"Pemberontak
Yang Tinggalkan Sejarah Dalam Tulisan"
PS (Ngada) -
Bagi pecinta sastra dan para revolusioner Indonesia maupun aktivis-aktivis
kampus pasti tidak asing mendengar dan bergelut dengan Sosok Pramoedya Ananta
Toer.
Dengan
membacanya waktu kita dibalikkan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya
pergerakan nasional mula-mula, juga pertautan rasa, kegamangan jiwa,
percintaan, dan pertarungan kekuatan anonim para srikandi yang mengawal
penyemaian bangunan nasional yang kemudian kelak melahirkan Indonesia modern.
Semuanya dilukiskan oleh Pram dalam semangat keberanian yang selalu menjadi
kekhasan dari tulisan dan filosofi "Nyanyian Sunyi Seorang Bisu"
itu.
"Orang
boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di
dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak
punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?," demikian tekat
Pramoedya Ananta Toer.
Lahir Dari
Ibu Yang Berdagang Nasi
Pramoedya
secara luas dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah
sastra Indonesia. Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan
diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing.
Kepiawaian
Pram dalam menulis tidak terlepas dari latar belakang dirinya yang lahir dari
darah ayah yang berprofesi sebagai guru dan berjiwa realistis dan bergumul
dengan perjuangan hidup dari seorang ibu yang sehari-hari berkelana di sekitar
Blora untuk berdagang nasi.
Sebagian
harian hidup dan latar belakang "anak Sulung" ini digambarkan secara
singkat dalam koleksi semi-otobiografinya yang berjudul "Cerita Dari
Blora". Kisah-kisah hidup itu dipahaminya sebagai keabadian yang harus
dikisahkannya dalam tulisan.
“Orang boleh
pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam
masyarakat dan dari sejarah," tulis Pram.
Menulis
adalah bekerja untuk keabadian. Baginya mengisahakan semua realitas yang
dialaminya maupun bangsa adalah sebagai ujud terima kasihnya pada "Sang
Khalik". “Berterima kasihlah pada segala yang memberi kehidupan.” tulis
Pramoedya Ananta Toer dalam buku Bumi Manusia.
Pramoedya
sendiri dilahirkan di Blora, di jantung Pulau Jawa, pada 1925 sebagai anak
sulung dalam keluarganya. Nama asli Pramoedya adalah Pramoedya Ananta Mastoer,
sebagaimana yang tertulis dalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya yang
berjudul "Cerita Dari Blora".
Karena nama
keluarga Mastoer (nama ayahnya) dirasakan terlalu aristokratik, ia
menghilangkan awalan Jawa "Mas" dari nama tersebut dan menggunakan
"Toer" sebagai nama keluarganya.
Pramoedya
menempuh pendidikan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya, dan kemudian
bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama
pendudukan Jepang di Indonesia.
Pasca
kemerdekaan Indonesia Pasca Kelahiran Tulisannya
Karier
penulisannya mulai terasah pada masa kemerdekaan Indonesia terutama saat
mengikuti kelompok militer di Jawa dan kerap ditempatkan di Jakarta pada akhir
perang kemerdekaan.
Ia menulis
cerpen serta buku di sepanjang karier militernya dan ketika dipenjara Belanda
di Jakarta pada 1948 dan 1949. Pada 1950-an ia tinggal di Belanda sebagai
bagian dari program pertukaran budaya, dan ketika kembali ke Indonesia ia
menjadi anggota Lekra, salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia.
Gaya
penulisannya berubah selama masa itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam
karyanya Korupsi, fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap
korupsi menciptakan friksi antara dia dan pemerintahan Soekarno. Goresan
penanya mulai ditilik sebagai ancaman bagi pemerintah maupun pimpinan yang
tersisa dari jejak-jejak kolonialisasi.
Selama masa
itu, ia mulai mempelajari penyiksaan terhadap Tionghoa Indonesia, kemudian pada
saat yang sama, ia pun mulai berhubungan erat dengan para penulis di Tiongkok.
Khususnya, ia menerbitkan rangkaian surat-menyurat dengan penulis Tionghoa yang
membicarakan sejarah Tionghoa di Indonesia, berjudul "Hoakiau"
di Indonesia.
Ia merupakan
kritikus yang tak mengacuhkan pemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan
keinginan dari daerah lain di Indonesia, dan secara terkenal mengusulkan bahwa
pemerintahan mesti dipindahkan ke luar Jawa.
Pada 1960-an
ia ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-Komunis Tiongkoknya.
Bukunya dilarang dari peredaran, dan ia ditahan tanpa pengadilan di Nusa Kambangan
di lepas pantai Jawa, dan akhirnya di pulau Buru di kawasan timur Indonesia.
Tahanan
Tanpa Pengadilan dari zaman kolonialisasi hingga orde baru
Keberanian
dalam mengulas tulisan membawa petaka bagi Pram. Ia menjadi penulis yang
menjalani penahanan mulai dari masa kolonialisasi hingga masa orde baru. Selain
pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde
Lama, selama masa Orde Baru Pramoedya merasakan 14 tahun ditahan sebagai
tahanan politik tanpa proses pengadilan.
Selain itu,
ia dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru. Namun naluri
keberaniannya tak memudarkan keinginannya untuk menulis dan hadir sebagai
"pemberontak" untuk tetap mengisahkan segala pengalaman hidupnya
dalam goresan.
Jilid
pertamanya dibawakan secara oral pada para kawan sepenjaranya, dan sisanya
diselundupkan ke luar negeri untuk dikoleksi pengarang Australia dan kemudian
diterbitkan dalam bahasa Inggris dan Indonesia.
Pramoedya
dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapatkan surat pembebasan
secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat G30S/PKI, tapi masih dikenakan
tahanan rumah di Jakarta hingga 1992, serta tahanan kota dan tahanan negara
hingga 1999, dan juga wajib lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta Timur
selama kurang lebih 2 tahun.
Selama masa
itu ia menulis Gadis Pantai, novel semi-fiksi lainnya berdasarkan pengalaman
neneknya sendiri. Ia juga menulis Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995), otobiografi
berdasarkan tulisan yang ditulisnya untuk putrinya namun tak diizinkan untuk
dikirimkan, dan Arus Balik (1995).
Edisi lengkap Nyanyi Sunyi Seorang Bisu
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Willem Samuels, diterbitkan di
Indonesia oleh Hasta Mitra bekerja sama dengan Yayasan Lontar pada 1999 dengan
judul The Mute's Soliloquy: A Memoir.
Penghargaan
yang Menuai Kontroversi
Keberaniannya
dalam menulis mendapat banyak pujian. Walaupun dihina di negeri sendiri namun
Pram mendapat banyak pujian di luar negeri.
Ketika
Pramoedya mendapatkan Ramon Magsaysay Award, 1995, diberitakan sebanyak 26
tokoh sastra Indonesia menulis surat 'protes' ke yayasan Ramon Magsaysay.
Mereka tidak
setuju, Pramoedya yang dituding sebagai "jubir sekaligus algojo Lekra
paling galak, menghantam, menggasak, membantai dan mengganyang" pada masa
demokrasi terpimpin, tidak pantas diberikan hadiah dan menuntut pencabutan
penghargaan yang dianugerahkan kepada Pramoedya.
Tetapi
beberapa hari kemudian, Taufik Ismail sebagai pemrakarsa, meralat pemberitaan
itu. Katanya, bukan menuntut 'pencabutan', tetapi mengingatkan 'siapa Pramoedya
itu'.
Katanya,
banyak orang tidak mengetahui 'reputasi gelap' Pram dulu. Dan pemberian
penghargaan Magsaysay dikatakan sebagai suatu kecerobohan. Tetapi di pihak
lain, Mochtar Lubis malah mengancam mengembalikan hadiah Magsaysay yang
dianugerahkan padanya di tahun 1958, jika Pram tetap akan dianugerahkan hadiah
yang sama.
Lubis juga
mengatakan, HB Jassin pun akan mengembalikan hadiah Magsaysay yang pernah
diterimanya. Tetapi, ternyata dalam pemberitaan berikutnya, HB Jassin malah
mengatakan yang lain sama sekali dari pernyataan Mochtar Lubis.
Dalam
berbagai opini-opininya di media, para penandatangan petisi 26 ini merasa
sebagai korban dari keadaan pra-1965. Dan mereka menuntut pertanggungan jawab
Pram, untuk mengakui dan meminta maaf akan segala peran 'tidak terpuji' pada
'masa paling gelap bagi kreativitas' pada zaman Demokrasi Terpimpin. Pram, kata
Mochtar Lubis, memimpin penindasan sesama seniman yang tak sepaham dengannya.
Sementara
Pramoedya sendiri menilai segala tulisan dan pidatonya pada masa pra-1965 itu
tidak lebih dari 'golongan polemik biasa' yang boleh diikuti siapa saja. Dia
menyangkal terlibat dalam pelbagai aksi yang 'kelewat jauh'. Dia juga merasa
difitnah, ketika dituduh ikut membakar buku segala. Bahkan dia menyarankan agar
perkaranya dibawa ke pengadilan saja jika memang materi cukup. Kalau tidak
cukup, bawa ke forum terbuka, katanya, tetapi dengan ketentuan saya boleh
menjawab dan membela diri, tambahnya.
Semenjak
Orde Baru berkuasa, Pramoedya tidak pernah mendapat kebebasan menyuarakan suaranya
sendiri, dan telah beberapa kali dirinya diserang dan dikeroyok secara terbuka
di koran.
Tetapi dalam
pemaparan pelukis Joko Pekik, yang juga pernah menjadi tahanan di Pulau Buru,
ia menyebut Pramoedya sebagai 'juru-tulis'. Pekerjaan juru-tulis yang dimaksud
oleh Joko Pekik adalah Pramoedya mendapat 'pekerjaan' dari petugas Pulau Buru
sebagai tukang ketiknya mereka. Bahkan menurut Joko Pekik, nasib Pramoedya
lebih baik dari umumnya tahanan yang ada.
Statusnya
sebagai tokoh seniman yang oleh media disebar-luaskan secara internasional,
menjadikan dia hidup dengan fasilitas yang lumayan - apalagi kalau ada tamu
dari 'luar' yang datang pasti Pramoedya akan menjadi 'bintangnya'.
Akhiri saja
saya. Bakar saya sekarang
Pramoedya
telah menulis banyak kolom dan artikel pendek yang mengkritik pemerintahan
Indonesia terkini. Ia menulis buku Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer,
dokumentasi yang ditulis dalam gaya menyedihkan para wanita Jawa yang dipaksa
menjadi wanita penghibur selama masa pendudukan Jepang.
Semuanya
dibawa ke Pulau Buru di mana mereka mengalami kekerasan seksual, mengakhiri
tinggal di sana daripada kembali ke Jawa. Pramoedya membuat perkenalannya saat
ia sendiri merupakan tahanan politik di Pulau Buru selama masa 1970-an.
Banyak dari
tulisannya menyentuh tema interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa,
orang Jawa secara umum, dan Tionghoa. Banyak dari tulisannya juga
semi-otobiografi, di mana ia menggambar pengalamannya sendiri. Ia terus aktif
sebagai penulis dan kolumnis.
Ia
memperoleh Ramon Magsaysay Award untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi
Kreatif 1995. Ia juga telah dipertimbangkan untuk Hadiah Nobel Sastra. Ia juga
memenangkan Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI 2000 dan pada 2004 Norwegian Authors'
Union Award untuk sumbangannya pada sastra dunia. Ia menyelesaikan perjalanan
ke Amerika Utara pada 1999 dan memperoleh penghargaan dari Universitas Michigan.
