Kamis, 30 Mei 2019

Mengenang Kepergian Bupati Ende Ir. Marselinus Y. W. Petu

(Bapak Marselinus Y.W. Petu pada saat acara festival kelimutu. Foto: Piko Soa)

PS (Soa) - Minggu 26 Mei 2019 masyarakat NTT khususnya masyarakat Ende dikejutkan dengan berita kematian Bupati Ende Ir. Marselinus Y.W. Petu di di RS Siloam Kupang. Dalam sekejap berbagai ucapan belangsungkawa membanjiri dunia maya dan nyata. Semua pada “kaget” karena kisah tragis ini begitu mendadak seperti kepergiannya. Semua pada tak percaya apalagi beliua baru 48 hari menjalankan tugas pemerintahannya untuk periode kedua kepemimpinan mereka sebagai pemangku kursi nomor satu di kota Pancasila itu.

Sosok Marselinus bagi saya wajid digoresi dalam kenangan. Beberapa kali berjumpa dengan beliau mengundang kesan tersendiri dari saya. Dalam perjumpaan dengan beberapa Bupati di dataran Flores, meninggal banyak kesan dan sejarah untuk dibagikan. Demikian dengan Bupati Marsel!

Ia adalah salah satu bupati yang sangat fasih menuturkan kata – kata adat, lancar mengurai barisan frasa khas budaya hingga membentuk deretan kalimat – kalimat bermakna dalam bagi yang mengerti bahasa Ende. Itulah kesan yang sangat kuat ketika kita duduk dan mendengarkan setiap sambutannya. Ciri khas ini dimiliki oleh Bupati Ende, Ir. Marselinus Y.W Petu.

Bupati Ende kelahiran 31 Oktober 1963 ini selalu berpegang pada prinsip prinsip hidup tiga suku yang berada di wilayah Kabupaten Ende. Ketiga suku itu adalah suku Ende, Lio dan Nage. Umumnya masyarakat Ende bermata pencaharian sebagai petani, nelayan, peternak dan pedagang.

Menghadapi realitas kehidupan masyarakat dengan berbagai profesi di atas, suami dari Matilda Gaudensi Ilmoe, S.Pt ini mengusung program "Membangun dari Desa dan Kelurahan" dalam kepemimpinannya. Basis program ini diperkuat dengan filosofi hidup yang telah mengakar dalam masyarakat Ende.

Ayah dari Charlos Ronaldo CH. Sara dan Yosephus Dede Surya Sara ini menyatukan filosofi hidup dalam masyarakat Ende itu dalam empat pijakan dasar. Pertama, tendo tembu, zoka mboka menanam sampai menumbuh, menabur sampai memekar untuk petani. Kedua, peni nge, wesi nuwa memberi makan ternak sampai berkembang biak untuk peternak. Ketiga, weke toki, soro sai memancing dan menjala sampai dapat ikan untuk nelayan. Keempat, teka laku, daga mbeta menjual sampai laris habis untuk pedagang.

Dalam memperkuat empat pijakan di atas, mantan anggota DPRD Ende periode 1999 – 2004 ini menguatkan basis kepemimpinannya dengan mengajak semua stake holder untuk sama sama berperan. Integrasi semua stake holder disatukannya dalam model kepemimpinan "tiga batu tungku". Tiga batu tungku itu antara lain pemerintah dengan rakyatnya, agama dengan umatnya dan Mosalaki dengan fai walu ana halonya.

"Tiga tungku ini harus berperan secara sama agar bisa menghantar Ende yang lebih maju dan rakyat yang sejahtera. Tiga tungku ini akan bermakna bila bernyala. Saling mendukung dan percaya satu sama lain," ungkap tamatan SMP Frateran Ndao ini suatu ketika disaksikan penulis.

Alumnus SMAK Syuradikara dan jebolan ITN Malang ini mengingatkan bahwa empat kebijakan dan integrasi tiga model kepemimpinan hanya menjadi kuat jika budaya gotong royong dihidupi. Demikian pula perilaku pemimpin yang ada dalam tiga tungku harus memenuhi lima sila kepemimpinan lokal yakni Gege (menuntun), Sike (memapah), Ako (menggendong), Wangga (memikul) dan Su'u (menjunjung).

(Membangun kearifan Budaya dalam kepemimpinan. Foto Piko Soa)
Model kepemimpin yang berbasis budaya lokal Ende ini telah menginspirasi Marsel sejak kecil ketika dididik di bangku SD Ende II pada 1975 hingga menduduki kursi nomor satu di Kabupaten Ende.

Berbagai pendidikan dan pelatihan pernah diikuti antara lain pelatihan instruktur pengkaderan Partai Golkar Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 2002, sebagai peserta teknik manajemen strategi dan teknik penganggaran/keuangan bagi anggota DPRD dan pejabat pemerintah Daerah di UGM yang bekerja sama dengan Menteri Negara Otonomi Daerah Republik Indonesia pada 2000. Beliau mengikuti Kursus Dasar Dasar Analisa Mengenai Dampak Lingkungan yang diselenggarakan Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM pada 2002 dan sebagai peserta orientasi atau pembekalan anggota DPRD periode 2009 - 2014 di Jakarta. Beliau juga sebagai Peserta Bimtek Penyusunan Rencana Strategi dan Neraca Daerah diselenggarakan oleh Lembaga Administrasi (LAN) dengan pemerintah Daerah di Jakarta pada 2001.

(Komunikasi Budaya adalah ideal kepemimpinan Marselinus Petu. Foto : Piko Soa)
Mantan Ketua DPRD Ende periode 2009 – 2014 yang pernah menghadiri Kegiatan Corporate Plan Rehearsal dan Kunjungan Kerja ke Brisbane – Australia pada 2011 ini pula menjadi Peserta Bimtek dengan tema Forum dan Fungsi Badan Legislasi dan pengawasan DPRD terhadap Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaaan BPK dalam mewujudkan Akuntabilitas Kinerja DPRD. Bimtek ini diselenggarakan oleh Lembaga Studi Peningkatan Kompetensi, Kapasitas dan Kinerja Sumber Daya Manusia (LS-PK3SDM) di Jakarta pada 2010.

Semoga gagasan mulai dan arif ini tetap hidup di tanah Flores. Selamat Jalan Sang Bupati! (Piko Soa)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar