Minggu, 16 Juni 2019

Pemilik Tanah Mawogae Itu Telah Pergi


PS (Soa) - Tepat tanggal 01 Agustus 2019 SDK Soa akan memasuki usia satu abad. Sebuah ziarah pendidikan yang panjang. Sekolah perdana di tanah Soa ini menyimpan banyak kisah perjalanan maupun namanya.

Eksistensi perjalanan sekolah ini tidak terlepas dari hadirnya gereja katolik di tanah Soa. Semuanya bermula dari satu titik kampung yang bertuah yakni Borowa. Kampung nun sepi kala itu tetapi menyimpan jejak sejarah yang kini hampir dilupakan. Kenapa harus Borowa?

(Kampung Borowa dan Rumah  Hamente Meka Wio Sola. Rumah Batu Pertama di datran Soa)
Borowa kala itu adalah lokus pusat pemerintah Hamente untuk dataran Soa. Alasan inilah yang mendorong Pater Fransiscus de Lange, SVD untuk menemui Hamente Meka Wio Sola dan meminta sebidang tanah untuk mendirikan rumah ibadat dan sekolah yang menjadi cikal bakal kehadiran umat nasrani dan pendidikan bagi masyarakat Soa saat itu yang seluruhnya masih kafir. Permintaan ini dikabulkan oleh Meka Wio Sola selaku Hamente.

Tempat ini melahirkan berbagai kisah indah bagi masyarakat Soa. Tidak menutup terdapat pula sejarah berdarah bagi beberapa anak yang pernah mengenyam pendidikan di tempat ini. Aktivitas pendidikan yang berbarengan dengan realitas masyarakat kadang menciptakan situasi yang tidak kondusif serta menjadi tantangan yang menambah buramnya bagi keaktifan murid untuk mengikuti pendidikan di tempat ini.

Sebut saja pada tahun 1957, di suatu siang seekor kerbau tiba-tiba menyeruduk beberapa orang dan salah satu di antaranya tewas. Kerbau itu milik Ema Bu’u Keu Mawo. Suatu hari ia terlepas dan mulai menyerang orang.

Sasaran pertama adalah Meka Baba (Panggilan untuk ayah dari Bapak Benyamin Parera) yang berprofesi sebagai tukang kayu yang kemungkinan juga untuk pembangunan SR Soa dan juga tokoh yang aktif dalam pengurusan PEMILU kala itu. Saat sedang menjalankan tanggung jawabnya, ia langsung diserang oleh kerbau hingga akhirnya meninggal dunia.

Setelah itu kerbau yang sama menyerang Ue Boa Gili yang saat itu berada di Boa Poma. Ia diseruduk oleh kerbau dan rambutnya yang sangat panjang kala itu sempat tersangkut di tanduk kerbau. Untungnya ia bisa diselamatkan karena riuhnya para murid yang berteriak kala itu di tempat ini.
Petaka di atas menambah kisah buram di Borowa. Ada kisah guru yang dikejar oleh orang tua murid yang tidak menginginkan anaknya sekolah. Selain itu, ada juga kisah kekerasan seksual yang sempat terjadi pada salah satu murid putri kala itu membuat beberapa orang tua yang kampung jauh dari Borowa enggan untuk mengirim anaknya mengikuti pendidikan. Nama sekolah itu pun berubah-ubah seturut zaman. Awalnya disebut Sekolah Roma Katolik, Sekolah Rakyat, Sekolah Satu Soa dan kemudian menyemat Sekolah Dasar Katolik Soa hingga saat ini.

Tempatnya pun berpindah-pindah. Dari Borowa menuju Hobokoko. Kemudian dari Hobokoko kembali ke Borowa dan terakhir berpindah ke Mawogae hingga saat ini. Bapak Adrianus Toi adalah salah satu ahli waris pemilik tanah Mawogae. Beliau telah meninggal tepat pada tanggal 05 Juni 2019. Kisah perpindahan ini pun terjadi cukup unik.

(Bapak Adrianus Toi (Tengah) diapit saudaranya Bapak Feliks Bay dan Anaknya Antonius Hermanus Gemu
Siapa sangka jika keputusan untuk membangun sekolah yang megah berdiri di Mawogae saat ini  terjadi di sebuah Pondok milik Bapak Adi Toi.

Ceritanya bahwa setelah bergulir rencana jika sekolah dasar katolik Soa mau dipindahkan maka Bapak Thomas Doloradho selaku ketua Yasukda saat itu berusaha menemui Bapak Adi Toi untuk meminta tanahnya yang akan digunakan untuk membangun tempat sekolah yang baru.

Tanpa mempersoalkan harga dan demi pengembangan pendidikan, Bapak Adi Toi dan saudaranya Feliks Bhagi langsung menyetujui dan rela memberikan tanahnya untuk pembangun sekolah yang ganti ruginya akan dibicarakan kemudian. Niat baik itu akhirnya terkabul sehingga kini sekolah bisa berdiri megah. “Hasil dari perjanjian di sebuah pondok di kawasan yang sekarang SDK Soa berdiri,” kisah Bapak Adi.

Bapak Andreas Leo yang didaulat sebagai Kepala Sekolah yang menggantikan Bapak Lambertus Wea pada momen pemindahan menuju Mawogae dari Borowa. Beliau mengisahkan hal ini dalam ceritanya kepada penulis.Saya menggantikan Bapak Lambertus Wea sebagai Kepala Sekolah pada saat masih di Borowa. Namun ketika itu pembangunan sekolah di tempat SDK Soa saat ini sudah mulai berlangsung,” bapak Andreas memulai kisahnya.

Tahun ajaran 1996/1997 saya mulai bertugas sebagai guru wali kelas enam di SDK Soa. Tepatnya tahun ajaran 1997/1998 saya diangkat menjadi Kepala Sekolah menggantikan Bapak Lambertus Wea. “Saat itu proses pendidikan masih berlangsung di Borowa,” tegasnya.

Baru pada tahun 1998/1999 sekolah ini baru pindah ke Mawogae. “Proses pemindahan berlangsung senyap dan tidak dengan perayaan yang besar-besaran,” jelasnya. Hal ini karena kala itu, meskipun seluruh masyarakat Seso telah sepakat dan kompak dengan pemindahan ini namun masih ada banyak kendala dari segi administrasi. “Selain itu proses pembayaran tanah juga belum seutuhnya lunas,” tambahnya.

Namun tantangan itu tidak menyurutkan niatnya untuk terus mempertahankan eksistensi SDK Soa. Berbagai pendekatan tetap dibuat sehingga persoalan ini tidak menyurutkan niat untuk pencerdasan anak bangsa. Pengalaman sebagai guru memampukan Bapak Andreas Leo melewati rintangan ini.

 “Ironis juga awalnya bahwa saya menerima kepemimpinan di sekolah ini tanpa sertifikat. Yang ada hanya gambar situasi (peta). Itu ada diarsip. Penyerahan tidak ada. Namun penyelenggaraan ilahi akhirnya semua proses ini berjalan baik dan sekarang kita bisa menyaksikan momen indah SDK Soa memasuki usia satu abad,” tutupnya saat bertemu penulis.

Di tempat yang baru masih di sekitar tempat bertuah Borowa, SR Soa sudah bermetamorfosis nama menjadi SDK Soa. Meskipun telah ada begitu banyak sekolah-sekolah yang hadir di Soa, namun nama Soa tetap dikenakan di sekolah ini meskipun tempatnya sering berpindah.

“Sekolah ini menjadi embrio awal bagi lahirnya generasi terdidik di dataran Soa ini. Ada beberapa nama yang sempat disematkan tetapi kata “Soa” tetap ada. Ia adalah sekolah pertama yang melahirkan sekolah-sekolah lainnya di Soa,” tegas Bapak Lambertus Wea. Dari segi nama menunjukkan identitasnya sebagai lembaga yang bertuah di tanah ini dan menjadi sekolah milik masyarakat seluruhnya, tambahnya.

Di tempat yang baru ini, Sekolah Dasar Katolik Soa memasuki sebuah proses pendidikan yang sudah memiliki sistem pendidikan terpusat dengan sistem-sistem kurikulum yang layaknya sekolah di belahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada tahap-tahap perkembangannya di tempat ini juga didirikan Taman Kanak-kanak Fatima Soa yang khusus mendampingi anak-anak sebelum memasuki jenjang Sekolah Dasar.

Meskipun mengikuti program pendidikan nasional namun sekolah ini tetap berada di bawah asuhan Yayasan Sekolah Umat Katolik Ngada (Yasukda). Kerja sama itu telah dimulai sejak awal hingga pada saat sekolah ini memasuki usia satu abad.

“Kita harapkan agar kerja sama ini akan tetap berlangsung seterusnya. Ada beberapa Sekolah yang dibangun bersama dengan SDK Soa dan hendak memasuki usia satu abad. Tetapi ada juga yang telah ditutup dan beberapa diantaranya telah dinegerikan. Kita bersyukur atas karunia Allah untuk pencapaian. Sesungguhnya kesuksesan ini bukan semata-mata karya manusia semata tetapi ada karya Tuhan di balik semua ini,” demikian sedikit kutipan yang direkam penulis dari Ketua Yasukda, Romo Daniel Aka, Pr ketika membuka acara pertemuan dalam rangka menyiap perayaan satu Abad SDK Soa.


Pada perkembangan selanjutnya, SDK Soa akhirnya hanya menampung anak-anak dari masyarakat Seso karena mulai menjamurnya lembaga tingkat sekolah dasar yang ada hampir di semua kampung-kampung di cekungan Soa. Sejalan dengan perjalanan waktu itu, animo masyarakat untuk menyekolahkan anak-anak semakin tinggi.

Hingga pada satu waktu, sekolah ini tidak mampu lagi menampung anak-anak sekolah yang ada. Maka dipikirkan untuk memilih satu tempat baru yang lebih luas bagi SDK Soa. Maka daerah Tangiseso tepatnya di lokasi Mowogae menjadi alternatif bagi sekolah yang baru.

(Buku Karya penulis yang berisi tentang sejarah SDK Soa)
Tempat ini bukanlah sesuatu yang asing bagi masyarakat Seso dan juga alumni-alumni yang pernah mengenyam pendidikan di SDK Soa sebelumnya. Dari beberapa kesaksian para murid kalau tempat ini pernah menjadi daerah yang mereka lalui ketika bekerja menuju kebun pramuka. Kebun Pramuka kala itu di tanah milik bapak Lambertus Wea. Bapak Paskalis Wale mewakili kisah berladang di tempat ini.

Dulu tempat ini dikenal sebagai jalan menuju kebun Pramuka. Ada waktu-waktu tertentu kami semua siswa dan siswi SDK Soa diminta untuk bekerja di kebun ini. Biasanya selepas ujian atau saat menjelang musim penghujan. Berbagai kegiatan kami lakoni mulai dari membersihkan rumput, membuat pagar hingga menanam tanaman baik yang umur panjang maupun umur pendek. Biasanya bapak dan ibu guru juga hadir. Pokoknya seru.

Jalan waktu itu dari sekolah lama menuju kebun ini hanyalah jalan setapak di mana di kiri dan kanannya didominasi oleh rumput-rumput liar. Suatu hari saya beberapa teman iseng membuat semacam jeratan bagi teman-teman yang lain. Selesai menyelesaikan tanggung jawab kami membersihkan ladang, saya dengan beberapa teman berlari mendahului teman-teman yang lain.

Kami mulai mengikat rumput-rumput liar di jalanan setapak untuk menjebak teman-teman yang dibelakang kami. Caranya gampang, rumput liar di samping kiri kanan jalan disatukan sehingga jika teman-teman yang lewat nanti akan terjatuh karena tersandung. Apesnya bukan teman-teman yang kena jeratan kala itu. Tetapi guru-guru. Salah satunya Bapak Lambertus Wea. Bapak Lambertus sangat marah waktu itu. Lelah karena kerja ditambah dengan ulah iseng kami membuat beliau marah.

Keesokkan harinya kami dipanggil dan dipukul oleh Bapak Lambertus. Ketika hari ini kita berkumpul lagi di tempat ini untuk seratus tahun usianya, saya benar-benar bersyukur. Misteri dari karya Tuhan itu luar biasa sekali. Terima kasih Tuhan,” kisah Bapak Paskalis Wale.

Daerah yang sebelumnya menjadi aksi nakal-nakalan siswa kini dipikirkan menjadi lokus lanjutan dari SDK Soa. Terpilihnya tempat ini selain karena lokasi di Borowa sudah tidak cukup lagi untuk menampung anak-anak sekolah yang makin membludak tetapi juga karena tempat ini sudah menjadi opsi baru bagi masyarakat Seso dari generasi atau keluarga baru.

Waktu itu banyak masyarakat Seso yang mulai meninggalkan kampungnya di atas dan membangun perumahan di sekitar Tangi Seso dan Waepana. Makanya kita putuskan memindahkan sekolah ini. Tepat pada tahun 1996 mulai dibuat fundasi pertama. Bahkan saya ingat, bak air penampungnya dibuat pada hari Minggu,” tutur Bapak Antonius Balu salah satu tokoh masyarakat sekaligus komite yang sangat aktif memperjuangkan dan mendukung pemindahan ini. Selain itu perjuangan ini untuk menyelamatkan sekolah induk Soa. “Jika tidak pindah maka akan mati,” tambahnya.

(Penulis saat berbincang-bincang dengan Bapak Antonius Balu)
Karena itu berdasarkan keputusan bersama masyarakat Seso bersama dengan tokoh-tokoh masyarakat kala itu seperti Bapak Thomas Bay Keu, Bapak Antonius Balu, Bapak Petrus Bay dan Bapak Fransiskus Meo Baghi maka diputuskan untuk dipindahkan daerah Tangiseso tepatnya di lokasi Mowogae.