Sampai akhir
hayatnya ia aktif menulis, walaupun kesehatannya telah menurun akibat usianya
yang lanjut dan kegemarannya merokok. Pada 12 Januari 2006, ia dikabarkan telah
dua minggu terbaring sakit di rumahnya di Bojong Gede, Bogor, dan dirawat di
rumah sakit. Menurut laporan, Pramoedya menderita diabetes, sesak napas dan
jantungnya melemah.
Pada 6 Februari 2006 di Teater Kecil Taman
Ismail Marzuki, diadakan pameran khusus tentang sampul buku dari karya
Pramoedya. Pameran ini sekaligus hadiah ulang tahun ke-81 untuk Pramoedya.
Pameran bertajuk Pram, Buku dan Angkatan Muda menghadirkan sampul-sampul buku
yang pernah diterbitkan di mancanegara. Ada sekitar 200 buku yang pernah
diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia.
Pada 27
April 2006, Pram sempat tak sadar diri. Pihak keluarga akhirnya memutuskan
membawa dia ke RS Saint Carolus hari itu juga. Pram didiagnosis menderita
radang paru-paru, penyakit yang selama ini tidak pernah menjangkitinya,
ditambah komplikasi ginjal, jantung, dan diabetes.
Pram hanya
bertahan tiga hari di rumah sakit. Setelah sadar, dia kembali meminta pulang.
Meski permintaan itu tidak direstui dokter, Pram bersikeras ingin pulang. Sabtu
29 April, sekitar pukul 19.00 WIB, begitu sampai di rumahnya, kondisinya jauh
lebih baik. Meski masih kritis, Pram sudah bisa memiringkan badannya dan
menggerak-gerakkan tangannya.
Kondisinya
sempat memburuk lagi pada pukul 20.00. Pram masih dapat tersenyum dan
mengepalkan tangan ketika sastrawan Eka Budianta menjenguknya. Pram juga
tertawa saat dibisiki para penggemar yang menjenguknya bahwa Soeharto masih
hidup. Kondisi Pram memang sempat membaik, lalu kritis lagi.
Pram
kemudian sempat mencopot selang infus dan menyatakan bahwa dirinya sudah sembuh.
Dia lantas meminta disuapi havermut dan meminta rokok. Tapi, tentu saja
permintaan tersebut tidak diluluskan keluarga. Mereka hanya menempelkan batang
rokok di mulut Pram tanpa menyulutnya. Kondisi tersebut bertahan hingga pukul
22.00.
Setelah itu,
beberapa kali dia kembali mengalami masa kritis. Pihak keluarga pun memutuskan
menggelar tahlilan untuk mendoakan Pram. Pasang surut kondisi Pram tersebut
terus berlangsung hingga pukul 02.00. Saat itu, dia menyatakan agar Tuhan
segera menjemputnya. "Dorong saja saya," ujarnya.
Namun,
teman-teman dan kerabat yang menjaga Pram tak lelah memberi semangat hidup.
Rumah Pram yang asri tidak hanya dipenuhi anak, cucu, dan cicitnya. Tapi,
teman-teman hingga para penggemarnya ikut menunggui Pram.
Kabar
meninggalnya Pram sempat tersiar sejak pukul 03.00. Tetangga-tetangga sudah
menerima kabar duka tersebut. Namun, pukul 05.00, mereka kembali mendengar
bahwa Pram masih hidup. Terakhir, ketika ajal menjemput, Pram sempat mengerang,
"Akhiri saja saya. Bakar saya sekarang," katanya.
Pada 30
April 2006 pukul 08.55 WIB Pramoedya wafat dalam usia 81 tahun. Ratusan pelayat
tampak memenuhi rumah dan pekarangan Pram di Jalan Multikarya II No 26, Utan
Kayu, Jakarta Timur.
Jenazah
dimandikan pukul 12.30 WIB, lalu disalatkan. Setelah itu, dibawa keluar rumah
untuk dimasukkan ke ambulans yang membawa Pram ke TPU Karet Bivak. Terdengar
lagu Internationale dan Darah Juang dinyanyikan di antara pelayat. (Piko Soa)




Pingin membaca kisah orang-orang hebat!
BalasHapus