Blogger ini tetap menulis diantara moncong senjata yang terus mengarah padanya? (El)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar