Jumat, 31 Mei 2019

Menelusuri Makna Filosofi Rumah Adat Ngada Dan Pancasila


Bulan Juni adalah bulan Bung Karno: beliau lahir tanggal 06 Juni 1901, wafat tanggal 27 Juni 1970, dan beliau membentangkan konsep besar beliau tentang Pancasila sebagai dasar filosofis Negara Indonesia tanggal 01 Juni 1945 dalam pidato di depan sidang Badan Penyelidik Untuk Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). 

Tanggal 01 Juni kini dirayakan sebagai Hari Lahir Pancasila. Selain sebagai dasar Negara Republik Indonesia, Pancasila kini juga disebut-sebut banyak kalangan sebagai “Rumah Kita”. 


Dalam tulisan ini penulis ingin mengungkapkan pendapat tentang pancasila sehubungan dengan konsep “rumah adat” menurut budaya-budaya lokal di Flores. Selain itu akan disoroti pula pancasila sebagai konsep kebudayaan.

Rumah adat adalah konsep yang khas dari masyarakat Flores. Kita sering mendengar orang berbicara tentang membangun, memperbaiki dan meresmikan rumah adat dalam upacara ritual dan pesta adat. Orang yang berasal dari masyarakat budaya lain mungkin bertanya apa itu “rumah adat”, apa bentuk, fungsi dan maknanya bagi keluarga atau suku pendukung rumah adat.

Berikut ini disajikan sebuah contoh konsep rumah adat menurut orang Ngada. Rumah adat dibangun untuk menghormati leluhur, dan diberi nama yang mungkin merupakan nama seorang leluhur, tokoh suku, atau suatu sosok pribadi yang diidolakan, atau mengacu harapan dari suatu suku atau anak suku dengan melukiskan kebesaran tokoh atau kebesaran suku itu.

Nama sa’o atau rumah adat itu melukiskan suatu keadaan yang merupakan kenyataan atau cita-cita dari pendirinya. Sebut misalnya ada sa’o yang diberi nama Wea Te’a (wea = emas, te’a = matang seperti buah di pohon), atau Gake Wea ( gake = kupu-kupu). Nama-nama ini jelas mengacu lambang yang dipilih oleh suku, anak suku yang menyemponsori pembangunan sebuah rumah adat. Seluruh proses, persiapan, pengerjaan, dan peresmian ditandai oleh upacara-upacara adat.

Sa’o didirikan berdasarkan kesepakatan yang didasari oleh hasrat seorang tetua dalam suku yang merasa mampu untuk membangun rumah adat setelah melihat keberhasilan warga suku dalam berladang dan memelihara hewan. Membangun sa’o mensyaratkan dukungan besar dan luas dari seluruh suku atau anak suku; jadi ia melibatkan organisasi yang besar untuk mempersiapkan bahan kayu untuk tiang, balok, papan, usuk, dan bambu untuk usuk, atap, ijuk dan alang-alang untuk membuat tali dan atap. 


Persiapan dan pengerjaan bagian-bagian rumah didahului dengan upacara untuk menghormati pencipta dan mengenang leluhur. Biasanya upacara itu ditandai dengan pengolesan darah hewan kurban. Upacara-upacara mulai awal sampai akhir itu mengubah secara konseptual wujud fisik sebuah rumah adat atau sa’o menjadi wujud spiritual karena bagi orang Ngadha sa’o memiliki roh yang disebut dewa sa’o.

Kata dewa mungkin diambil dari bahasa Sansekerta; unsur dev berarti ‘terang, cahaya, aura’. Dalam ungkapan adat, sa’o yang telah diupacarai dianggap sebagai suatu “pribadi” yang dihormati. Bagi masyarakat Ngadha dan Flores pada umumnya, rumah adat diperlakukan sebagai “lokus untuk beribadah”.

Upacara-upacara akil-balig penting: mulai dari kelahiran, pernikahan, kematian dan upacara-upacara penting lain dilaksanakan di dalam rumah adat. Selain itu setiap rumah adat dihubungkan dengan skemata budaya yang lain di suatu kampung adat; yang utama ngadhu (tugu peringatan leluhur laki-laki dari suatu suku), bhaga (bangunan kecil berbentuk rumah yang mengacu leluhur perempuan), dan lading (uma, ngora) yang merupakan bagian kesatuan dengan suatu rumah adat.

Rumah adat juga menyimpan petunjuk tentang kalender tradisional, yang tergambar dalam jumlah tiang rumah: 4 penyangga inti rumah, 8 penyangga pendopo luar dan pendopo dalam, dan 1 tiang penyangga para-para dalam inti rumah; 28 bilah papan pembentuk dinding bujur sangkar.


Bila angka-angka  itu dikalikan:13 kali 28 maka didapat angka  364 yang mendekati jumlah hari dalam kalender Julian. Kalender itu sangat penting bagi peri kehidupan masyarakat baik petani maupun nelayan di Ngada. Di kampung Bena (kini jadi kampung cagar budaya) ada rumah adat khusus penjaga kalender yang disebut sa’o sobhi (sa’o = rumah, sobhi = sisir).

Rumah adat Ngada terdiri dari tiga undak utama: teda mo’a (pendopo luar untuk menerima tamu pada umumnya), teda one (pendopo dalam untuk menerima tamu khusus atau tempat mengadakan perundingan keluarga anggota suatu sa’o, dan one, yaitu inti rumah yang di dalamnya terdapat tungku untuk api. Setiap bagian rumah mempunyai fungsi dan menyatu membentuk sebuah skemata budaya.

Dalam kepercayaan tradisional, orang Ngada mengenal konsep dewa bersusun tiga:  yang tertinggi dewa wawo (dewa atas), yang kedua dewa sa’o (dewa rumah adat), dan ketiga dewa ja’o (dewa pribadi masing-masing anggota rumah adat; ja’o = saya). Sering ditemukan ungkapan “orang mengadakan upacara agar dewa turun bercengkerma” (dewa wi dhoro dhegha; wi = agar, dhoro = turun, dhegha = bermain).

Ungkapan bahwa Pancasila adalah rumah adat sangat sejalan dengan pikiran tradisional masyarakat Ngada dan Flores pada umumnya. Pancasila yang mengayomi seluruh rakyat Indonesia sejajar dengan rumah adat yang melindungi dan mengayomi seluruh anggota suku pendukung rumah adat. Rumah adat juga mengatur hak dan kewajiban, seperti hak untuk mengerjakan tanah dan kewajiban mendukung kegiatan penting rumah adat.

Selanjutnya secara ringkas dibahas konsep Bung Karno tentang Pancasila sebagai perekat budaya. Penulis mengutip dari tonil, teater rakyat, yang digubah Bung Karno ketika diasingkan di Ende (1934-1938). Dalam tonil atau “drama” berjudul “Dr Syaitan” Bung Karno mengisahkan tentang seorang dokter yang mengumpulkan potongan-potongan mayat dan menggabungkannya menjadi suatu makhluk mengerikan, yang akhirnya harus dimusnahkankan.

Menurut hemat penulis tonil itu menggambarkan secara simbolis cita-cita membangun suatu bangsa dari bagian-bagian negeri nusantara yang amat luas dengan –pelbagai macam suku, dan bahasa dan budayanya. Bung Karno memiliki visi persatuan kebangsaan, tetapi bagaimana mencapainya. Hal itu beliau renungkan dengan sungguh-sungguh, konon sambil duduk di bawah pohon karara (sukun) dan memandang ke laut lepas.

Renungan beliau menghasilkan “lima butir mutiara” yang kemudian disajikan dalam pidato pada sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 1 Juni 1945, dan lahirlah Pancasila, dasar falsafah bangsa Indonesia.

Bung Karno mengatakan bahwa Pancasila digali dari kebudayaan bangsa Indonesia sendiri melalui kontemplasi dan diskusi beliau dengan pemuka dan anggota masayarakat di Ende dan di tempat pengasingan yang lain, Bengkulu dan Bangka. Seperti makhluk rakitan “Dr Syaitan”, makhluk itu tak bernyawa, tak berbudaya.

Oleh sebab itu negeri terbayang (imagined) “Indonesia” seperti yang dicanangkan pada tanggal 28 Oktober 1928 harus disatukan secara konseptual budaya dengan konsep ketuhanan, kemanusiaan, kebangsaan, permusawaratan dan keadilan sosial. Tanpa Pancasila tak dapat dibayangkan bagaimana menyatukan negeri seluas ini dengan manusia yang berasal dari pelbagai suku bangsa, agama dan bahasa. Pancasila itu menurut Bung Karno didasarkan pada satu prinsip, yaitu gotong royong.



Demikianlah Pancasila adalah rumah kita yang mengayomi, yang menyatukan dan memberi ruang bagi seluruh anak bangsa untuk berkreasi, menyumbang, dan maju bersama-sama dalam kesejahteraan. Kita semua, terutama kaum muda perlu lebih mengenal dan mendalami konsep-konsep besar Bung Karno tentang Pancasila, terutama tentang kemanusiaan, kebhinekaan, persatuan kebangsaan, keterbukaan, gotong-royong, kemandirian, dan kepribadian bangsa.

Pancasila adalah sarana pembentuk karakter bangsa yang “berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan” seperti yang dicanangkan Bung Karno, seorang pemikir kelas dunia. (Piko Soa)


NB: Tulisan ini merupakan racikan dari diskusi penulis dan Profesor Stephanus Djawanai, Ph.D di Universitas Flores, Ende pada tanggal 09 Juni 2015. Sempat direncanakan untuk dibuat sebuah kajian dan dijadikan buku. Tetapi kesibukan membuat mimpi ini masih tertutup.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar