Kamis, 30 Mei 2019

Neil Armstrong: Pahlawan Yang Tak Mau Disebut Sebagai Pahlawan

(Neil Armstrong)

PS (Soa) -  Matahari masih menampakan ganasnya kala saya membaca buku "Makhluk-makhluk yang kembali ke LANGIT," karangan Ansi Mansour di sore 26 Agustus 2012 dan kala BBC News melangsirkan kematian sosok yang begitu mendunia dan sederhana, Neil Armstrong.

"Neil Armstrong, manusia pertama yang mendarat di Bulan dalam misi Apollo pada tahun 1969, wafat dalam usia 82 tahun pada Sabtu (25/08)," demikian cuplikan pertama yang saya dengar.

Ku tutup lemabaran buku usang yang telah saya lewati semalam suntuk karena kajian-kajian kritisnya dan membuka televisi yang mulai ramai membicarakan lelaki yang mengisahkan kembali pengalaman perjamuan terakhir Yesus saat ia berada di Bulan.

Entah ini benar atau tidak tapi sekurang-kurangnya, kekagumannya pada Yesus saat menginjak bulan membuat saya mulai sedikit mengenal sang pahlawan NASA ini.

"Ketika pertama menuang anggur di cawan ini, saya teringat kembali akan peristiwa perjamuan terakhir Yesus bersama dengan murid-murid-Nya dulu," demikian tulisnya kala itu setelah mencicipi anggur di bulan.

Tetapi saya sendiri tak ingat lagi judul buku ini karena sudah terlampau lama melewatinya dan ini hanya sekedar memori yang kembali terkenang setelah mendengar kematiannya. Kalau pun ada yang mengira saya ngawur mengatakan ini tak menjadi problem tapi satu hal yang perlu diiingat kalau saat itu, saya yakin bahwa kamu juga adalah pecinta Neil Amstrong dan mungkin tahu lebih banyak tentang sosok ini dari saya. Karena pengenalan saya akan Neil sendiri cuma suatu: Keterkejutan.

Neil Armstrong, manusia pertama yang menginjakkan kaki ke Bulan, telah pergi. Tidak seperti misinya ke Bulan pada Juli 1969, kali ini ia tidak akan kembali. Namun bagi banyak orang, ia akan selalu dikenang karena kesetiannya menjalankan tugas.

Armstrong dikabarkan meninggal dunia setelah sebelumnya menderita kompilkasi penyakit usai menjalani operasi cardiovascular. Meski begitu, keluarga tidak memberitahukan di mana dan kapan Armstrong wafat.

Armstrong Yang Saya Tahu

Armstrong lahir di Wapakoneta, Ohio, 5 Agustus 1930. Ketertarikannya terhadap pesawat terbang muncul sejak ia pertama kali naik pesawat pada usia 6 tahun. Saat pecah Perang Korea tahun 1950, Armstrong meninggalkan Universitas Purdue dan bergabung dengan misi tempur 78 sebagai penerbang angkatan laut.

Ketika perang berakhir, ia bergabung dengan National Advisory Committee for Aeronautics (NACA) pada 1955 sebagai pilot uji coba. Selama 17 tahun kemudian, ia bertindak sebagai teknisi, pilot, astronot, dan administrator di NACA yang kemudian berganti menjadi National Aeronautics and Space Administration (NASA).

Saat menjadi pilot penguji, Armstrong menerbangkan berbagai pesawat paling mutakhir saat itu, termasuk pesawat ramping berbentuk roket X-15 yang berkecepatan 6000 km/jam. Ia menerbangkan pesawat itu hingga ketinggian 58 kilometer, mendekati tepian ruang angkasa. Selain itu, Armstrong juga menerbangkan lebih dari 200 pesawat berbeda, termasuk jet, roket, helikopter, dan glider.

Armstrong Menjadi Astronot

Armstrong kemudian diajukan menjadi astronot tahun 1962. Ia ditugaskan menjadi komandan pilot pada misi Gemini 8. Gemini 8 diluncurkan 16 Maret 1966, dan Armstrong berhasil merapatkan (docking) dua wahana di ruang angkasa.

Misi Gemini nyaris menjadi bencana saat sebuah roket pendorong wahana macet dalam kondisi terbuka sehingga membuat pesawat berputar-putar di angkasa. Dengan ketenangan yang menjadi cirinya, Armstrong menggunakan sistem cadangan, menghentikan perputaran pesawat, lalu melakukan pendaratan darurat di Samudra Pasifik.

Dalam persiapan melakukan misi ke Bulan, Armstrong harus belajar bagaimana menerbangkan modul yang akan mendarat secara vertikal di permukaan Bulan. Kembali, Armstrong nyaris celaka ketika wahana latihan terguling ke samping, dan ia harus melompat dengan kursi lontar hanya beberapa puluh meter dari tanah.

Setelah beberapa tahun berlatih, saat yang dinanti pun tiba. Pada 16 Juli 1969, roket raksasa Saturn V diluncurkan dari Kennedy Space Center dalam misi Apollo 11, membawa Armstrong yang saat itu berusia 38 tahun, bersama Buzz Aldrin dan Mike Collins ke Bulan.

Armstrong menyatakan bahwa pendaratan ke Bulan itu merupakan titik tertinggi dari semua misinya. Ia mengamati kawah-kawah tua dan bukit-bukit hening di Bulan saat Aldrin memberitakan ke pengendali misi, "Houston, Tranquility Base here. The Eagle has landed."

Armstrong kemudian menjadi orang pertama yang menginjakkan kaki di Bulan. Ia terkenal dengan kata-kata "That's one small step for (a) man, one giant leap for mankind," saat melangkah di satelit Bumi itu. "Satu langkah kecil seseorang ini, satu lompatan raksasa bagi umat manusia."
(Langkah Pertama Yang Mengubah Sejarah)
Walau sambutan terhadap misi begitu meriah, setelah penerbangan Apollo 11 yang bersejarah itu, Armstrong tetap rendah hati dan bersahaja. Ia meninggalkan NASA untuk mengajar teknik di Universitas Cincinnati dan menjadi anggota dewan di beberapa perusahaan kedirgantaraan.

Dalam salah satu kesempatan memperingati 30 tahun pendaratan ke Bulan bersama astronot-astronot Apollo lain, Armstrong berujar, "Dalam pandangan saya, pencapaian penting Apollo menunjukkan bahwa kemanusiaan tidak selamanya terikat pada planet ini, dan visi kita terbang jauh lebih tinggi, dan kesempatan kita tak terbatas."

Pahlawan Sepanjang Masa

Kematian Amstrong juga menimbulkan duka cita sendiri bagi ribuan orang yang ada di bumi ini. Bahkan orang-orang yang tidak menyaksikan aksi tiga jam Amstrong dan Buzz Aldrin di bulan kini pun begitu akrab dengan sosok yang dikenal sebagai "Pahlawan Tanpa Publisitas Diri".

Barack Obama pun seperti biasa dalam pilihan katanya yang singkat cuma mengungkapkan belangsungkawanya dengan kesederhanaan!

Armstrong sebagai ''salah satu pahlawan terbesar Amerika, bukan hanya di masanya tetapi juga semua masa.''

Pernyataan yang melengkapai momen di bulan November silam kala ia menerima Medali Emas Kongres, penghargaan tertinggi bagi warga sipil AS.

Dia merupakan komandan pesawat ruang angkasa Apollo 11. Lebih dari 500 juta pemirsa TV di seluruh dunia menyaksikan detik-detik saat pesawat tersebut mendarat di permukaan Bulan.

Armstrong dan rekannya Edwin "Buzz" Aldrin menghabiskan waktu sekitar tiga jam berjalan di Bulan, mengumpulkan sampel, melakukan percobaan dan mengambil gambar foto.


"Pemandangannya sangat luar biasa, lebih dari pengalaman visual yang pernah saya jalani,'' kata Armstrong saat menceritakan pengalamannya di Bulan.

Aldrin kepada BBC mengatakan: ''Sangat sedih bahwa kami tidak bisa bersama sebagai sebuah kru saat perayaan 50 tahun misi.. Saya akan selalu mengingatnya sebagai komandan yang sangat cakap.''

Armstrong hingga akhir hayatnya dikenal sebagai tokoh yang rendah hati dan tidak pernah terlibat dalam kemewahan eksplorasi ruang angkasa.

"Saya selalu dan akan terus menjadi kaus kaki putih, pelindung kantung, teknisi kutu buku,'' katanya di Februari 2000 dalam sebuah penampilan publik yang jarang dia lakukan.

Dalam sebuah pernyataan, keluarganya memuji sebagai ''seorang yang enggan disebut sebagai pahlwan Amerika'' yang ''dengan bangga berbakti kepada negaranya, sebagai pilot jet tempur, tes pilot dan astronot.''

Kini Armstrong telah "terbang" lebih tinggi. Hidupnya dirayakan banyak orang sebagai contoh keteguhan sekaligus kerendahan hati. Bagi mereka yang ingin menghormati Armstrong, keluarganya minta agar mengenangnya setiap mereka memandang Bulan, mengingat pendaratan manusia di Bulan, sekaligus menyadari Armstrong sudah "mendarat" di tempat lain. The eagle has landed. Selamat jalan Neil Armstrong. (Piko Soa)

NB: Ditulis pada saat hari kematian Armstrong

Tidak ada komentar:

Posting Komentar