Minggu, 16 Juni 2019

Menilik Filosofi Tani dari Syair Reba Masyarakat Ngada

(Misa Syukuran Reba)

PS (Bajawa) - Acara Reba yang menjadi salah satu pesta adat terbesar di Kabupaten Ngada menampilkan dua atraksi yang memukau yakni nyanyian dan tarian. 

Acara yang biasa dilangsungkan pada akhir tahun tepatnya di Bulan Desember dan awal tahun di bulan Januari ditilik sebagai bentuk syukuran atas segala hasil panenan dan filosofi-filosofi pertanian yang harus dihidupi oleh masyarakat  dalam bersikap.

Ditilik secara etimologis, kata “reba” tidak memiliki arti dalam kehidupan masyarakat Ngada. Nama ini merujuk pada pesta itu sendiri dan nama bulan ketika pesta itu dirayakan. Pesta Reba selalu dirayakan tiap tahun dengan melewati rangkaian acara yang khidmat dan diwarnai dengan mitis magis. 

Karena akan ada konseksuensi yang membahayakan jika tidak dirayakan secara benar. Salah satunya akan membangkitkan angin topan yang bisa menjatuhkan sesuatu ke tanah terutama tanaman. Kejadian ini kerap terjadi sehingga ketika terjadi topan orang mengartikan sebagai wula reba-bulan reba. Pernyataan ini sebenarnya menunjuk pada akibat yang disebabkan oleh karena lalai merayakan pesta atau upacaranya.

Perayaan pesta reba biasanya merujuk pada dua sentral kultus yakni bulan dan matahari. Penekanan ini menunjukan kepada kita ketika pesta ini berlangsung yakni saat matahari berada pada posisi paling selatan dalam bulan Desember sampai matahari berada pada posisi paling tinggi di bulan Maret. Karena itu kelalaian pelaksanaan ini akan mengakibatkan kemarau yang panjang.

Bulan juga memainkan peranan penting sekalipun bukan peranan utama. Dalam perayaan ini orang memakai bulan sebagai pedoman untuk upacara ini yakni oleh Ke”po We’su (orang yang bertanggung jawab atas upacara reba).

Meskipun dalam tradisinya terdapat pemahaman yang berbeda mengenai tradisi ini namun ada hal unik dari semua ini yakni nyanyian yang dilantunkan dalam upacara ini.  Nyanyian itu mengisahkan tentang sejarah reba dan sosok yang menjadi sentral pujaan. Uniknya bahwa nyanyian itu dimulai dengan hasil panenan yakni “Uwi” (Ubi).

(Pendarasan nyanyian  "O Uwi")
Karena itu bila kita cermati secara baik syair-syair lagu yang dinyanyikan selama rangkaian acara reba kita akan temukan satu sosok yang diagungkan di sana. Dia adalah Sili Ana Wunga. Dari beberapa rangkaian nyanyian Su’i Uwi yang dilantunkan untuk menghadirkan arwah yang telah meninggal maka kita akan ketahui kalau Sili Ana Wunga adalah putra sulung dari Wijo dan Wajo, Teru dan Tena yang datang mengajar adat.

Uwi Go me sili Ana wunga, Wi mai nuka pera gua.Uwi go Wijo ne’e Wajo. Uwi go Teru ne’e Tena. Pu’u zili Sina One. Pita ine dabe dia.  (Ubi dari Sili Putra Sulung, yang datang mengajarkan adat. Ubi dari Wijo dan Wajo, ubi Teru dan Tena dari Cina pedalaman, mencari ibu terkasih).

Syair yang menjadi awal lagu Su’i uwi  ini menjelaskan siapa sebenarnya Sili Ana Wunga. “Uwi” selalu memainkan peranan penting pada pesta reba meskipun tanaman ini tidak mempunyai arti yang besar untuk kebanyakan orang Ngada. Padi, jagung dan beberapa jenis tanaman jewawut merupakan makanan utama. Hal itu mungkin mau menoreh sejarah masa lampau dari para leluhur bahwa ubi merupakan makanan yang paling disukai.

(Ubi dan beberapa hasil pertanian yang selalu menjadi bagian penting upacara Reba)
Sosok Sili Ana Wunga diyakini mampu membawa kemakmuran bagi masyarakat Ngada. Selain itu juga mengajar sebuah peradapan yang tidak lekang oleh waktu. Semua harapan dan ajaran itu didaraskan pada syair-syair lanjutannya yang semuanya berhubungan dengan siklus pertanian. Sebagai sosok yang diidolakan dan dianggap membawa berkah, Sili Ana Wunga dipercaya sebagai pribadi yang mampu membawa panen padi yang berlimpah ruah. Bahkan dalam bahasa yang sedikit hiperbola mampu membuat kepala orang tertunduk dan pungguk terbungkuk saat panenan:

Wi tu ne’e keke meze, wi pobha ne’e wole lewa, su’u ne’e kulu gusi, dheko ne’e wini danga, su’u wi duku ruku, dheko wi dhero dhego. (Hantarlah padi berbulir-bulir serta jagung berbuah panjang, junjunglah benih-benih yang baik, jinjinglah pula benih padi, junjung hingga kepala tertunduk-tunduk, junjung hingga pungguk terbungkuk-bungkuk).

(Makan dan minum bersama sebagai bagian dari syukuran)
Tetapi perjuangan untuk mencapai kemakmuran itu harus diwarnai dengan usaha yang tidak kunjung lelah. Bahkan nyawa jadi taruhan. Ne’e da wela. Ne’e da nawa, ne’e da su’u, ne’e da sa’a, ne’e da rebu dan ne’e da weda. ( Ada yang dibunuh, ada yang ditawan, ada yang memikul, ada yang mengangkat, ada yang merampas, ada yang merampok).

Meskipun demikian tetap harus jaga tata krama dalam kehidupan. Jangan suka memfitnah nama orang, berbicara yang tinggi-tinggi apalagi membicarakan nama orang karena itu akan menghancurkan keharmonisan. Atau dalam analogi pertanian dituturkan dalam syair-syair:

Go ngaza ngata, Ma’e ngazo-ngazo, da kedhi laga lange, kau ma’e ngazo-ngazo. La’a su wae, Toke ma’e deke. Dua lau uma, su’a ma’e deke. Da la’a laza, mae punu go ngaza ngata, woe tuku dao go azo. (Nama baik seseorang, jangan difitnah, ketika melewati batas ladang, jangan bicarakan nama orang. Ketika mengambil air jangan tegakkan bambu air, bila pergi ladang jangan tegakkan tofa, ketika berada di  perjalanan, jangan membicarakan nama orang. Jangan sampai orang menangkap mulutmu).
(Tarian kegembiraan di acara Reba)
Ketaatan pada semua ini akan membawah berkah. Sili Ana Wunga akan melindungi keutuhan masyarakat jika menuruti ajarannya dan menjadi harapan bagi mereka yang terabaikan. Miu tede ne’e kedhi, hala ne’e banga, wi bo bhila tewu taba, wi fuke bhila mulu wae. Ulu wi mae mu. Kasa wi ma’e bana. ( Lindungi mereka yang kecil, jagalah semua anak-anak, agar bertumbuh bagai tebu subur, berkembang bagai pisang di tepi sungai, kepala tidak pening dan dada tidak panas).

Itulah rangkaian pujian yang dilantunkan pada pesta Reba yang semua dianalogikan dengan nilai dari tapak-tapak pertanian.

1 komentar: