![]() |
| (Mama Loretha Dengan Sorgum Panenannya) |
PS (Bajawa) - Ada dua
hal yang terbersit di benak saya ketika berkenalan dengan Aktivis pertanian
asal Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT, Maria Loretha yang kembali
menghentakan jagat nusantara setelah dirinya dinobatkan menjadi salah satu
penerima penghargaan Anugerah Seputar Indonesia 2015 yang diselenggarakan
sebagai bentuk penghargaan tertinggi bagi para pejuang Ibu Pertiwi yang tak
kenal lelah mengabdikan dirinya untuk Indonesia pada tanggal 09 Juni 2015 yang
lalu.
Pertama, Maria Loretha bukanlah orang asli Adonara.
Namun meski demikian aktivitas harian yang dilakukan oleh dirinya baik di
Adonara maupun Pulau Flores telah banyak membawa perubahan di daerah tersebut.
Bahkan aktivitasnya jauh lebih unggul dibandingkan dengan orang-orang aslinya.
Saking dekatnya dengan rutinitasnya dan masyarakat NTT, Maria Loretha lebih
memilih menjadi orang NTT (baca Flores) yang berkepribadian.
"Harapan saya terhadap perempuan Flores ya tetap menjadi perempuan Flores
yang berkepribadian mencintai lingkungan alam dan budaya, menjaga kesehatan
dirinya dan membuka diri untuk mau berubah secara positif," kisahnya
mengawali cerita dengan penulis.
Tampil sederhana tanpa
riasan, ia berpostur langsing, rambut menjejak pundak serta kulit kuning adalah
riasan naturalis wanita keturunan Dayak Kanayatn yang berubah “eksotis”
kecokelatan karena terpapar sinar matahari dan kini menjadi ikon sorgum di
Indonesia dan dipuja banyak khayalak ramai. “Kalau di Jakarta saya dianggap
sampah, tetapi di Nusa Tenggara Timur menjadi selebriti,” ungkapnya
berseloroh.
Kedua, anugerah Seputar Indonesia 2015 adalah
penghargaan kesekian kalinya bagi Maria Loretha setelah sebelumnya menerima
Forum Akademia NTT Award, Kartini Award, Kehati Award, Ashoka Global Washington
DC 2013 dan penghargaan nasional dan internasional lainnya.
Tetapi siapa menyangka
bahwa tanah Flores Timur yang kini telah menjadi surganya sorgum yang lahir
dari perjuangan Maria Loretha sebenarnya adalah tanah yang tidak pernah
diimpikan dan telah memaksanya menjatuhkan air mata duka karena
terkenal dengan ladang gersang. Siapa sangka dari air mata yang jatuh itu kini
mengeluarkan air mata bahagia karena banyak apresiasi penghargaan bagi Maria
loretha. Kini namanya menjadi buah bibir karena keuletannya.
Pasalnya, Perempuan itu
sering meneteskan air mata saat awal-awal ia dan keluarganya berdiam di pesisir
Flores. Kamarnya hanya berjarak 35 meter dari bibir pantai. “Setiap ada kapal
Pelni lewat, KM Awu dan KM Sirimau, saya cepat-cepat lari ke dermaga, hanya mau
melihat dan berpikir kapan bisa pulang, karena tidak punya uang. Mau minta uang
pada orangtua malu,” kisahnya kepada media ketika menceritakan momen awal di
Flores.
Hanya ketekunan dan
kerja keras yang membuat dirinya mampu melawan situasi batas ini. "Saya
hanya bawa DUIT: Doa, Usaha, Ikhlas dan Tekun," ungkapnya kepada setiap
media ketika ditanya mengenai semangatnya.
Setiap kali menyebut
profesi sebagai petani, jarang ada yang mau percaya. “Dahulu, bila saya datang
untuk memberikan pendampingan dan membagi bibit sorgum, disangka bawa banyak
uang. Memang dukungan finansial itu penting, namun bukan segalanya. Sebelum
memulai pembicaraan, selalu saya tekankan, ‘Saya hanya bawa DUIT: Doa, Usaha,
Ikhlas dan Tekun’. Nah, sejak saat itu tidak ada lagi yang bertanya saya akan
bagi-bagi uang,” tambah Maria Loretha yang biasa disapa Mama atau Tata—dalam
bahasa setempat adalah ‘kakak'.
Cerita
suksesnya Maria Loretha, Aktivis pertanian yang meraih anugerah
seputar Indonesia 2015 Untuk kategori Tokoh Pengabdian yang aktif mengembangkan
tanaman sorgum sebagai pangan lokal sebenarnya tercetus sama seperti yang
dilakukan oleh penemu teori relativitas khusus yakni adanya perhatian
pada kondisi manusia, ketidakadilan sosial, dan kebajikan-kebajikan seperti
sifat tak mementingkan diri sendiri dan pengabdian kepada cita-cita yang lebih
tinggi.
Sepuluh tahun setelah
cerita sukses Albert Einstein menemukan teori relativitas khusus, ia menemukan
teori relativitas umum yang menjelaskan gravitasi bukan hanya sebagai suatu
daya, tetapi lebih tepatnya sebagai pelengkungan ruang-waktu.
Sebelum Einstein, para
fisikawan telah memandang waktu dan ruang betul-betul terpisah satu sama lain,
materi dan energi berbeda secara mendasar, dan gravitasi sebagai daya misterius
yang bertindak dari jauh melalui ruang kosong. Cerita sukses dari karya
Einstein membuktikan bahwa semua kepercayaan ini salah, merevolusi
konsep-konsep dasar kenyataan.
Seperti kebanyakan
pelopor fisika modern, Einstein mengajar di universitas-universitas Jerman
hingga Nazi berkuasa. Pada tahun 1933, ia melarikan diri ke Amerika Serikat dan
menghabiskan sisa hidup aktifnya di Lembaga Universitas Princeton untuk Studi
Lanjut di New Jersey.
Di sana ia melanjutkan
cerita sukses pencarian teori medan terpadu yang akan menyatukan ruang, waktu,
dan gravitasi dengan elektromagnetisme. Cerita sukses Albert Einstein banyak
dihabiskan untuk fokus pada proyek ini daripada yang lain.
Di sepanjang cerita
sukses hidupnya, Einstein bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis dan
juga ilmiah. Ia sangat menaruh perhatian pada kondisi manusia, ketidakadilan
sosial, dan kebajikan-kebajikan seperti sifat tak mementingkan diri sendiri dan
pengabdian kepada cita-cita yang lebih tinggi. Pandangan-pandangan religiusnya
sebagian besar dipengaruhi oleh Baruch Spinoza, yang kehidupannya sejajar
dengan Einstein di dalam banyak hal.
Seperti cerita sukses
teori-teori Einstein, karya terbesar Spinoza, Ethics, mengungkapkan mistisisme
rasionalnya di balik abstraksi-abstraksi logis sambil menyimpulkan bahwa
harmoni alam membuktikan keberadaan Tuhan. Dan bahwa kesederhanaan yang anggun,
keesaan yang telah lama diharapkan Einstein dalam setiap cerita suksesnya,
ditemukan di dalam teori medan terpadu yang sukar dipahami, memegang kunci bagi
segala pengertian.
Seperti ditulis
Einstein: “Semua agama, seni, dan ilmu adalah cabang-cabang dari pohon
yang sama. Semua cita-cita ini diarahkan pada pemuliaan kehidupan manusia,
mengangkatnya dari lingkungan keberadaan jasmani dan membawa individu menuju
kebebasan duniawi.”
Kini nama Maria Loretha
memang tidak asing lagi bagi masyarakat Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.
Berkat kegigihannya, ia mampu mempopulerkan kembali sorgum yang berguna untuk
mengatasi krisis pangan di wilayahnya. Sama halnya dengan Einstein kekuatannya
itu adalah fokus pada apa yang dibuatnya. Hasilnya, kiprah perempuan yang kerap
disapa Mama Tata ini pun mendapat apresiasi hingga tingkat internasional.
Sedangkan terkait
dirinya meraih Anugerah Seputar Indonesia 2015 dirinya punya kisah sendiri.
Pasalnya saat itu dunia musik dangdut Indonesia dihebohkan dengan munculnya
Azizah sebagai salah satu kontetas yang masuk final di ajang Kontes Dangdut
Indonesia (KDI). Azizah adalah sosok fenomenal dari Flores. Dan di ajang final,
ikon Flores ini juga tersingkir karena poling SMS. Kecemasan itu sempat membuat
mama Tata dilematis.
|
(Mama Tata Pada Sebuah Acara Penerimaan Penghargaan)
|
"Status di FB pasca
kekalahan Azizah yang mewakili NTT sangat miris. Saya sempat ajukan ke RCTI
menolak dengan sistem pemilihan SMS VOTING. Karena kita pasti kalah dan orang
kita tidak punya modal untuk beli pulsa yang sekali sms Rp. 2.000 lebih bukan
karena jumlah penduduk NTT sedikit tetapi juga karena jaringan internet yang
lemot," kisahnya mengenai keterlibatan menjadi nominator di salah satu
acara bergengsi di tanah air ini yang salah satu penilaiannya melalui poling
SMS.
Selain itu, mama Tata
juga harus bertarung dengan semua nominator yang rata-rata adalah orang-orang
hebat bahkan beberapa dari mereka sudah menerima penghargaan international.
"Jadi belum ada kepastian SIAPA pemenang. Baru 80% belum yakin benar untuk
raih kemenangan total," tegasnya.
Keyakinan yang besar ini
membuktikan bahwa KERJA KERAS & CERDAS akan dihargai."Dan kita
buktikan
orang NTT pasti BISA
!,"tegasnya. Hal ini yang membuat para juri kagum bahkan menganggap
dirinya melakukan kerja "Gila" dengan usahanya karena Mama Tata mampu
lakukan sendirian dan gagasan dia tentang pangan sangat tepat dan urgen.
"Pikiran gue langsung ingat isu beras plastik...hhhahahahaa....,"
katanya berseloroh.
Pengalaman pribadi juga
yang membuat dirinya yakin meraih kemenangan meski hanya melalui mimpi.
"Dua malam menjelang penerimaan Anugerah...eh bapak saya tiba-tiba nongol
dan tersenyum...(dalam mimpi) pe-de aja...saya yakin untuk
kompetisi kali ini saya yakin saya mampu bersaing dengan orang Jawa, China,
Batak...dll,"sharingnya lagi
Ayahnya meninggal di
bulan Januari yang lalu di Pontianak. Beliau mantan hakim yang pernah mengadili
tokoh kontroversial Zanana Gusmao pasca pembebasan TIMTIM. "Yang gak
pernah saya sangka saya ditawari pengusaha besar untuk bantu Zanana kembangkan
pertanian di Timor Leste. Waaahhh gak kebayanglah, gak deh. Urus NTT aja belum
selesai koq. Masih banyak PR. Selama ini saya mampu mengatasi persoalan di
lapangan terutama ketika bersinggungan dengan masalah hukum saya pasti telpon
bapak. Mulai kasus hewan masuk dan merusak kebun orang, masalah batas kebun,
penyelewengan dana, sampai pembagian harta warisan. Kita selesaikan dengan
damai. Biasanya saya keras soal ini sehingga kedua belah pihak melihat
"gaya" saya mungkin...jadi bete sendiri," tambahnya lagi.
Namun meski demikian,
Ibu Tata tetap sederhana menanggapi setiap prestasi prestesius yang telah
diterimanya. "Sebagai bagian dari masyarakat Flores walaupun apa yang saya
kerjakan sepi dari puja dan puji namun dengan rendah hati saya bangga karena
mampu memberikan yang terbaik untuk Alam dan Rakyat NTT
khususnya," ucapnya kepada MF pasca penerimaan penghargaan ini.
Kini Mama tata ingin
kembangkan sorgum ke seluruh Flores riil dan luas. "Saya tidak main
demplot kecil-kecil lagi udah hektaran...karena penting untuk meningkatkan
ekonomi dan menjawab solusi buruh migran dan trafficking," tandasnya.
Baginya Sorgum bukan hanya
untuk perut lebih dari sekedar jawaban kurang gizi tapi bagaimana mewujudkan
Flores Lembata berdaulat pangan bukan cuma SLOGAN. Meski demikian tidak semua
daerah di Flores akan ditanam sorgum. "Kita tidak ganggu lahan basah, biar
tetap ditanami padi jagung. Kita hanya ganggu lahan-lahan kurus kering nganggur
yang pemerintah & NGO tidak sentuh," paparnya.
Maria Loretha sendiri
lahir 28 Mei 1969 di Ketapang, Kalimantan Barat, menempuh pendidikan di SMP
Mater Alma di Ambarawa, lanjut ke SMA Fransiskus Xaverius di
Kramat Jakarta lantas menamatkan kuliah di Fakultas Hukum,
Universitas Merdeka, Malang.
Menikah dengan Jeremias
Dagang Letor, pasangan ini bermukim di Malang. Namun Krisis Moneter pada 1997
membuat mereka meninggalkan tanah Jawa dan pindah ke Flores. Tata dan suaminya
memutuskan untuk bertani. Keinginan mereka didukung potensi kebun milik keluarga
Jeremias di Desa Pajinian, Kecamatan Adonara Barat, Pulau Adonara, Flores
Timur.
Lahan ini belum pernah
disentuh, apalagi sang suami juga berasal dari keluarga berada.Tata
memanfaatkan kondisi tanah semi ringkai (kering karena iklim) untuk menanam
kacang nasi (kacang tolo) serta beras merah. Dari kacang tolo dan beras merah,
perempuan yang tetap fasih berbahasa logat Jawa timuran ini merambah tanaman
sorgum secara tidak sengaja.
Maria Helan, sang
tetangga di kebun memberikan satu piring watablolon, sorgum kukus ditaburi
kelapa parut. Cita rasanya sungguh nikmat, gurih berlemak mirip nasi pulen.
“Perempuan inilah sumber inspirasi saya!”
Dari setengah gelas
bibit watablolon warna cokelat pemberian Maria Helan, Tata mendapatkan motivasi
untuk mencari bibit sorgum di sekitarnya. Seperti mengunjungi Agustinus di Desa
Nobo, Kecamatan Ile Bura, Flores Timur yang dengan senang hati berbagi bibit.
Lalu Tata juga mengumpulkan bibit sorgum dari Sumba, Sabu, Rote dan Manggarai.
Upaya pencarian dan mengoleksi tidaklah selalu mulus. “Ada lembaga yang pelit
saat diminta dan dalam hati saya berjanji: bila sukses saya kembangkan akan
saya bagikan gratis kepada petani!,” tekadnya kala itu.
Keberhasilan memanen
sorgum mulai 2007 semakin membukakan mata Tata. Tanaman ini memiliki potensi
besar untuk mengatasi rawan pangan, perubahan iklim dan terpenting memiliki
fungsi untuk kecukupan gizi, produk bebas gluten sampai santapan aman bagi
pengidap diabetes. Di rumahnya, ia melakukan inovasi dengan mengolah sorgum
menjadi bubur dan semacam kue mangkuk dan cucur diberi gula merah.
Debut Tata untuk
menyebarluaskan sorgum terbuka lebar saat menghadiri forum petani dan nelayan
yang dibuat oleh LSM, tokoh masyarakat dan pengurus gereja pada 2010. Berbagai
organisasi tani menampilkan pembicara serba hebat dan memaparkan keberhasilan
di bidang tanaman unggulan sampai organik. Ketika tiba gilirannya untuk
berbicara di panggung, Tata bercerita, bahwa ia memfokuskan usaha di bidang
pangan lokal dengan penggunaan benih-benih lokal. Uniknya, justru hal ini
membuat para pendengar kaget.
“Sorgum memang nama
latin, tetapi ada namanya dalam bahasa daerah—hal ini membuktikan, bahwa bahan
pangan ini tumbuh di sekitar kita, termasuk NTT,” urai Tata. Sejak itulah ia
menjadi “selebritas”. “Saya dikejar dan ditelepon setiap hari oleh para petani
sampai stress, seperti sinetron! Mereka mau dikenalkan kepada pangan lokal ini.
Juga perlu bibitnya.”
Dari Yayasan Cinta Alam
Pertanian Kadiare yang ia dirikan, Tata berhasil mendampingi beberapa kelompok
tani di delapan kabupaten, yaitu Ende, Nakegeo, Manggarai Barat, Sumba Timur,
Rote Ndao, Lembata, Sikka dan Flores Timur. Suka-duka pun mengiringi langkahnya,
seperti kehabisan uang di jalan sehingga mesti berhutang kepada sopir mobil
travel, sampai naik truk untuk menghemat pengeluaran.
“Saya tidak pernah
mengharap dibayar dan upah yang saya terima tidak berupa uang. Bila yang
mengundang adalah petani lahan basah, pulangnya dibekali hasil pertanian
mereka, seperti beras hitam, pisang sekarung dan ikan kering beberapa plastik,”
ungkap Tata. “Senangnya, kalau sudah berhasil, telepon berdering, ada kiriman
sms sampai komentar langsung, ‘aduh luar biasa ibu, itu bibit dari ibu’.”
tambahnya.
Beberapa prestasi para
kelompok petani binaannya pun mendatangkan rasa haru bagi Tata. Seperti Aliansi
Petani Lembor (APEL) di Kabupaten Manggarai Barat yang saat panen sorgum gagal
akibat dimakan sapi dan kerbau tidak berani bercerita karena takut ia marah.
Kini mereka berhasil. “Suguhan mereka sekarang, setiap pagi bubur sorgum dan
minum kopi serta camilan pop-corn sorgum. Dan mereka pun
berhasil menjadi pembicara sebagai agen perubahan menggantikan saya,” tuturnya
bangga.
“Sedang Kelompok
Perempuan Kadiare dan Nogo Gunu berhasil menciptakan juice sorgum dan sorgum
dimasak dalam bambu. Kesuksesan saya ini, terbukti tidak sendiri, karena bukan
hanya saya yang makan sorgum tetapi orang-orang sekitar dan pulau-pulau
sekeliling kami.”
Semakin dikenal luas sebagai
seorang agen perubahan yang mengangkat sorgum sebagai sumber kekuatan pangan
lokal, Tata memaparkan Kehati Award 2012 merupakan kebanggaannya sebagai
perempuan. Ia mengingat kembali kehadirannya di panggung Praktek Cerdas di
Lombok NTB yang diadakan oleh BaKTI Makassar sebuah LSM, untuk membawakan
dongeng versi Lamaholot tentang asal usul benih di Flores.
Sebuah pengorbanan besar
dari Emahingi Nogo Guno, perempuan yang mengorbankan hidupnya bagi ketujuh
saudara laki-lakinya dan membawa benih-benih seperti sorgum, labu kuning sampai
padi ke negeri itu. Sampai hari ini, “peran perempuan di dalam mata rantai
pertanian sangat besar, tetapi penghargaan belum ada. Saya mendambakan kami,
kaum perempuan mendapatkan peran setara,”
ujarnya lugas.
“Setara itu bukan
menyamai kaum laki-laki dalam segala hal, tetapi bagaimana perempuan mendapat
porsi yang tepat, dari produksi sampai pasca panen dan pemasaran.”
Mengemban tanggung jawab
sosial sebagai penerima Kehati Award serta upaya terus mewujudkan mimpinya menjadikan
sorgum sebagai primadona pangan NTT, Tata menggelar Rembug Pangan dan Festival
Benih beberapa saat lalu. Ini sebuah upaya untuk merangkul LSM serta berbagai
pihak terkait, juga membukakan mata tentang seorang Maria Loretha sebagai
seorang petani sejati—bukan sosok orang kaya seperti yang diduga.
“Saya mengajak para
pendukung, termasuk para pastor, ketua kelompok tani dan para pengurus yang
rela bekerja tanpa digaji dan bersama kami membuat acara ini pada Mei 2014,”
jelasnya. Selain pihak lokal dan regional, hadir pihak-pihak penting seperti
Kementerian Pertanian, BB Biogen Kementerian Pertanian, Flitmas Undana Kupang,
FIELD, Wet Lands, Kehati, Caritas Maumere, API, PIKUL,WETLAND,
Yaspensel Keuskupan Larantuka, Pertamina dan banyak lagi, termasuk perwakilan
petani dari Sumba dan Rote yang dibiayai oleh para NGO. “Seluruh tamu langsung
ke kebun saya dan saya tunjukkan kondisi sebenarnya. Mereka mandi di sungai dan
di pantai, serta tidak ada listrik. Di kesempatan itu, saya munculkan sorgum.”
Kini, Tata juga tengah
merajut mimpi tentang ekowisata. Di lahan seluas 160 hektare di Dusun
Likotuden, Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Keuskupan Larantuka bekerja
sama dengan salah satu yayasan dari Jakarta akan membangun sebuah desa wisata,
dilengkapi SMK Pariwisata. Meski terpencil, desa tepi laut ini menyuguhkan
pemandangan begitu indah. Hamparan laut bening dengan pantai berpasir putih
lembut, di seberang kanan terdapat Pulau Solor dilengkapi hamparan sabana,
sedang di kiri adalah Adonara yang menghijau. Tambahan lagi, di salah satu
bagian lahan juga siap ditanami sorgum bermacam jenis, sehingga menghasilkan
tampilan warna-warni pelangi seperti taman tulip di Keukenhof, Belanda.
