PS (Jakarta) - Berabad-
abad yang lalu sejarah dunia mencatat bagaimana seorang pahlawan yang
mengalahkan musuhnya di berbagai pertempuran. Dia adalah salah satu pahlawan
Romawi yang terkenal yaitu figur Julius Caesar.
Di abad kedua sebelum
Masehi, sesudah kemenangannya menundukkan Cartago dalam Perang Punik kedua,
orang-orang Romawi sudah berhasil mendirikan kekaisaran yang luas. Penaklukan
ini membikin mereka punya harta melimpah. Tetapi, peperangan membikin keadaan
sosial ekonomi porak poranda dan banyak petani terusir dari sawah ladangnya.
Senat Romawi, yang
asalnya semacam dewan kota kecil, terbukti tak mampu mengatur negeri yang sudah
begitu melebar secara efisien. Korupsi politik merajalela dan seluruh daerah
Laut Tengah menderita sangat akibat ketidakbecusan pemerintah Romawi.
Julius Caesar mungkin
pemimpin politik penting pertama yang dengan gamblang melihat bahwa
pemerintahan demokratis di Roma tak ada faedahnya dipertahankan, dan memang
sesungguhnya sudah lama tak ada bawa faedah.
Caesar merancangkan
pelbagai program perbaikan. Dia merencanakan penempatan veteran tentara serta
kaum miskin penduduk Romawi di dalam suatu masyarakat baru di seluruh
kekaisaran. Dia pun memperluas kewarganegaraan Romawi dengan memberi kesempatan
kepada pelbagai golongan memasukinya.
Dia merencanakan meletakkan
dasar administrasi seragam untuk seluruh pemerintahan kota-kota di seluruh
negeri. Dan tak lupa rencana pembangunan, serta kodifikasi hukum Romawi. Yang
tidak berhasil dilakukannya adalah menyusun sistem konstitusi yang memuaskan
untuk pemerintah Romawi. Dan inilah mungkin yang menjadi sebab utama
kejatuhannya.
Walaupun berbagai
pertempuran yang dipimpin oleh Julius Caesar telah mengalahkan musuh-musuh
Romawi sehingga membawa nama kebesaran Romawi, pada akhirnya dia harus
tersungkur di kaki para senator yang dipimpin oleh Brutus.
Di saat terakhir Julius
Caesar menarik nafas kehidupannya, ia masih sempat berkata simpatik kepada
sahabatnya, Brutus sang pengkhianat: “ Tu quoque, Brute, fili mi ” (Engkau
juga, Brutus, anakku?) atau “ Et tu, Brute ” (Dan engkau juga, Brutus?). Caesar
sadar di saat-saat terakhirnya, bahwa sahabat karibnya telah mengkhianatinya
secara sadis!
Demikiam Bangsa
Indonesia juga belum melupakan bagaimana proses demokrasi di Indonesia tercetus
pada saat rakyat mulai belajar memilih pasca era Suharto yang menempatkan Abdul
Rahman Wahid alias Gus Dur menduduki kursi Kepresidenan.
Perang Baratayuda antara
pemimpin Republik Indonesia dan Majelis Perwakilan Rakyat berhadapan dengan
segelintir elite politik yang berada di Senayan. Suasana semakin memanas
pada saat dalam 1 sidang dengan Dewan Perwakilan Rakyat, Presiden Abdul Rahman
Wahid sempat melontarkan pernyataan "Kalau DPR seperti anak Taman
Kanak-kanak?” .
Beribu alasan dicari,
persekutuan dan persengkokolan para elite politik mulai bersinergi dengan
berbagai dalih dan akhirnya dari dalih tersebut dibuatlah suatu keputusan
Mahkamah Agung untuk memverifikasi daftar dosa yang menetapkan dan
menggiring Gus Dur terdepak keluar dari istana dengan bercelana pendek sambil melambaikan
tangan.
Pada saat itu, berbagai
media cetak dan elektronik mempertontonkan bagaimana dengan tenangnya Gus Dur
dengan dituntun melangkah keluar dari Istana Negara. Beragam spekulasi muncul
apakah dengan tindakan pelengseran Gus Dur tersebut yang notabene dipilih
rakyat akan menimbulkan reaksi keras akibat kekecewaan rakyat karena pilihan
mereka dilengserkan. Ternyata, keadaan landai-landai saja.
Kini Beberapa saat yang
lalu kembali muncul figur baru yang menyuarakan bahwa anggota DPR memalak BUMN
yang artinya BUMN dijadikan sapi perah oleh para anggota DPR yang terhormat
itu. Praktek pemalakkan dan menempatkan BUMN sebagai “sapi perah” bagaikan
aroma kentut dalam kendaraan Busway.
Dahlan Iskan, menteri
BUMN adalah orang yang berani berteriak di atas busway ada bau kentut dan
diduga ada penumpang yang melepaskan gas busuk tersebut. Masyarakat berharap,
Dahlan Iskan bagaikan sebuah “bom” yang diledakkan di tengah malam hening,
apabila ledakan yang dibunyikan oleh Dahlan Iskan ini hanyalah petasan banting
dan bukan bom, maka pertanyaan yang akan timbul adalah apakah Dahlan Iskan sang
maestro akan bernasib seperti seorang Julius Caesar ataukah seorang Gus Dur?
Masyarakat Indonesia akan menantikan serangan balik dari para macan. (Piko Soa)
NB: Dari catatan Diary
Lama

Keren dan menarik
BalasHapus