Tanah itu milik Bapak Adrianus Toi dan Feliks Bai. “Mereka menyerahkan tanah itu pada awalnya tanpa bayaran,” tegas Bapak Yohanes Wage salah satu tokoh masyarakat Soa.

Ketika pemindahan ke Sekolah yang baru, tempat yang lama sempat menjadi kontraversi kepemilikan. Apakah akan tetap menjadi milik pihak yasukda atau diberikan kembali ke masyarakat yang digadang-gadang akan dibangun Sekolah Lanjutan Pertama (kini telah menjadi SMPN II Soa).

Romo Piet Sepe, PR selaku Pastor Paroki kala itu menolak tanah yang telah diberikan kepada Yasukda dikembalikan pada masyarakat. Penyerahan itu telah berlangsung di tahun 1971. Bapak Benediktus Podhi yang kala itu menjadi anggota DPRD berusaha untuk menyelesaikan masalah ini. Ia sendiri bersikukuh agar tanah itu tetap diberikan kepada masyarakat. “Tanah di bawah (Mawogae) yang dibeli oleh umat tetap sebagai tempat sekolah yang baru tetapi sekolahnya harus tetap bernama SDK Soa,” jelasnya.

Pertikaian itu akhirnya berakhir dengan damai di mana pihak Yasukda dan keempat kampung pemilik tanah akan mendapat uang sirih pinang dari pihak SMPN II Soa. Keputusan ini dijelaskan oleh Bapak Heribertus Rema Ngai selaku Kepala Sekolah SMPN II kala itu secara detail.

“Penyerahan tanah SDK Soa dialihkan untuk SMPN II terjadi pada tahun 2002. Dengan besaran uang “sirih pinang” sebesar Rp. 30.000.000 (tiga puluh juta rupian). Tetapi pelunasannya baru berakhir pada tahun 2011 sekaligus penerbitan sertifikat tanah untuk SMPN II Soa pada tahun 2013,” tegasnya.

Peruntukan uang yang ada untuk pihak Yasukda sebesar Rp. 15.000.000 dan sisanya diberikan kepada empat kampung yang diwakili oleh masing-masing anggota sukunya. Kampung Sadha diwakili Bapak Petrus Baghi, Kampung Mude diwakili Bapak Thomas Toi Gili, Kampung Tiwu diwakili Bapak Kletus Toi Gili dan Kampung Borowa diwakili Bapak Antonius Balu.

“Pembagian di antara kampung ditentukan sesuai dengan luas wilayahnya masing-masing dan kebijakan penggunaan keuangan dikembalikan kepada kesepakatan anggota masing-masing kampung. Kalau tidak salah ada yang kemudian disumbangkan lagi untuk pembangunan sekolah SDK Soa di tempat yang baru,” tambahnya.

Membawa sekolah baru di tanah baru bukanlah sesuatu yang mudah. Masalah seputar tanah dan juga akreditasi sekolah masih menjadi kendala tahunan yang terus menjadi buah bibir.  Ia menerima tanggung jawab menjadi menjadi Kepala Sekolah dalam drama kisah dengan kekalutan ini.

Tetapi langkah untuk menghantar sekolah dari zona yang tergolong tidak aman menuju zona aman tidak pernah terhenti. “Tidak mudah menjadi Kepala Sekolah di lembaga yang telah ada bertahun-tahun. Pastinya, ia harus memiliki nilai lebih dibandingkan dengan yang lain. Saya harus mencapai target itu. Meskipun saya tahu ini bukan pekerjaan mudah. Apalagi lembaga yang berada di bawah yayasan katolik notabene sering dianaktirikan,” kisahnya pada penulis.

(Anak-anak SDK Soa di kompleks Mawogae saat ini)
Tetapi lelaki perawakan kecil namun tegas ini mampu membuktikan Sekolah Dasar Katolik Soa menjadi satu-satunya lembaga yang harus diperhitungkan. Pasalnya saat kepemimpinannya ia menyelesaikan masalah tanah SDK Soa yang sudah bertahun-tahun belum tuntas hingga pelunasan harga tanah pada pemiliknya.

Akhirnya sewa ganti rugi tanah ini dilaksanakan secara tuntas dengan bayaran yang dilakukan secara bertahap. “Harganya Rp. 27.000.000,00. Dibayar secara bertahap dari swadaya masyarakat,” tegasnya. Kebenaran ini diamini Bapak Adrianus Toi selaku pemilik tanah.

Kini pemilik Mawogae itu telah pergi, Bapak Adrianus Toi pada tanggal 05 Juni 2019. Kita hanya bisa mengenangnya dengan menatap SDK Soa yang tetap berdiri dan memasuki usia Satu Abad Nanti. Selamat Jalan Bapak Adrianus Toi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar