![]() |
| (Neil Armstrong) |
PS (Soa) - Matahari masih
menampakan ganasnya kala saya membaca buku "Makhluk-makhluk yang
kembali ke LANGIT," karangan Ansi Mansour di sore 26 Agustus 2012
dan kala BBC News melangsirkan kematian sosok yang begitu mendunia dan
sederhana, Neil Armstrong.
"Neil Armstrong, manusia pertama
yang mendarat di Bulan dalam misi Apollo pada tahun 1969, wafat dalam usia 82
tahun pada Sabtu (25/08)," demikian cuplikan pertama yang saya dengar.
Ku tutup lemabaran buku usang yang telah
saya lewati semalam suntuk karena kajian-kajian kritisnya dan membuka televisi
yang mulai ramai membicarakan lelaki yang mengisahkan kembali pengalaman
perjamuan terakhir Yesus saat ia berada di Bulan.
Entah ini benar atau tidak tapi
sekurang-kurangnya, kekagumannya pada Yesus saat menginjak bulan membuat saya
mulai sedikit mengenal sang pahlawan NASA ini.
"Ketika pertama menuang anggur
di cawan ini, saya teringat kembali akan peristiwa perjamuan terakhir Yesus
bersama dengan murid-murid-Nya dulu," demikian tulisnya kala itu
setelah mencicipi anggur di bulan.
Tetapi saya sendiri tak ingat lagi judul
buku ini karena sudah terlampau lama melewatinya dan ini hanya sekedar memori
yang kembali terkenang setelah mendengar kematiannya. Kalau pun ada yang
mengira saya ngawur mengatakan ini tak menjadi problem tapi
satu hal yang perlu diiingat kalau saat itu, saya yakin bahwa kamu juga adalah
pecinta Neil Amstrong dan mungkin tahu lebih banyak tentang sosok ini dari
saya. Karena pengenalan saya akan Neil sendiri cuma suatu: Keterkejutan.
Neil Armstrong, manusia pertama yang
menginjakkan kaki ke Bulan, telah pergi. Tidak seperti misinya ke Bulan pada
Juli 1969, kali ini ia tidak akan kembali. Namun bagi banyak orang, ia akan
selalu dikenang karena kesetiannya menjalankan tugas.
Armstrong dikabarkan meninggal dunia
setelah sebelumnya menderita kompilkasi penyakit usai menjalani operasi
cardiovascular. Meski begitu, keluarga tidak memberitahukan di mana dan kapan
Armstrong wafat.
Armstrong Yang Saya Tahu
Armstrong lahir di Wapakoneta, Ohio, 5
Agustus 1930. Ketertarikannya terhadap pesawat terbang muncul sejak ia pertama
kali naik pesawat pada usia 6 tahun. Saat pecah Perang Korea tahun 1950,
Armstrong meninggalkan Universitas Purdue dan bergabung dengan misi tempur 78
sebagai penerbang angkatan laut.
Ketika perang berakhir, ia bergabung
dengan National Advisory Committee for Aeronautics (NACA) pada
1955 sebagai pilot uji coba. Selama 17 tahun kemudian, ia bertindak sebagai
teknisi, pilot, astronot, dan administrator di NACA yang kemudian berganti
menjadi National Aeronautics and Space Administration (NASA).
Saat menjadi pilot penguji, Armstrong
menerbangkan berbagai pesawat paling mutakhir saat itu, termasuk pesawat
ramping berbentuk roket X-15 yang berkecepatan 6000 km/jam. Ia menerbangkan
pesawat itu hingga ketinggian 58 kilometer, mendekati tepian ruang angkasa.
Selain itu, Armstrong juga menerbangkan lebih dari 200 pesawat berbeda,
termasuk jet, roket, helikopter, dan glider.
Armstrong Menjadi Astronot
Armstrong kemudian diajukan menjadi
astronot tahun 1962. Ia ditugaskan menjadi komandan pilot pada misi Gemini 8.
Gemini 8 diluncurkan 16 Maret 1966, dan Armstrong berhasil merapatkan (docking)
dua wahana di ruang angkasa.
Misi Gemini nyaris menjadi bencana saat
sebuah roket pendorong wahana macet dalam kondisi terbuka sehingga membuat
pesawat berputar-putar di angkasa. Dengan ketenangan yang menjadi cirinya,
Armstrong menggunakan sistem cadangan, menghentikan perputaran pesawat, lalu
melakukan pendaratan darurat di Samudra Pasifik.
Dalam persiapan melakukan misi ke Bulan,
Armstrong harus belajar bagaimana menerbangkan modul yang akan mendarat secara
vertikal di permukaan Bulan. Kembali, Armstrong nyaris celaka ketika wahana
latihan terguling ke samping, dan ia harus melompat dengan kursi lontar hanya
beberapa puluh meter dari tanah.
Setelah beberapa tahun berlatih, saat yang
dinanti pun tiba. Pada 16 Juli 1969, roket raksasa Saturn V diluncurkan dari
Kennedy Space Center dalam misi Apollo 11, membawa Armstrong yang saat itu
berusia 38 tahun, bersama Buzz Aldrin dan Mike Collins ke Bulan.
Armstrong menyatakan bahwa pendaratan ke
Bulan itu merupakan titik tertinggi dari semua misinya. Ia mengamati
kawah-kawah tua dan bukit-bukit hening di Bulan saat Aldrin memberitakan ke
pengendali misi, "Houston, Tranquility Base here. The Eagle has
landed."
Armstrong kemudian menjadi orang pertama
yang menginjakkan kaki di Bulan. Ia terkenal dengan kata-kata "That's
one small step for (a) man, one giant leap for mankind," saat
melangkah di satelit Bumi itu. "Satu langkah kecil seseorang ini,
satu lompatan raksasa bagi umat manusia."
![]() |
| (Langkah Pertama Yang Mengubah Sejarah) |
Walau sambutan terhadap misi begitu
meriah, setelah penerbangan Apollo 11 yang bersejarah itu, Armstrong tetap
rendah hati dan bersahaja. Ia meninggalkan NASA untuk mengajar teknik di
Universitas Cincinnati dan menjadi anggota dewan di beberapa perusahaan
kedirgantaraan.
Dalam salah satu kesempatan memperingati
30 tahun pendaratan ke Bulan bersama astronot-astronot Apollo lain, Armstrong
berujar, "Dalam pandangan saya, pencapaian penting Apollo
menunjukkan bahwa kemanusiaan tidak selamanya terikat pada planet ini, dan visi
kita terbang jauh lebih tinggi, dan kesempatan kita tak terbatas."
Pahlawan Sepanjang Masa
Kematian Amstrong juga menimbulkan duka
cita sendiri bagi ribuan orang yang ada di bumi ini. Bahkan orang-orang yang
tidak menyaksikan aksi tiga jam Amstrong dan Buzz Aldrin di bulan kini pun
begitu akrab dengan sosok yang dikenal sebagai "Pahlawan Tanpa Publisitas
Diri".
Barack Obama pun seperti biasa dalam
pilihan katanya yang singkat cuma mengungkapkan belangsungkawanya dengan
kesederhanaan!
Armstrong sebagai ''salah satu
pahlawan terbesar Amerika, bukan hanya di masanya tetapi juga semua masa.''
Pernyataan yang melengkapai momen di bulan
November silam kala ia menerima Medali Emas Kongres, penghargaan tertinggi bagi
warga sipil AS.
Dia merupakan komandan pesawat ruang
angkasa Apollo 11. Lebih dari 500 juta pemirsa TV di seluruh dunia menyaksikan
detik-detik saat pesawat tersebut mendarat di permukaan Bulan.
Armstrong dan rekannya Edwin
"Buzz" Aldrin menghabiskan waktu sekitar tiga jam berjalan di Bulan,
mengumpulkan sampel, melakukan percobaan dan mengambil gambar foto.
"Pemandangannya sangat luar
biasa, lebih dari pengalaman visual yang pernah saya jalani,'' kata
Armstrong saat menceritakan pengalamannya di Bulan.
Aldrin kepada BBC mengatakan: ''Sangat
sedih bahwa kami tidak bisa bersama sebagai sebuah kru saat perayaan 50 tahun
misi.. Saya akan selalu mengingatnya sebagai komandan yang sangat cakap.''
Armstrong hingga akhir hayatnya dikenal
sebagai tokoh yang rendah hati dan tidak pernah terlibat dalam kemewahan
eksplorasi ruang angkasa.
"Saya selalu dan akan terus menjadi
kaus kaki putih, pelindung kantung, teknisi kutu buku,'' katanya di
Februari 2000 dalam sebuah penampilan publik yang jarang dia lakukan.
Dalam sebuah pernyataan, keluarganya
memuji sebagai ''seorang yang enggan disebut sebagai pahlwan Amerika'' yang
''dengan bangga berbakti kepada negaranya, sebagai pilot jet tempur, tes pilot
dan astronot.''
Kini Armstrong telah "terbang"
lebih tinggi. Hidupnya dirayakan banyak orang sebagai contoh keteguhan
sekaligus kerendahan hati. Bagi mereka yang ingin menghormati Armstrong,
keluarganya minta agar mengenangnya setiap mereka memandang Bulan, mengingat
pendaratan manusia di Bulan, sekaligus menyadari Armstrong sudah
"mendarat" di tempat lain. The
eagle has landed. Selamat jalan Neil Armstrong. (Piko Soa)
NB: Ditulis pada saat hari kematian Armstrong



Tidak ada komentar:
Posting Komentar