Pencanangan desa wisata
di Dusun Likotuden juga menjadi jawaban dalam menciptakan lapangan kerja,
mengingat begitu banyak warga Flores dan Adonara menjadi buruh migran. “Saya
juga ingin menghadirkan pentas kolosal, memboyong petani membuat pertunjukan di
Jawa tentang sorgum—apalagi saya juga memiliki latar belakang berkesenian,”
lanjut Tata, “sehingga pihak-pihak yang ingin membuat bio etanol, menjadikan
sorgum bahan pangan yang gluten free dan kecukupan gizi
semakin terbuka kesempatannya. Sudah menjadi mimpi saya bahwa sorgum layak
menjadi primadona pangan NTT.”
Tata mengakui, ia
menjadi petani karena kurangnya lapangan pekerjaan. Namun sejatinya hal ini
dapat menjadi sebuah motivasi. Dicontohkannya bahwa beberapa lulusan fakultas
pertanian dan SMK Pertanian enggan pulang mengelola kebun orang tuanya yang
berada di luar Jawa. “Alasannya gengsi kerja kotor, sementara saya yang berasal
dari keluarga berkecukupan di Jawa, masih mau bekerja menjadi petani,” lanjut
Tata.
Kini, Maria mengisi
hari-harinya dengan bertani sorgum di ladang dan melakukan pendampingan ke
berbagai wilayah. Ia mengaku beruntung didukung keluarganya, terutama sang
suami, Jeremias D. Letor yang mau menjaga dan merawat kebun sorgum miliknya
ketika ia harus pergi. Sedangkan keempat anaknya saat ini bersekolah dan kuliah
di Bali dan Kabupaten Ende, Flores.
Soal biaya untuk semua
kegiatan terkait sorgum, Maria mengaku hal itu bukanlah masalah utama. Selama
ini ia merogoh kocek pribadi untuk melakukan pendampingan. Ia mensiasatinya
dengan menjual hasil komoditi kelapa, biji jambu, beras hitam, dan sorgum.
Biasanya kalau ada undangan seminar dari pemerintah atau NGO, ia gunakan uang
sakunya untuk kegiatan pengawasan. Ada juga urunan dari teman-teman LSM dan
Pastor. Yang membuat Maria lega dan tak khawatir lagi, di tahun 2014 tahun lalu
Keuskupan Larantuka melalui Yaspensel merangkul Maria Loretha dan petani
pendukung mengembangkan sorgum. Saat ini ia sudah tidak terlalu pusing dengan
masalah pengaturan uang untuk pendampingan dan lain-lainnya. Ia bersyukur,
usaha sederhana yang tampak tak berarti ini ternyata mendapat perhatian banyak
pihak.
Bagi Maria, lewat sorgum
ia dapat memberikan manfaat untuk orang lain dan bisa berkarya. Program Sorgum
Bergizi, Sorgum Berduit yang digagasnya sangat sarat makna. Betapa sorgum yang
sederhana dan pernah ditinggalkan serta dilupakan masyarakat, ternyata berhasil
mengangkatnya menjadi besar, bukan hanya di Indonesia saja tetapi juga dalam
lingkup internasional.
Tekad Maria untuk terus
bertanam sorgum pun diakuinya tak akan pernah surut. Sorgum seakan
menjadi tantangan bagi semua pihak untuk berkomitmen mengembangkan tanaman
pangan ini. Menghadapi tantangan alam seperti iklim yang terus berubah,
ternyata sorgum tanaman yang sangat tahan banting. Alih fungsi lahan dan
pertambahan jumlah penduduk membuat semua masyarakat perlu bersama-sama
memikirkan mencari pangan alternatif pengganti beras. Rasa optimisnya bukan
tanpa alasan. Sebab sorgum juga bisa ditanam di pesisir Jawa Timur, Banten,
Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Sorgum sendiri sangat cocok ditanam di daerah
berpasir, tanah kering bebatuan, asalkan tidak lebih dari 400 dpl.
Jika ingin mengetahui
lebih jauh tentang sorgum dan benih sorgum, padi hitam, jewawut, dan jagung
pulut, Maria pun mempersilahkan siapa saja mengirimkan pertanyaan kepada Cinta
Alam Pertanian Kadiare melaui email tataloretha@gmial.com. Maria berharap
pemerintah di Flores akan semakin menggalakkan pemasaran produk-produk
pertanian dari lahan kering tersebut. (Piko Soa)
Catatan: Tulisan ini
sudah dimuat di Media Flores







Inspiratif banget. Mantap dan patut dicontoh!
BalasHapus