| (Misa Syukuran Reba) |
PS (Bajawa) - Acara Reba yang
menjadi salah satu pesta adat terbesar di Kabupaten Ngada menampilkan dua
atraksi yang memukau yakni nyanyian dan tarian.
Acara yang biasa dilangsungkan
pada akhir tahun tepatnya di Bulan Desember dan awal tahun di bulan Januari
ditilik sebagai bentuk syukuran atas segala hasil panenan dan filosofi-filosofi
pertanian yang harus dihidupi oleh masyarakat
dalam bersikap.
Ditilik secara
etimologis, kata “reba” tidak memiliki arti dalam kehidupan masyarakat Ngada.
Nama ini merujuk pada pesta itu sendiri dan nama bulan ketika pesta itu
dirayakan. Pesta Reba selalu dirayakan tiap tahun dengan melewati rangkaian
acara yang khidmat dan diwarnai dengan mitis magis.
Karena akan ada
konseksuensi yang membahayakan jika tidak dirayakan secara benar. Salah satunya
akan membangkitkan angin topan yang bisa menjatuhkan sesuatu ke tanah terutama
tanaman. Kejadian ini kerap terjadi sehingga ketika terjadi topan orang
mengartikan sebagai wula reba-bulan
reba. Pernyataan ini sebenarnya menunjuk pada akibat yang disebabkan oleh
karena lalai merayakan pesta atau upacaranya.
Perayaan pesta reba
biasanya merujuk pada dua sentral kultus yakni bulan dan matahari. Penekanan
ini menunjukan kepada kita ketika pesta ini berlangsung yakni saat matahari
berada pada posisi paling selatan dalam bulan Desember sampai matahari berada
pada posisi paling tinggi di bulan Maret. Karena itu kelalaian pelaksanaan ini
akan mengakibatkan kemarau yang panjang.
Bulan juga
memainkan peranan penting sekalipun bukan peranan utama. Dalam perayaan ini
orang memakai bulan sebagai pedoman untuk upacara ini yakni oleh Ke”po We’su (orang yang bertanggung
jawab atas upacara reba).
Meskipun dalam
tradisinya terdapat pemahaman yang berbeda mengenai tradisi ini namun ada hal
unik dari semua ini yakni nyanyian yang dilantunkan dalam upacara ini. Nyanyian itu mengisahkan tentang sejarah reba
dan sosok yang menjadi sentral pujaan. Uniknya bahwa nyanyian itu dimulai
dengan hasil panenan yakni “Uwi”
(Ubi).
| (Pendarasan nyanyian "O Uwi") |
Karena itu bila
kita cermati secara baik syair-syair lagu yang dinyanyikan selama rangkaian
acara reba kita akan temukan satu sosok yang diagungkan di sana. Dia adalah Sili Ana Wunga. Dari beberapa rangkaian
nyanyian Su’i Uwi yang dilantunkan
untuk menghadirkan arwah yang telah meninggal maka kita akan ketahui kalau Sili Ana Wunga adalah putra sulung dari
Wijo dan Wajo, Teru dan Tena yang datang mengajar adat.
Uwi Go me sili Ana wunga, Wi mai nuka pera gua.Uwi go
Wijo ne’e Wajo. Uwi go Teru ne’e Tena. Pu’u zili Sina One. Pita ine dabe dia. (Ubi dari Sili Putra
Sulung, yang datang mengajarkan adat. Ubi dari Wijo dan Wajo, ubi Teru dan Tena
dari Cina pedalaman, mencari ibu terkasih).
Syair yang menjadi
awal lagu Su’i uwi ini menjelaskan siapa sebenarnya Sili
Ana Wunga. “Uwi” selalu memainkan peranan penting pada pesta reba meskipun
tanaman ini tidak mempunyai arti yang besar untuk kebanyakan orang Ngada. Padi,
jagung dan beberapa jenis tanaman jewawut merupakan makanan utama. Hal itu
mungkin mau menoreh sejarah masa lampau dari para leluhur bahwa ubi merupakan
makanan yang paling disukai.
| (Ubi dan beberapa hasil pertanian yang selalu menjadi bagian penting upacara Reba) |
Sosok Sili Ana Wunga
diyakini mampu membawa kemakmuran bagi masyarakat Ngada. Selain itu juga
mengajar sebuah peradapan yang tidak lekang oleh waktu. Semua harapan dan
ajaran itu didaraskan pada syair-syair lanjutannya yang semuanya berhubungan
dengan siklus pertanian. Sebagai sosok yang diidolakan dan dianggap membawa
berkah, Sili Ana Wunga dipercaya sebagai pribadi yang mampu membawa panen padi
yang berlimpah ruah. Bahkan dalam bahasa yang sedikit hiperbola mampu membuat
kepala orang tertunduk dan pungguk terbungkuk saat panenan:
Wi tu ne’e keke meze, wi pobha ne’e wole lewa, su’u ne’e
kulu gusi, dheko ne’e wini danga, su’u wi duku ruku, dheko wi dhero dhego. (Hantarlah padi berbulir-bulir serta jagung berbuah panjang,
junjunglah benih-benih yang baik, jinjinglah pula benih padi, junjung hingga
kepala tertunduk-tunduk, junjung hingga pungguk terbungkuk-bungkuk).
| (Makan dan minum bersama sebagai bagian dari syukuran) |
Tetapi perjuangan
untuk mencapai kemakmuran itu harus diwarnai dengan usaha yang tidak kunjung
lelah. Bahkan nyawa jadi taruhan. Ne’e da
wela. Ne’e da nawa, ne’e da su’u, ne’e da sa’a, ne’e da rebu dan ne’e da weda.
( Ada yang dibunuh, ada yang ditawan, ada yang memikul, ada yang mengangkat,
ada yang merampas, ada yang merampok).
Meskipun demikian
tetap harus jaga tata krama dalam kehidupan. Jangan suka memfitnah nama orang,
berbicara yang tinggi-tinggi apalagi membicarakan nama orang karena itu akan
menghancurkan keharmonisan. Atau dalam analogi pertanian dituturkan dalam
syair-syair:
Go ngaza ngata, Ma’e ngazo-ngazo, da kedhi laga lange,
kau ma’e ngazo-ngazo. La’a su wae, Toke ma’e deke. Dua lau uma, su’a ma’e deke.
Da la’a laza, mae punu go ngaza ngata, woe tuku dao go azo. (Nama baik seseorang, jangan difitnah, ketika melewati batas ladang,
jangan bicarakan nama orang. Ketika mengambil air jangan tegakkan bambu air,
bila pergi ladang jangan tegakkan tofa, ketika berada di perjalanan, jangan membicarakan nama orang.
Jangan sampai orang menangkap mulutmu).
| (Tarian kegembiraan di acara Reba) |
Ketaatan pada semua
ini akan membawah berkah. Sili Ana Wunga
akan melindungi keutuhan masyarakat jika menuruti ajarannya dan menjadi harapan
bagi mereka yang terabaikan. Miu tede
ne’e kedhi, hala ne’e banga, wi bo bhila tewu taba, wi fuke bhila mulu wae. Ulu
wi mae mu. Kasa wi ma’e bana. ( Lindungi mereka yang kecil, jagalah semua
anak-anak, agar bertumbuh bagai tebu subur, berkembang bagai pisang di tepi
sungai, kepala tidak pening dan dada tidak panas).
Itulah rangkaian
pujian yang dilantunkan pada pesta Reba yang semua dianalogikan dengan nilai
dari tapak-tapak pertanian.
Mantap ka'e sukses dalam berkarya,,,
BalasHapus